Bertemankan Bi Esih, di rumah malam-malam, Alna kalau tak malas gerak keluar kamar, laparnya yang akan membuat dia lebih tak bisa hidup tanpa Bi Esih. Saat panggilan telepon tak nyambung-nyambung, suara Alna bisa mengguncangkan rumah sebesar itu. Mau selama apapun Alna tak akan berani turun ke dapur sebelum mendengar sahutan dari Bi Esih.
Biasa sambil menunggu Bi Esih menyiapkan makanannya, obrolan ringan pun turut mengalir. Selama ada yang bisa menemani makan, Alna pasti lebih milih supaya ditemani sampai selesai. Jarang sekali Alna makan sendirian.
Mengobrol dengan Bi Esih itu sama seperti mengobrol dengan orang tua yang bisa menjadi orang tua. Dia bisa jadi teman. Konsultan. Juru masak yang handal. Apa saja diupayakannya sekemampuannya dia dengan hati yang benar-benar luar biasa. Yang bisa dirasakan tanpa perlu capek-capek membanggakan diri panjang kali lebar.
"Tapi tiap kesini dia nggak kayak yang seheboh yang Non bilang sih ya. Malah kayak yang kalem-kalem gitu anaknya. Baik. Sopan. Bicaranya juga lucu dia. Satu banding seribu lho ada anak cowok kayak begitu jaman sekarang, Non. Beneran lagi pinternya tuh kan. Nggak keliatannya doang. Hitam juga hitam manis dia. Bagus senyumnya."
"Bibi udah kesukaan duluan sih itu sama si Abu-Nya. Nggak bakalan kebayangin-kebayangin jadinya dia bertingkahnya bisa gimana aja. Kalemnya tuh penglaris doang. Aslinya lagi tidur doang dia diamnya." Kalau sudah bahas-bahas seputar persekolahan, tentang Abu di kepala Bi Esih pasti tidak akan terlewatkan menjurusnya. Berulang kalipun, Bi Esih tak ada kata bosan berhenti di Abu. Mengingat memang teman SMA laki-laki Alna yang sudah pernah bertemu langsung dengan Bi Esih dan mudah sekali akrabnya baru Abu orangnya.
"Justru seru. Sama dia jadinya kan bisa ketawa terus itu." Tidak mudah dirusak sekali bayangan tinggi Bi Esih terhadap Abu ini.
"Kalau lagi jadi sama-sama pelaku, ya iya. Kalau lagi jadi korban pengin nampol mah tetap aja ada, Bi."
Bi Esih hanya tertawa tipis. Makanan sudah siap santap tanpa terasa. Namun, Bi Esih tak ikut makan karena sudah makan duluan selagi Alna masih asik berselancar di sosial medianya. Lantas di tengah keheningan yang menonjolkan bunyi kriuk-kriuk kerupuk yang Alna kunyah, samar-samar suara derum kendaraan terdengar dari depan. Alna dan Bi Esih sama-sama dihinggapi tanda tanya. Membuat Bi Esih beranjak untuk memastikannya.
Dan tak lama, Alna tau juga siapa yang datang, hanya dari lengkingan suaranya saja. Eshal dengan tas sekolah, buket cokelat serta sebuah kado yang terbungkus rapih langsung menghampiri Alna penuh semangat.
"Buat gue?"
"Yap."
"Dari lo?"
"Dari tangan gue kan lo nerimanya?"
"Dalam rangka?"
"Hari ini gue ngungsi disini. Boleh kan?"
Alna ragu-ragu menerima buket cokelat dan kado berukuran sedang itu, "Ya—bolehlah. Tapi ini ... Apa nih? Tumben-tumbenan banget lho ya manusia super hemat mampus kayak situ mau buang-buang duit buat ginian."
Eshal tergelak, "Nggak keluar duit sepeserpun kok dari saku gue. Orang gue cuma jadi kurir doang dari depan sampai ke sini."
"Kan." Alna tau pasti. Ketika ulang tahun saja, tak pernah Eshal sampai sebegininya. Dan sekarang, tidak ada angin, tidak ada hujan datang-datang ia bawa bawaan yang tidak masuk akal jatuhnya. Berusaha mengorek keterangan soal siapa yang telah mengamanahi Eshal demikian. Tapi Eshal justru malah asik menggoda Alna mengikutsertakan Bi Esih di dalamnya.
"Kasih tau nggak ya, Bi? Dari cowok lho itu, Bi. Ganteng banget lagi. Semobil-mobilnya. Sayang banget sih Bi Esih nggak keburu liat tadi." Kompor sekali anak itu. Dia tetap tutup mulut dengan dalih nanti Alna pun akan tau dengan sendirinya. Katanya Alna kenal dengan orangnya dan itu semakin memupuk rasa penasaran Alna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di S5
Teen FictionDuduk bersama dan membicarakan banyak hal. Menyantap bekal makan siang pada jam istirahat dengan persatuan lauk pauk yang beragam dalam satu perkumpulan melingkar. Lelucon demi lelucon menyenangkan, lengkap dengan segala penyokong yang berkilauan. S...
