22IKembali

366 19 0
                                        

"Ibu apa tidak sebaiknya kita menunggu beberapa hari lagi?" Gadis kecil itu bertanya pada sang ibu yang kini tengah sibuk memindahkan beberapa barang miliknya.

"Kita sudah membahas ini sebelumnya Helen." Balas Hera pada putrinya.

"Tapi ibu aku yakin calon ayah akan kembali sebentar lagi." Helen berdiri menghalangi jalan Hera seraya merentangkan tangan.

Hera menghela nafas berat dan meletakkan beberapa canvas milik putrinya itu.

"Dengar sayang, kita sudah menunggu hampir dua bulan dan paman Derry mu itu belum kem-"

"Calon ayah ibu, bukan paman Derry!" Helen menyela dengan tatapan kesalnya.

'Astaga, lihatlah pengaruhnya pada Helen! sebenarnya apa yang telah mereka bicarakan dibelakangku, ingatkan aku untuk memarahi pria nakal itu nantinya.' Batin Hera.

"Iya iya calon ayah." Ujar Hera yang akhirnya mengalah, membuat Helen mengangguk puas.

"Helen ingat tujuan awal kita datang kemari adalah melihat kontes melukis, serta menyemangati para pamanmu, benar?"

Gadis kecil itu mengangguk. "Iya ibu, tapi kan ak-"

"Tolong jangan menyela, dan biarkan ibu menjelaskannya dulu ya sayang." Hera memandang putrinya lembut.

"Maaf ibu."

"Helena, ibu juga sama sepertimu menunggu kembalinya calon ayah, hanya saja ibu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar menunggu sayang,-" Hera menjeda ucapannya.

"Ibu memiliki kedai dimana banyak orang bergantung pada ibu, mereka tanggung jawab ibu, jika ibu tidak kembali bagaimana kedai bisa berjalan, hmm?"

"Tapi kan ada banyak orang ibu disana, mereka pasti mampu mengaturnya."

"Kau benar, tapi mereka tetap membutuh ibu, sama seperti padepokan melukis yang akan selalu membutuhkan master Xiao untuk membuat suatu keputusan, begitupun dengan kedai sayang."

Helena menunduk dan mencebikkan bibirnya. "Tapi aku ingin bertemu calon ayah ibu, dia berjanji mengajak kita pergi jalan-jalan."

Hera mengusap surai putrinya. "Dia pasti menepati janjinya, hanya saja akan sedikit lebih lama."

"Tapi calon ayah pasti kembali ibu, aku yakin."

"Iya iya, calon ayahmu pasti akan kembali, lagipula kapan ibu berkata dia tak akan kembali, hmm?"

"Kalau begitu kita harus menunggunya ibu."

Hera menghela nafas berat, sungguh membujuk Helena kini bukan perkara yang mudah.

"Sayang, kita akan tetap menunggunya, namun tidak disini."

"Tapi ibu bagaimana jika calon ayah kemari dan mencari kita, dia pasti kecewa melihat kita tak ada dirumah ini." Ucap Helena yang tetap mempertahankan keinginan-nya untuk tinggal lebih lama.

"Itu artinya dia yang harus berusaha untuk mengunjungi kita di desa."

"Tapi bagaimana jik-"

"Helen, apa kau percaya bahwa calon ayahmu akan kembali?" Hera menyela ucapan putrinya dengan cepat.

"Aku percaya." Balasnya cepat.

"Kau percaya dia akan menjadi ayahmu?"

Helen mengangguk yakin. "Tentu ibu,"

"Maka sejauh apapun kita pergi dia pasti akan kembali pada kita sayang, itu yang dinamakan takdir."

Helen terdiam, jujur saja jauh didalam hatinya ia enggan meninggalkan kota ini, entahlah seakan ada hal yang menariknya untuk tetap tinggal.

LADY HERANIA (SLOW UPDATE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang