*Sigh* haaahh..... ya halo, apa kabar manis manis ku?
Aku kurang semangat jujurly, tapi memaksakan tetap update soalnya kalau enggak di paksa, ya, aku gatau bakal kapan updatenya.
Jangan panggil author, thor, atau kak dong~ sekali-kali aku pingin di panggil mimel, hehehe:D
Happy reading😉♥️
°~•~•♡•~•~°
Beberapa hari kemudian, malam usai perjamuan . . . . .
Leah menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata tenang yang jernih. Sudah lama dia tak merasakan perasaan seperti ini, perasaan begitu tenang hanya dengan melihat seseorang.
Seulas senyuman terukir manis, dia menunduk sembari memegang helaian rambut peraknya. Countess Melissa berdiri dibelakang Leah, sedang menyisir rambut gadis itu.
Swaaaa~
Dua perempuan segera menoleh ke arah balkon yang terbuka sampai mengeluarkan bunyi. Angin berhembus kencang malam ini.
"Haruskah saya tutup pintunya?" tanya Countess Melissa.
Gadis mata ungu menggeleng lembut, "tidak apa-apa, nanti aku akan menutupnya sendiri."
Tak lama setelah selesai menyisir rambut Leah, wanita paruh baya itu berpamitan dan keluar dari kamar. Pintu ditutup, Putri Leah berdiri ditempatnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengambil langkah lain berbelok dari tempat tidurnya.
Menuju balkon sambil memperbaiki letak syal-nya, Leah berlarian kecil kemudian tersenyum sumringah.
"Aily!"
Dipanggilnya nama si empu, kepala surai merah langsung menoleh ke arah putri Leah. Sebelumnya menunggu di tepian pagar balkon menggunakan sihir tak terlihat.
"Halo, Tuan Putri."
Pelukan rindu nan penuh kasih sayang segera menyerbu [Name]. Si mata merah terkekeh saat Leah memeluknya begitu sayang, seolah sudah tidak bertemu sekian tahun lamanya.
"Ini yang terlama dari yang sebelum-sebelumnya, apa ada sesuatu yang terjadi?" Leah meluruh pelukan mereka, namun tetap tidak menjauh.
Sekali lagi [Name] terkekeh tapi kali ini kekehan gugup. Memang bukan kali pertama dia menghilang berhari-hari, Leah tampaknya sudah terbiasa dengan hal itu, namun ini yang paling lama.
Bagaimana harus menjelaskannya? Masa [Name] harus jujur kalau seorang pria besar baru-baru ini melahap dirinya tanpa ampun?
"Yah . . . . tidak ada hal yang begitu serius terjadi. Saya hanya melakukan sedikit perjalanan, putri tahu saya seorang penyihir dan penyihir suka mengumpulkan hal-hal spesial." [Name] mengedipkan sebelah matanya.
Mendapat penjelasan yang menurutnya cukup, Leah mengangguk-angguk. Tak terlalu penasaran tentang hal-hal spesial apa yang [Name] bawa pulang-- Leah sudah pernah melihatnya.
Mereka beralih berjalan memasuki kamar Leah, dengan gadis mata ungu yang bergelayut di lengan [Name]. Sepertinya, Tuan Putri memiliki banyak kata yang ingin disampaikan kepada [Name].
Jadi, ketika mereka sudah duduk nyaman di sofa, [Name] tak berlama-lama untuk kemudian bertanya.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Putri? Malam itu, apa terjadi sesuatu?"
Sorot mata ungu milik Leah berubah sendu, tetapi senyuman manis masih ada.
"Aily, aku . . . aku tidak mau mati," Leah menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imbalance [PM Fic]
Historia CortaPredatory Marriage x Readers. Tatapan mata emas mengarah pada helaian merah mawar yang melambai tertiup angin. Padang pasir dengan angin semilir menerpa sosok cantik nan molek itu. "Isha." Tersenyum, bibir semerah ceri itu mengukir senyuman manis. B...
![Imbalance [PM Fic]](https://img.wattpad.com/cover/373976869-64-k315958.jpg)