Angel mengantar Sky kembali ke kediaman keluarga Alatas setelah mereka makan siang. Setelah mengantar Sky hingga ke depan pintu, Angel harus kembali pergi karena masih memiliki banyak urusan yang perlu diselesaikan terutama tentang perusahaan yang telah ditinggalkannya selama hampir dua tahun.
Setelah mobil Angel menghilang dari pandangannya, barulah Sky berjalan masuk ke dalam rumah. Mengingat ini adalah siang hari, bukan sesuatu yang membingungkan saat ia tidak mendapati siapapun di ruang tamu. Mungkin hanya Rasha dan Ragan yang berada di rumah saat ini, itupun jika mereka tidak memiliki suatu kepentingan di luar rumah seperti anggota keluarga yang lain.
Sky berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air dingin dan saat ingin keluar ia berpapasan dengan Raja yang baru datang lengkap dengan pakaian kasualnya. Sepertinya Raja baru saja kembali dari kampus atau sekedar bertemu dengan teman-temannya di luar rumah.
Saat pandangan mereka bertemu keduanya sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama. Raja yang terus menatap mata Sky tanpa gentar dan Sky yang bisa merasakan perasaan kesal dan kecewa yang tersirat dalam tatapan Raja membuatnya merasa semakin bersalah dan sedih.
"Kak-"
"Apa lo udah gak anggep gue Kakak sampe ngerencanain mau pergi tanpa ngomong apa-apa sama gue?" Suara dingin Raja mengalun tenang tanpa emosi. Walau begitu ucapannya tetap berhasil membuat Sky tersentak menatapnya ragu-ragu.
"Kak Raja... Udah tau?" tanyanya ragu dengan tatapan bersalah.
"Harus ya gue tau dari yang lain? Bukan langsung dari lo? Informasi sepenting lo bakal pergi dari sini harus gue dengar dari orang lain? Kenapa, El? Apa karena orang tua kita cerai jadi gue bukan siapa-siapa lagi buat lo? Atau lo emang berniat pergi tanpa pamit?"
"Nggak, Kak. Gue gak berniat pergi tanpa pamit tapi gue-gue cuma bingung gimana nyampein tentang ini ke kalian semua karena gue tau ini bukan berita yang baik buat kita. Gue berniat buat ngomong malem ini tapi..."
"Malem ini dan lo udah mau pergi besok pagi. Berarti gak bakal ada waktu buat kita nyari cara buat nyegah lo pergi. Apa itu juga disengaja?"
"Emang masih ada cara buat nyegah semua ini, Kak? Kalo emang ada... Gue juga berharap ada cara yang bisa cegah semua ini tapi nyatanya sampe hari ini belum ada yang nemuin cara itu." cicitnya sendu dengan tatapan letih.
"Bukannya lo bilang masih ada satu cara yang bisa cegah Papa dan Bunda lo buat pisah?"
"Iya tapi it-" Ucapannya seketika terhenti. Sky terdiam menatap raut dingin Raja dengan tatapan tegang. "Apa... Maksudnya..." gumamnya lirih.
Raja berjalan mengikis jarak di antara mereka hingga kini mereka berdiri saling berhadapan. Raut wajahnya yang semula dingin kini menampilkan senyum hangat yang begitu tulus, matanya menatap Sky dengan penuh rasa sayang. "Gue gak tau gimana sama yang lain, tapi satu yang harus lo tau kalo gue siap lakuin apa aja buat usahain lo tetep tinggal di sini bareng kita. Sekalipun itu buka lembaran baru dengan sosok Ibu baru sekalipun, apapun itu bakal gue lakuin, El."
"Kak Raja... Terima Bunda??"
"Gue mungkin belum bisa anggap Bunda lo sebagai sosok Mama tapi paling nggak gue bisa nerima Bunda lo sebagai istri Papa. Dengan begitu waktu dimana gue bisa anggep Bunda lo sebagai pengganti Mama juga pasti akan dateng cepat atau lambat." terang Raja jelas tanpa keraguan sedikitpun.
"Kak Raja terpaksa?"
"Iya. Karena lo, gue maksa diri gue sendiri demi lo. Tapi bukannya dulu semua orang awalnya emang terpaksa? Gue dulu juga terpaksa nerima lo di sini sampe akhirnya gue beneran bisa anggep lo bagian dari keluarga Alatas tanpa paksaan lagi dan dulu bukannya lo juga terpaksa dateng ke rumah ini, 'kan? Tapi liat sekarang, lo jadi orang yang rasa sayangnya paling besar ke kita. Apa yang salah dari kata terpaksa itu? Selama gak gue lakuin karena paksaan dari orang lain, gue yakin keterpaksaan gue hari ini bakal jadi salah satu hal yang paling gue syukuri di masa depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY
FanfictionRumah seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang bagi semua orang, tetapi jika rumah yang dimaksud tidak bisa memberikan kenyamanan yang seharusnya apakah masih pantas menyebutnya sebagai sebuah rumah? Ditinggalkan untuk pertama kalinya membua...
