Satu hari berlalu, setelah kejadian beberapa waktu lalu yang membuat suasana di antara Sky dan keenam saudara sambungnya kini terasa sedikit canggung terkhusus antara Sky dan Raffa. Dengan Raffa yang terkesan selalu menghindar dan selalu menjauh sementara Sky yang tidak tahu harus bersikap seperti apa akan sikap Raffa yang terus-menerus menjaga jarak dengan dirinya seusai obrolan yang tidak berakhir baik satu hari lalu.
Pagi itu Sky, Rasha dan Ragan yang masih libur pasca ujian tentu menjadi anggota keluarga yang masih tinggal di rumah di saat anggota keluarga yang lain telah pergi untuk menyelesaikan urusan mereka. Biasanya, sebelum kejadian kemarin pagi di waktu seperti ini Rasha akan datang ke kamar Sky untuk mengajaknya melakukan sesuatu atau untuk sekedar berbagi obrolan. Kemudian saat obrolan mereka berakhir dengan membuat keputusan untuk pergi ke suatu tujuan maka mereka akan menghampiri Ragan di kamarnya dan mengajaknya untuk pergi bersama. Namun hari ini semuanya terasa begitu berbeda, seperti kembali ke awal-awal perkenalan mereka dulu dimana mereka justru menghindari interaksi.
Di dalam kamar, Sky tampak sedang menyirami kedua sukulennya dengan alat penyiram khusus, salah satu rutinitas yang dilakukannya sejak lama dengan senang hati sebab selalu berhasil menghantarkan ketenangan untuknya kala pikirannya sedang dilanda kekhawatiran. Namun berbeda untuk kali ini, ia seharusnya bisa merasakan euphoria yang sama seperti saat melakukannya sebelumnya namun sayangnya kali ini tidak begitu. Dibanding merasa tenang, Sky justru terdiam menatap kedua tanaman itu dengan tatapan kosong seakan kesadarannya sedang berada di tempat lain. Hal itu membuatnya tanpa sadar menuang terlalu banyak air pada tanamannya hingga air hampir menggenangi pot kecil itu.
"Kak? Kak El? Kak!" Terkesiap, guncangan pada bahunya berhasil membawa Sky kembali ke kesadarannya sekaligus membuatnya tanpa sadar menyenggol kedua pot kaktusnya hingga air yang sebelumnya menggenangi tanamannya kini mengalir membasahi meja.
Sky menoleh dengan ekspresi terkejut sembari tangannya cepat-cepat memperbaiki posisi kedua pot kaktusnya seperti semula.
"Pot nya udah kepenuhan air." Ragan sebagai sosok yang menarik kesadaran Sky dari lamunan kembali menarik lengan Sky agar menjauh dari meja agar tidak terkena tumpahan air yang kini mulai menetes ke lantai.
Sky dengan wajah linglung menatap tumpahan air dan wajah Ragan bergantian, sebelum ia akhirnya benar-benar menyadari situasi dan berakhir dengan mengusap wajahnya dengan perasaan keliru. "Sorry." gumamnya pelan dengan hembusan napas dalam.
Membuat Ragan hanya bisa terdiam menatapnya dengan tatapan ragu-ragu.
"Lo oke, Kak?" tanyanya sambil menarik tangan yang lebih tua agar duduk di sofa sebelum ikut mendudukkan dirinya di samping sang Kakak.
Sky tersenyum kecil saat matanya bersitatap dengan si bungsu. Tangannya ia gerakkan untuk memberikan tepukan pelan di puncak kepala Ragan. "Gue pengen bohong tapi lo udah jadi saksi matanya." Walau tenang namun nadanya kian terdengar lirih di akhir membuat tatapan Ragan seketika berubah sendu.
"Maafin Kak Raffa, ya, Kak? Dia biasanya gak kayak gitu, gue juga belum pernah liat dia kayak gitu sebelumnya. Mungkin, itu karena di antara kita berenam dia orang yang paling takut kalo lo pergi." ucapnya pelan dengan suara lembut dan sehalus mungkin. Walau begitu akhir kalimat yang terdengar lirih seketika membuat perasaannya gagal untuk disembunyikan.
Sky hanya tersenyum sayu. Ia tahu itu, ia tahu Raffa memang tidak berniat untuk menyakiti perasaannya, bahwa saat itu Raffa sedang berada di luar kontrol dirinya. Namun, tetap saja semua yang terjadi kemarin menimbulkan rasa bersalah yang amat di dalam hatinya. Seharusnya ia bisa lebih tenang saat Raffa mulai kehilangan kontrol dirinya, namun bukannya menenangkan Raffa ia justru malah ikut kehilangan kontrol dirinya. Mungkin ialah yang menciptakan kecanggungan di antara mereka saat ini dikarenakan sikapnya kemarin. Sky sungguh sangat menyesali hal itu namun di sisi lain, ia tidak bisa berbohong bahwa kemarin hatinya terasa sangat sakit-bahkan sampai saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY
FanficRumah seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang bagi semua orang, tetapi jika rumah yang dimaksud tidak bisa memberikan kenyamanan yang seharusnya apakah masih pantas menyebutnya sebagai sebuah rumah? Ditinggalkan untuk pertama kalinya membua...
