29. Yeah, We Are Family.

7.2K 477 521
                                        

"Apa kamu sering mengalami mimisan seperti tadi, Sky?"

Sky yang masih memegang tissue bernoda darah di tangannya sejenak terdiam kala pertanyaan yang sejujurnya tidak ingin dijawabnya mengudara dari sang Dokter.

"Tidak sering Dokter, hanya sesekali dalam satu atau dua minggu."

"Itu termasuk sering Sky dan kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Saya khawatir terjadi penyumbatan arteri, juga mengingat kondisi kamu rentan mengalami komplikasi. Kita harus sigap mengambil tindakan cepat dalam masalah sekecil apapun."

"Kamu tahu sendiri bahwa kondisi kamu harus tetap stabil sampai beberapa tahun ke depan agar operasi bisa dilaksanakan tanpa menunda lebih lama lagi."

"Sebenarnya saya mengalami sedikit gangguan tidur yang membuat waktu tidur saya agak sedikit terbatas, mungkin itu salah satu penyebab saya mengalami mimisan," ungkapnya setelah cukup lama menimbang.

"Kamu mengalami gangguan tidur lagi? Lalu kenapa tidak segera memeriksakan diri kemari? Bulan ini kamu bahkan sangat terlambat memenuhi jadwal check up Sky. Saya tahu kepergian Tuan Xaverius membuat kamu sangat terpukul, tetapi jadwal check up yang ditetapkan untuk kamu jauh sebelum hari kepergian Tuan Xaverius dan kamu tidak datang, setelah rumah sakit mengirim surat pemberitahuan kamu juga tidak langsung kemari, Sky. Kamu tahu kondisi kamu bukan main-main bukan? Nyawa kamu bisa terenggut kapan saja, Sky."

Kalimat tegas sang Dokter membuat Sky tak bergeming. Pemuda itu terdiam dengan tatapan lelah, pikirannya membawanya kembali pada hari setelah insident pertengkarannya dan Rasha malam itu. Sehari setelah insiden itu ia memang seharusnya mendatangi Rumah Sakit untuk memenuhi jadwal check up yang telah ditetapkan sejak bertahun-tahun lalu untuk dirinya. Namun hari itu jangankan untuk pergi memenuhi jadwal check up, semua masalah yang menghampirinya secara bertubi-tubi membuatnya sama sekali tidak ingat tentang adanya jadwal check up yang harus dipenuhinya disetiap bulannya. Ada saja masalah baru yang harus dihadapinya bahkan sebelum masalah yang lama terselesaikan, hal itu membuatnya bahkan tidak ingat untuk memikirkan diri sendiri.

Ia bahkan tidak tahu akan mengalami mimisan di langkah pertama ia memasuki ruangan pribadi Dokternya ini.

"Maaf, Dokter. Beberapa masalah membuat saya tidak terlalu memperhatikan diri sendiri, tapi saya akan berusaha untuk datang tepat waktu bulan depan."

Tidak banyak kata yang bisa Sky ucapkan sebab sadar dirinya memang bersalah. Dan tidak mungkin juga untuk menjelaskan setiap alasannya dengan menjelaskan kejadian apa saja yang telah dilewatinya dibalik dinding kokoh kediaman keluarga Alatas itu. Pointnya hanya satu bahwa ia memang melakukan kesalahan sebab bersikap lalai dan dibanding menyangkal tentu lebih baik untuk langsung mengakui kesalahan dibanding menyangkal dengan berbagai alasan yang justru hanya akan menimbulkan keraguan di dalam hati orang lain.

"Saya maafkan mengingat ini kali pertama kamu melewatkan jadwal walau itu hampir satu bulan lamanya. Semoga hal ini tidak terulang lagi, karena ini untuk keselamatan kamu sendiri Sky."

"Terimakasih, Dokter."

"Kalau begitu sebaiknya kita lakukan pemeriksaannya sekarang. Mari lakukan pemeriksaan X-Ray pada kepala kamu seperti biasanya terlebih dahulu, saya harap kali ini kamu tidak mengalami benturan di kepala lagi yang dapat menggeser posisi peluru di dalam kepala kamu dan membahayakan nyawa kamu, Sky."

"Mari, Dokter."

"Setelah itu saya ingin mendengar tentang kondisi gangguan tidur yang kamu alami agar kita bisa melakukan penanganan dan agar mimisan kamu tidak terus menerus berlanjut karena hal itu bukanlah pertanda yang baik."

Sky mengangguk pelan sedikit ragu. "Saya mengerti." ucapnya sebelum keduanya bangkit berdiri untuk segera pergi ke ruang khusus untuk pemeriksaan menyeluruh sebagaimana yang biasanya Sky lakukan di setiap bulannya.

SKYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang