Sejak kecil kami tumbuh bersama. Ulang tahun di hari yang sama. Mengenal kesukaan dan hal yang dibenci satu sama lain. Hubungan tidak sedarah yang seperti sedarah.
Aku tidak berpikir memiliki perasaan khusus saat bersamanya. Tapi sebuah kejadian ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Sahut-sahutan kicau burung mirip nyanyian pagi, melantun riang di luar jendela. Bersembunyi di balik rindang taman kecil yang menghampar tepat di depan kamar. Sinar matahari menelusup masuk, malu-malu di sela tirai, menimpa wajah Kyuhyun yang menggeliat dalam selimut.
Matanya mengerjap perlahan, membiarkan cahaya pagi menyapa netra yang masih berembun. Beberapa detik berselang sebelum kesadarannya kembali utuh. Kepalanya menoleh, menemukan sisi ranjang yang kosong. Tidak ada So Eun di sana melainkan kekacauan: seprai kusut dan pakaian yang berceceran di ujung ranjang. Pemandangan itu seketika membawa kembali ingatan tentang 'aktivitas' semalam.
Kyuhyun mengangkat badan, duduk di tepi ranjang dengan separuh dada yang masih telanjang. Hela nafasnya terdengar panjang, membiarkan sisa kantuk pergi perlahan dari tubuhnya yang terasa lebih ringan pagi ini. Tapi sebelum ia benar-benar menikmati momen tenang tersebut, suara pintu kamar mandi yang terbuka sontak merenggut atensi, membuatnya menoleh.
So Eun berdiri di sana. Dalam balutan bathrobe putih yang menjuntai hingga lutut, rambutnya basah dan menempel di pipi. Kyuhyun tersenyum kecil. Meninggalkan ranjang, hanya dengan celana panjang, ia berjalan mendekat untuk menyambut istrinya ke dalam pelukan.
"Selamat pagi..." sapanya pelan, mengiringi kecupan lembut di puncak kepala So Eun yang mengeluarkan aroma harum manis.
Namun tubuh itu bergeming. Tidak ada balasan pelukan. Tidak ada gumaman manja atau sapaan malu-malu seperti biasa. Hanya diam. Kaku. Dingin.
Kyuhyun yang mencium kejanggalan pun menarik diri, mengernyit menemukan wajah pucat istrinya yang tampak jauh dari kata tenang.
"So Eun-ah..." panggilnya, pelan tapi sarat khawatir. "Apa yang terjadi?"
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Matanya basah. Ketakutan.
Kyuhyun melihatnya berkaca-kaca. Seolah ada gelombang besar yang siap menerjang. Dan ketika suara So Eun akhirnya pecah, dunia Kyuhyun turut runtut bersamanya.
Suaranya serak. "Oppa..." Kyhyun tak punya waktu untuk mengagumi panggilan baru itu karena suasana tegang yang terlalu kental. "Ada darah... yang keluar."
Air mata mengalir begitu saja layaknya bendungan yang jebol tiba-tiba. Tubuhnya bergetar hebat.
Ketenangan pagi itu ambruk. Jatuh. Retak. Menguap.
Darah.
Satu kata yang cukup menikam jantung Kyuhyun hingga rasanya sempat berhenti berdetak sejenak. Ia membeku. Satu-dua detik tubuhnya tak mampu merespons. Otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar. Tapi ketakutan dalam mata So Eun menamparnya begitu keras. Menyadarkan.