27|Flashback on

253 14 0
                                        

"Apa kau yakin ingin menginggalkan desa ini?"

Hera mengangguk tanpa ragu. "Tentu. Tapi paman tenang saja sesekali aku dan Helena akan kemari menjenguk paman dan kedai juga tentunya."

"Kurasa akan sulit untuk mu kembali ke sini, nak."

Hera tersenyum. "Entahlah, tapi jka usaha baru ku sudah stabil aku pasti akan berkunjung ke sini."

"Hmm...semoga saja kau benar."

"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal padamu," Gu menatap Hera intens, suaranya tenang namun sarat akan makna.

Hera memandang pria paruh baya didepannya dan tersenyum sopan. "Tentu, paman. Apa yang ingin kau tanyakan."

"Siapa kau sebenarnya?"

Hera mengeryitkan dahinya heran.

"Apa maksudmu paman?"

Xiao Gu mengibaskan tangannya ke udara menciptakan lapisan tak kasat mata, lalu kemudian  memandang Hera dalam.

"Bicaralah, sekarang tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan kita."

Hera tertawa kecil. "Apa maksudmu paman, bukankah sedaritadi aku sudah berbicara."

"Katakan dengan jujur, siapa dirimu sebenarnya Hera."

Pertanyaan itu membuat Hera diam sejenak. "Maaf paman. Tapi aku tidak mengerti apa yang kau katakan."

"Tidak mengerti, atau tidak mau mengatakan?" 

Gu menggerakkan tangannya seakan menulis di udara, lalu mengarahkannya pada Hera.

"Keluarlah sekarang, aku tau kau ada di dalam sana."

Bisikan itu mengalun lembut ditelinga Hera, membuat sang empu terdiam.

Wajahnya tetap tenang, meski sorot matanya sedikit berubah. "Apa yang kau lakukan paman Gu. Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu."

Xiao Gu tersenyum simpul. "Baiklah aku tidak akan memaksamu lagi soal itu."

"Tapi ingat Hera, apa yang telah di takdirkan selamanya tak akan bisa dirubah." Gu menatap Hera tajam.

Hera menghela nafas lelah. "Sebenarnya apa maksudmu paman?"

"Jangan berpura-pura Hera."

"Aku tau, Helena ditakdirkan menjadi penyihir suci, itu fakta yang harus selalu kau ingat Hera."

Hera terdiam, kali ini raut wajahnya sedikit berubah. 

"Bagaimana mungkin?" Hera menjeda ucapannya, dia berusaha menyangkal.

"Putriku gadis biasa, bukan penyihir atau apapun yang paman sebutkan. Tolong jangan mengarang cerita."

Gu tesenyum tipis. "Kau bisa berbohong pada orang lain, tapi tidak padaku Hera. Putriku dulunya juga sama seperti Helena. Mereka ditakdirkan menjadi penyihir suci."

"Penyihir suci? Aku bahkan tidak tahu apa yang kau bicarakan paman, tolong hentikan pembahasan ini."

"Kau masih saja berbohong nak."

Hera diam, mendengus pelan lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Hmm...baiklah, sepertinya percuma aku terus mengelak."

"Jadi, sejak kapan kau tau tentang hal ini?"

"... "

*****

Flashback on

"Cepat minum!" Seorang prajurit mencengkam erat rahang wanita didepannya, memaksa wanita itu meminum cairan merah didalam gelas.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LADY HERANIA (SLOW UPDATE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang