Sejak kecil kami tumbuh bersama. Ulang tahun di hari yang sama. Mengenal kesukaan dan hal yang dibenci satu sama lain. Hubungan tidak sedarah yang seperti sedarah.
Aku tidak berpikir memiliki perasaan khusus saat bersamanya. Tapi sebuah kejadian ya...
Seperti biasa. Setiap malam minggu, kita harus update cerita dulu nggak sih, biar nggak ada yang kurang gituh. Malam ini bakal panjang banget, karena total kata ada 3000++. Gumoh nggak lu!!!
Tapi jujur ya gaes, kalian tuh lebih suka panjang, apa pendek, apa medium aja sih? Komen di bawah yak.
Song : SUNMI - Crossroad
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*** happy reading***
.
.
.
.
So Eun terbangun dari tidur lelapnya. Bukan karena suara, bukan pula karena mimpi buruk. Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang bergolak hebat hingga membuat perutnya mual. Ia menggigit bibir, menahan rasa tak nyaman yang mendesak naik dari lambung.
Tak bertahan lama, dengan gerakan terburu, ia berlari ke kamar mandi. Tangannya bergetar saat meraih wastafel, sementara tubuhnya terbungkuk oleh dorongan muntah yang tak tertahan. Seketika rasa asam meledak di mulutnya kemudian.
Ia menyalakan kran air, berkumur beberapa kali dengan harapan sanggup mengusir jejak tidak enak yang tertinggal di lidah. Saat menegakkan kepala, pantulan wajah pucatnya di cermin terlihat semakin jelas.
Kembali ke kamar, So Eun merasa tenggorokannya kering. Namun gelas di meja nakas kosong. Maka dengan langkah lemas, ia keluar dari kamar, menuruni tangga menuju lantai utama.
Ruangan masih sunyi. Ia berjalan ke meja makan, meraih teko kaca, menuangkan air ke dalam gelas kosong yang ada di sana. Saat air memenuhi setengah gelas, tangannya terasa lebih tenang.
So Eun meneguk air perlahan, merasakan kesejukan yang mengalir melewati tenggorokan. Tubuhnya berbalik, berniat menyandar pada meja. Namun matanya bertabrakan dengan sepasang iris pekat di ruang tengah. Mematung. Sama sepertinya.
DEG!
Nafasnya tertahan. Waktu seolah membeku.
Tak jauh darinya, ia menjulang di sana dengan mata membulat sempurna.
Cho Kyuhyun.
Mereka saling menatap, membisu dalam keterkejutan yang sama. Wajah pria itu lebih tirus dari terakhir kali ia melihatnya. Dingin, kelam, tapi juga menyiratkan sesuatu yang tak mampu ia pahami.
Gelas dalam genggamannya terlepas.
PRANGG!
Bunyi pecahan kaca menggema di dalam rumah, menyigar keheningan yang sempat melingkupi mereka.
Seketika Kyuhyun tergerak. Dengan sigap menerjang mendekat, meraih pinggang So Eun sebelum kaki gadis itu menyentuh pecahan kaca yang berhamburan di lantai. So Eun nyaris berontak, namun tubuhnya lebih dulu didudukkan di atas meja makan yang kosong.