Namun suaranya yang hampir tidak terdengar itu, tidak juga mendapatkan sahutan dari sang empunya. Kondisi nya saat ini tak baik, ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh hingga lebih dari 38°C. Normalnya, suhu tubuh berkisar antara 36,1°C sampai 37,2°C. Jeihan berulang kali memanggil Taehyung namun hasilnya tetap nihil.
Saat ini Taehyung sedang tidak berada di rumah, pagi-pagi buta ia berangkat bekerja. Sebelum berangkat ia menitipkan kedua anaknya kepada sang pembantu.
"Bi, tolong jaga anak-anak, hari ini aku mendadak harus pergi meeting. Untuk susu baby mungil ada di kulkas khusus seperti biasa " jelas Taehyung dan sang pembantu mengiyakan ucapan majikannya itu. Barulah setelah itu ia pergi dengan lega.
Tak kunjung mendapatkan sahutan, dengan tubuh yang lemas Jeihan mengambil handphone nya diatas meja menelpon Jeongguk. Dering pertama dan dering kedua sama tak mendapat jawaban apapun. Jeihan pingsan dan tak berselang lama tubuhnya mendadak kejang.
Bibi Jang yang bertugas membangunkan Jeihan terkejut. Segera berlari menghampiri anak majikannya itu. Dering telepon mengganggu keduanya, kepanikan pun terjadi. Jeongguk yang kebetulan memarkirkan mobilnya tidak sengaja mendengar teriakan. Ia berlari ke sumber suara. Note: handphone nya Jeongguk mode silent.
"Jeihan" panggil Jeongguk melihat kondisi anaknya.
Dengan tenang Jeongguk memindahkan tubuh Jeihan ke tempat tidur, ia langsung menyingkirkan benda benda yang memiliki potensi berbahaya, kemudian ia melonggarkan pakaian anaknya terutama dibagian leher, setelah itu ia memposisikan tubuhnya menyamping tujuan nya agar ia tidak tersedak, Jeongguk mengamati perkembangan putranya dan melihat berapa lama kejang nya berlangsung. Normal nya kejang anak hanya berlangsung 5 menit. Namun sebaliknya Jeihan masih mengalami kejang-kejang yang parah, tubuhnya mulai membiru dan jelas putranya kesulitan bernafas. Segera setelah itu Jeongguk pergi ke rumah sakit terdekat.
Didalam mobil ia benar benar panik, tubuhnya gemetaran, tetapi ia harus tenang dan berhati hati dalam mengemudi. Sesampai nya di rumah sakit, dokter segera menangani putranya.
Disudut ruangan Tak satupun pandangan beralih menatap kondisi putranya.
"Ada apa dengan nya bi?" tanya Jeongguk.
"Tidak tahu tuan, saya baru saja ingin membangunkan tuan muda, tapi kondisinya sudah seperti itu "jelas pembantu tersebut.
Jeongguk mengerti dan membiarkan nya untuk pergi. Kebetulan hari ini adalah hari libur. Jeongguk berniat mengajak anaknya untuk pergi ke taman dan berjalan jalan ketempat rekreasi baru.
"Kamu pulang dan Siapkan semua perlengkapan dan peralatan bayi, biar aku yang mengurus anak anak" perintah Jeongguk.
"Baik tuan" jawabnya.
Diruang perawatan Jeongguk mendengar penuturan sang dokter.
........
"Saya yakin project ini akan sukses tuan Taehyung " mendengar itu Taehyung tersenyum.
"Ini yang saya harapkan tuan Hansol" tutur Taehyung.
Kerja sama keduanya pun berjalan dengan baik. Taehyung dan rekan setimnya itu pun langsung membahas projek selanjutnya.
........
Masih dirumah sakit yang sama, Jeongguk setia menunggu putranya bangun. Digendongan nya ada baby mungil yang tertidur pulas. Jeongguk menitikkan airmata, ia diam dan menahan perasaan cemasnya. Bohong jika saat ini ia tidak takut. Ia benar benar mengkhawatirkan putranya.
Baby mungil digendongan Daddy nya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memang tidak pantas baginya menjadi seorang ayah, dulu ketika Jeihan sakit ia mengabaikan nya, dan membuat Taehyung mengurus semuanya sendirian. Sekarang ia paham perasaan Taehyung dan sedalam apa luka yang istrinya rasakan saat itu. Jeongguk lagi lagi menangis sampai airmata nya mengenai pipi baby mungil. Baby mungil terusik dan merengek. Jeongguk mengayunkan tangannya menenangkan baby mungil, segera setelah itu ia tertidur kembali.
Katakan ia egois, ia benar benar ingin kembali bersama istri dan anak-anaknya. Menebus kesalahan dan dosanya. Pikiran Jeongguk kacau, perasaannya benar benar meluap luap. Ia ingin segera kembali ke anak dan istrinya. Membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia.
"Cucu ku?" Panggil seokjin panik menatap Jeihan.
Seokjin tiba tiba datang, pembantu yang mengangkat telpon memberitahu kan semuanya. Jeongguk yang melihat itu menyapa seokjin.
"Hyung, kau datang" ucap Jeongguk.
Seokjin yang melihat kondisi adiknya tak tega. Dilihatnya Jeongguk habis menangis, ia tak suka melihat adiknya saat ini. Jelas jelas ia tidak terlihat seperti manusia, wajahnya pucat, semburat cemas dan takut tergambar di wajahnya.
"Sini! Kemarikan baby mungil, biar Hyung yang menggendongnya" tawar seokjin.
"Biarkan seperti ini Hyung, aku masih ingin menggendongnya" tolak Jeongguk.
Dimata seokjin saat ini adiknya benar-benar kacau, lengan baju yang disingsing dan dasi yang berantakan, terlepas dari itu namun gerakannya yang telaten lembut dan halus ketika menggendong baby mungil cukup menandakan bahwa ia benar-benar sosok seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya.