Bagian 8

4 1 0
                                        

"Ada yang lagi cerah banget nih wajahnya, jadi makin cantik aja," sanjung Bi Esih sambil menyodorkan sepiring potongan apel pada Alna.

"Hati kayak berasa lagi lapaaang banget tau, Bi. Dibilang nggak ada beban, ada sih, masih padahal. Tapi nggak tau ya, tiba-tiba lega aja gitu rasanya, ringan. Seneng. Pengin senyum terus bawaannya, nggak tau karena apa-apanya. Senengnya tuh bukan yang karena segala urusan sekolah udah balik aman damai adem ayem lagi atau hal lainnya yang sama membaiknya gitu, nggak. Bukan lho, Bi. Bukan karena itu semua. Tapi si senengnya tuh yang meluap-luap banget, aslinya," ungkap Alna, sungguh-sungguh. "Dibilang ada kesalahan teknis, lah yang ngaturnya maha segalanya, kan? Jelas mustahil kena kekeliruan dong ini seneng di kun fayakuninnya buat siapa."

"Disyukuri saja kalau begitu. Barangkali itu memang nikmat spesial darinya."

"Karena?"

"Kalau dia udah menghendaki, tanpa karena dia bisa menspesialkan siapapun, bukan?" Bi Esih lantas sedikit mencondongkan diri, mendekat ke Alna. "Siapapun, tapi tetap pada dasarnya jarang berlaku ke sembarang orang lho ..."

"Maksudnya?"

"Nikmat spesialnya ataukah bentuk pengabaiannya, Non sendiri yang tau jawabannya."

Alna sesaat membeku, lalu terkekeh, "Berhubung vibesnya udah kayak soal matematika yang dihitung panjang-panjang demi nemuin angka satu doang, kuterserahin ajalah mau dia berkehendak gimana juga. Suka-suka dia. Dia yang bikin. Dia yang rencanain. Dia yang ancurin. Kuat, jalanin. Nggak kuat, ya paling-paling ngebatin sambil dikuat-kuatin."

"Bisa aja ya ngejawabnya."

"Apel, mau apel?" Alna menawarkan dengan jenakanya. Lagi-lagi beruntungnya Bi Esih bisa mengerti itu.

Sangat terasa betapa dia menghindari untuk keras-kerasan dengan Alna. Mungkin karena saking sudah hafal betulnya dia akan semembangkang apa Alna jadinya. Dan karena itu jugalah mungkin, sekalinya dia 'mewejangi' kerap langsung merasuk tepat, dengan sendirinya. Bukan mengada-ada dia tau celah yang oke tanpa perlu sedikit-sedikit main hantam, mengaum hebat, dengan ribuan 'konotasi' yang cenderung terdengar seperti kekangan.

***

Keluar dari jalan raya menuju kawasan sekolah di Jum'at pagi yang cerah, diantara gerombolan peserta didik dengan deruman kendaraan yang mengudara, Alna membalas sapa demi sapa yang ditemuinya. Jalanan yang masih menyimpan sisa gerimis semalam menjadi mengkilap dengan aromanya yang khas.

Kelengangan parkiran kian menipis. Menuju gerbang yang menyatu dengan bangunan utama sekolah, Alna sempat juga berpapasan dengan siswa-siswa segudang kasus yang sedang kalem-kalemnya belakangan ini. Diantara mereka, Kakaknya si Kakak menyadari keberadaan Alna. Dia mengukir senyum tipis disertai anggukan kepala singkat tanpa diketahui kawan sekitarnya.

Justru Alna-lah yang tertangkap basah pengemudi mereka, seolah senyum Alna tersemat untuknya. Dia pun berpaling dengan bersikap lempeng-lempeng saja.

Sejak Ziya cerita kalau itu anak bisa jadi menemui Alna juga untuk urusan si Kakak. Yang terjadi malah entah kenapa Alna jadi lebih sering menemukan atensinya yang mengarah pada Alna tanpa pernah adanya pengikisan jarak secuilpun. Bukan berharap yang bagaimana. Hanya, Alna rasa aneh saja ketika nyaris selalu mendapati dia yang acuh tak acuh persis seperti barusan. Sementara dari mulut ke mulut, lain lagi ceritanya.

"Gue ada penemuan terbaru lagi buat kebutuhan analisa terkait rekam jejak perilaku umat manusia masa kini yang sedikit banyaknya bakalan bikin pola pikir kritis kita lebih terasah lagi guna menyongsong masa depan yang ideal itu, gue rasa." Deda datang-datang langsung duduk nyerocos di samping Alna yang sedang anteng mengotak-atik hardcase aesthetic-Nya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 30, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Di S5Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang