Sejak kecil kami tumbuh bersama. Ulang tahun di hari yang sama. Mengenal kesukaan dan hal yang dibenci satu sama lain. Hubungan tidak sedarah yang seperti sedarah.
Aku tidak berpikir memiliki perasaan khusus saat bersamanya. Tapi sebuah kejadian ya...
Malam ini rasa greget kalian bakal terobati yak. Satu per satu, tunggu aja part-part terbaru ke depan yak. Part ini nyari 3k kata. Kuharap bisa menemani waktu malam kalian, atau ada yang baca saat sahur. Boleh banget. Semoga bisa jadi teman baca yak.
.
Song : Sojeong - I'm Here
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Malam merayap dengan pasti, menelan sisa berkas jingga di langit barat, mengubah cakrawala menjadi hamparan gulita. Serumpun dengan kelam di luar sana, kamar itu pun turut diselimuti kepekatan yang nyaris utuh. Cahaya dari luar jendela hanya menyisakan remang samar, membentuk bayangan kabur di langit-langit.
Berbaring di atas ranjang, So Eun terpejam tenang, tubuhnya tenggelam dalam keheningan. Hanya kelopak mata yang menutup seolah lelap, pikirannya tetap terjaga, berputar tanpa henti.
Telinganya menangkap detak jam dinding, suara yang biasanya diabaikan kini terasa menggema, mencuri perhatian. Udara yang berhembus keluar dari lubang hidungnya sendiri pun terdengar begitu jelas menyigar senyap ruang. Sesekali di atas selimut, jemarinya bergerak gelisah.
Niscaya mata itu terpejam erat, kesadarannya tidak benar-benar lenyap. Suatu hal terasa mengganjal. Memandu akal untuk tetap terjaga. Sebab hati yang terus bertarung antara ingin melupakan dan mengingat itu tak ingin ditinggal sendirian.
Ketukan pelan di pintu membangunkannya dari 'tidur' yang dipaksakan. So Eun membuka mata lantas bangkit dari pembaringan, duduk di tepi ranjang ketika pintu kamarnya didorong dari luar.
Hana masuk dengan langkah hati-hati, membawa segelas susu di tangan yang sepintas mengepulkan asap saat tertimpa cahaya lampu dari luar. Aroma khas yang menyeruak ke udara seketika membuat perut So Eun bergejolak. Ia memejamkan mata, berusaha menahan rasa tak nyaman yang merayap naik ke tenggorokan.
"Bisakah aku melewatkannya untuk malam ini?" Suaranya mirip bisikan, mencoba bernegosiasi.
Hana tersenyum lembut. "Susu hangat akan mengurai ketegangan di perut."
"Aku tidak tahan dengan aromanya." So Eun mengeluh. Memalingkan muka menghindari mulut gelas.
"Coba minum sedikit." Hana membujuk, mendekatkan tepi gelas ke bibir So Eun. Tangannya yang lain mengusap punggung sang putri perlahan, berangsur-angsur sembari terus mencekoki So Eun dengan susu.
Satu teguk. Dua teguk. Berhenti di setengah tegukan ketiga, ia cukupi. Lebih dari itu, ia yakin perutnya akan meluap keluar. So Eun menjauhkan tangan Hana, sorot matanya memohon.
"Jauhkan itu dariku." Memelas.
Hana tak lagi memaksa, meletakkan sisa susu di nakas. Tangannya kembali membuat usapan, kali ini di surai So Eun yang tergerai sembari membantunya kembali berbaring. Memperbaiki letak selimutnya.