CHAPTER 11

123 8 0
                                        


Hai readers aku kembaliii gimana udah pada penasaran belum nihh sama episode ini, kalok penasaran dan mau baca jangan lupa ya Vote & Comenya🫶🏻🙂‍↕️





"Ah…kau hampir terluka"ucap Alexs melihat kearah lubang yang terbentuk karena terkena peluru.

Rhapaelo terdiam dan memeluk anak kecil yang awalnya ingin ditembak oleh Alexs, dengan tubuh gemetar jika saja Alexs tak mengubah arah tembakanya pasti peluru itu sudah mengenai dirinya yang sedang melindungi anak kecil yang ingin ditembak oleh Alexs.

Tak lama kemudian Rhapaelo melepaskan pelukanya dan mengecek kondisi anak kecil yang dia lindungi, anak itu menangis serta langsung lari meninggalkan Rhapaelo dan Alexs karena takut.

"Apa yang kaulakukan, kenapa kau ingin menembak seorang anak kecil?"ucap Rhapaelo dengan nada penuh amarah setelah melihat anak kecil itu lari menjauh dati dirinya sembari menangis tersedu - sedu.

"Dia mencoba untuk menyentuhku"ucap Alexs sembari menyimpan kembali pistol miliknya ke dalam mantelnya.

"Anak itu hanya berlarian dan tak sengaja menyenggolmu dan kau langsung menodongkan pistolmu kearahnya, apa kau gila"ucap Rhapaelo mengepalkan tanganya karena marah.

"Aku tak mengerti kenapa kau menyalahkanku, tapi aku melakukan yang seharusnya kulakukan"ucap Alexs dengan ekspresi bingung.

Alexs merasa kebingungan dengaan sikap Rhapaelo yang menyalahkan dirinya karena sudah menembak kearah anak kecil tadi.

"Tapi dia hanya seorang anak kecil!!?" Ucap Rhapaello dengan ekspresi yang masih tak percaya.

"Anak kecil atau bukan, bukankah itu sama saja?" jawab Alexs dengan wajah dingin nya dan sikap acuh tak acuhnya terhadap anak kecil yang sudah melarikan diri.

Mata Rhapaello membulat setelah mendengar ucapan yang baru saja dikatakan oleh Alexs, bagaimana bisa dia mengatakan hal yang begitu kejam.

"Sekarang menyingkirlah pengacara, aku harus mencari anak itu" ucap Alexs yang berjalan melewati Rhapaello untuk mencari anak kecil yang sudah mencari gara - gara dengan dia.

Rhapaello yang geram pun berjalan dan menghadang Alexs dengan tubuh nya, jarak mereka berdiri sekarang sangat dekat.

"Untuk apa kau mencarinya…, jika kau pergi hanya untuk menembaknya, lebih baik kau tembak aku saja" ucapnya dengan wajah kesal dan menempatkan kepalan tanganya tepat di jantungnya.

"Apa yang kau katakan?" Jawab alexs dengan alis yang terangkat sebelah, mempertanyakan apa yang baru saja Rhapaello katakan.

"Bukankah kau ingin menggunakan pistol yang kau simpan di mantelmu tadi untuk menembaknya, tembak saja aku dulu" kata Rhapaello dengan nada yang sedikit tinggi.

Setelah mendengar perkataan dari Rhapaello Alexs hanya terdiam sejenak kemudian, mengulurkan tanganya ke kepalan tangan Rhapaello.

Alexs dengan lembut membuka kepalan tersebut agar Rhapaello tak melukai dirinya sendiri, kemudian Alexs membungkuk dan mengambil buku yang tak sengaja terjatuh tadi.

"Ini, jika kau sampai kehilangan ini kau tak bisa belajar memperbaiki penampilan masakanmu" ucapnya memberikan buku yang dia ambil barusan

Rhapaello benar benar kesal dengan apa yang telah dia lihat saat ini, orang yang saat ini didepanya yang beberapa waktu lalu masih menodongkan pisto ke seorang anak kecil tetapi sekarang dia malah memberikanya bukunya yang jatuh dengan santay seperti tak terjadi apa - apa.

"KAU…KAU…!!, kau menodongkan pistol pada anak - anak begitu santai, bagaimana kau bisa tak tahu malu" ucap nya berteriak dengan wajah yang memerah karena terlalu marah ke Alexs.

Perfect Love [BL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang