Terhitung satu minggu Alna menempati ruangan berbau khas ini. 4 harinya Alna demam tinggi hingga muntah-muntah dan 3 hari sisanya Alna berangsur membaik. Senantiasa ditemani Bi Esih tanpa melewatkan satu haripun. Tote bag putih gemuk berisikan beberapa buku tebal terpajang di samping bangsal. Malam sudah larut. Sementara Alna masih sandaran sembari memperhatikan Bi Esih yang terlelap di sofa tidak jauh dari Alna.
Perhatian Alna kemudian tersita pada satu kontak tersemat atas nama 'Fav' yang masih belum juga terlihat tanda-tanda perubahan apapun sejak terakhir kali Alna merusuh disana. Centang dua abu-abu didukung keterangan terakhir kalinya online seakan benar memberitahukan bahwa Alna memang terlalu merasa dirinya 'masih' seistimewa itu.
Umpatan singkat di chat terakhir itu saja tak cukup berpengaruh. Jadi Alna putuskan untuk cukup sampai disitu ia menghambur-hamburkan kesabarannya. Jika tidak dapat membantu menjembatani komunikasi sama sekali, sekalian Alna lenyapkan sungguhan saja aksesnya itu. Dengan begitu, sumber racun yang menggerogoti hati Alna akan berkurang.
Bi Esih menggeliat, membenarkan selimut yang dikenakannya, masih terpejam. Alna tersenyum tipis. Mungkin bisa dibilang kunci terbesar dari meredanya 'pertarungan' sengit yang Alna kantongi sendiri hingga sekarang ini benar Bi Esih orangnya. Beliau persis rinai hujan di belahan dunia Alna yang gersang.
Alna meraih laptopnya dengan sebuah buku catatan dan buku paket tebal Kimia yang ia dapat untuk setahun masa peminjamannya dari perpustakaan sekolah sebagai buku pegangan. Berniat mencicil laporan praktek individunya, berikut harapan bisa mengutuhkan kembali kendali atas dirinya. Jam rawan, pusaran melankolisnya kuat bukan main jika terlalu terbuai.
Seharusnya laporan tersebut pun kini sudah berbentuk nilai andai proses pengerjaannya lancar total. Apalah daya, tangan Alna cuma dua. Apalagi otak antik Alna bawaannya amat mudah bergejolak kalau diperas gunanya terlalu lama. Sedangkan tugas hampir setiap mata pelajaran, dari tingkat kesulitannya yang paling tinggi sampai yang paling rendah, lengah sedikit bisa jadi red carpet-Nya malaikat maut.
Alna sontak tersentak mendengar pintu yang tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan dengan seragam rapih dan masker yang menutupi sebagian wajahnya muncul, sama mematung untuk beberapa saat, saling bertatapan dengan Alna.
"Kenapa nggak tidur?" tanyanya dengan suara serendah mungkin, memperhitungkan keberadaan Bi Esih.
Alna pikir siapa.
"Sus, juga nggak." Alna bisa tau tamu tak diundang itu tersenyum dibalik masker yang dipakainya. Lalu tangannya mulai terulur mendekati barang-barang Alna.
"Saya kan bukan pasien. Sudah ya? Belajarnya besok lagi. Sekarang istirahatkan dulu, biar cepet sembuh. Akan ngira apa nanti orang lewat dengar suara-suara aneh dari sini?"
"Kedengaran sampai keluar gitu?"
"Begitulah ... Samar-samar. Apalagi kalau terus ceroboh jatuhin benda-benda seperti ini."
Pulpen dengan aksesoris ketupat yang sudah kering tak berbentuk. Alna tidak menyadari kapan jatuhnya benda itu. Oh, titik jatuhnya tidak mendarat ke lantai sepertinya. Melainkan ke sendal bulu Alna. Karena itulah Alna tidak mendengar bunyi jatuhnya tadi.
"Unik juga ya itunya," sambung perawat itu, bersahabat. Alna mengernyit. Sulit dipercaya setelah beberapa hari ini perawat yang Alna temui terkesan terbatas bicaranya. Yang ini justru agak berbeda. Ia lalu cepat memberi aba-aba pada Alna untuk bisa lebih menjaga suara saat Bi Esih kedapatan bergerak di tengah lelapnya.
"Tidurlah. Jangan sia-siain lelahnya."
Alna kembali beralih menatap perawat didekatnya yang sedang merapihkan bantalan untuk Alna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di S5
Ficção AdolescenteDuduk bersama dan membicarakan banyak hal. Menyantap bekal makan siang pada jam istirahat dengan persatuan lauk pauk yang beragam dalam satu perkumpulan melingkar. Lelucon demi lelucon menyenangkan, lengkap dengan segala penyokong yang berkilauan. S...
