"Anj-jeli?"
Alna mengernyit, mendengar keterkejutan laki-laki yang baru menutup salah satu lemari kaca di ruang guru dekat pintu masuk itu. Seperti melihat penampakan yang diluar nalarnya saja. Maka Alna sahuti saja, "Ra-Rahul kun?"
"Lah, malah ara-ara jajarijaan lagi si kocak." Rustam di samping laki-laki itu nyeletuk, memecah tawa dari keasalbunyian tersebut.
Di sudut ruangan, Pak Lean sedang mengambil air minum yang tersedia disana. Betapa ringannya Alna mengayunkan langkah setelah kertas-kertas penentu itu berpindah tangan.
Tak ketinggalan, Alna juga membagikan penemuannya tentang laki-laki berbulu mata anti badai yang bersama Rustam itu pada Ziya. Tanpa didasari oleh niatan apapun tentunya. Sekadar karena ia diketahui mempunyai ikatan persaudaraan saja dengan orang yang baru habis dibahas tadi. Itupun Ziya sangat-sangat biasa saja menanggapinya. Akibat sudah sama-sama mengetahui juga kalau eksistensi laki-laki itu tidaklah ada apa-apanya untuk diikutsertakan dalam upaya meruntuhkan 'kerajaan liar' yang dibangun oleh adiknya sendiri. Yang secara tiba-tiba itu.
Namun, yang lebih tiba-tibanya lagi, seruan membahana Abu di ujung koridor, dari dalam sarangnya, kelas XII-IPA 1 dengan sepasang pintu kacanya yang terbuka begitu, sukses menyita perhatian melampaui target pasarnya. Gawat! Tepat beberapa langkah lurus di depan sana, tampaknya portal ke dimensi penuh dramatis lagi alay abis mengalami kebocoran sistemnya.
Entah peristiwa apa yang telah Alna dan Ziya lewatkan disana. Bahkan entah uraian terbaik seperti apa yang bisa mewakili gambaran sesungguhnya dari apa yang sekarang Alna lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Hei, kau!" Abu berlagak gagah nan garang menunjuk ke arah Alna dan Ziya. "Ya! Kau! Dan kaaau! Kalian berdua!" Ya ampun. Cara bicaranya pun bahkan nyaris menyerupai total salah seorang tokoh raja durjana akut dalam satu film perjuangan suatu negeri yang habis-habisan membela-bela kemerdekaan untuk ibu pertiwinya.
"Ingatlah baik-baik! Terpana padaku adalah kelancangan yang tak termaafkan! Kau dengar?!! Sekarang tundukanlah pandangan indahmu itu dan cepatlah kalian kemari dengan menghitung sisa langkah kalian untuk sampai ke hadapanku, sang Pemimpin bertahan, yang mulia Juragan muda Raihan Nur Fajar."
"Dimana fakta sendiri mengatakan Juragan muda yang penuh kejutan ini selalu ditahan-tahan hanya untuk tetap bisa diandalkan-tanpa bayaran sepeserpun diantara para penduduk terspesial yang 'nyata' nyaris tidak pernah tidak 'dianaktirikan', perwujudan dari keset andalan terhebring sejagat bumi Smansaka ini!" Ketawanya mengkhawatirkan sekali. "Cepat! Cepat! Cepaaat!"
Alna dan Ziya saling beradu tatap.
"Ada virus varian baru yang gejalanya bikin menuh-menuhin rsj kah sekarang?"
"Hus." Ziya menyenggol lengan Alna disertai kekehan tipisnya.
Beberapa kursi bertengger diambang pintu bersama penggunanya yang kelihatan puas sekali menikmati kegesrekan Abu. Gitar saja sampai ada dua, di dalam pangkuan tangan-tangan terampil diantara mereka.
Alna juga melihat Atharizz ditengah-tengah mereka. Dia ikut tertawa dan dia berpakaian umumnya peserta didik daripada tadi pagi, biarpun masih tetap agak berantakan. Kerahnya yang ditambahkan dasi setelah sekian lamanya membuat dia terasa sedikit lebih enak dilihat. Alna lantas mengekori Ziya menuju sarangnya.
Sarang yang menjadi tempat paling sering dikunjungi para tetangga kecuali tetangga sebelah.
Dan lagi-lagi kebingungan Alna bertambah begitu menemukan Eshal sedang berupaya menenangkan Deda yang menutupi wajahnya memakai sweaternya sendiri di mejanya.
"Apa kau terkejut, teman? Apa sekarang kau sedang merasakan kebingungan yang diliputi oleh rasa penasaran yang besar?" kata Abu sengaja sekali bicara di sebelah muka Alna, menyulut Alna melayangkan tamparan mautnya pada wajah laki-laki itu dalam sekali serangan. Walau sayangnya, Abu masih mampu menang cepat, menyelamatkan diri. Dari gelagat setawa-tawanya yang semakin maksimal menyerupai orang sakit jiwa itu seakan-akan memang sudah benar-benar berasal dari jiwanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di S5
Ficção AdolescenteDuduk bersama dan membicarakan banyak hal. Menyantap bekal makan siang pada jam istirahat dengan persatuan lauk pauk yang beragam dalam satu perkumpulan melingkar. Lelucon demi lelucon menyenangkan, lengkap dengan segala penyokong yang berkilauan. S...
