25|Sean

231 20 0
                                        

"Maaf Helena siang nanti ayah ku pulang, aku tak bisa menemanimu." Ucap anak laki-laki dengan rambut hitam pekat pada temannya.

Helena mencebikkan bibirnya kesal, padahal dia ingin menghabiskan hari terakhirnya sebelum pindah dengan teman satu-satunya itu, tapi pria itu malah menolaknya.

"Ayolah kak Sen, ini hari terakhirku di Zien dan entah kapan aku kembali."

"Kau kan bisa bermain dengan ayahmu besok." Lanjut Helena.

Sean menggeleng pelan. "Tak bisa Helen, ayahku seorang prajurit istana, tidak mudah untuknya pulang. Aku terakhir bertemu ayah saat aku baru bisa berjalan, itu sudah lama sekali. Bahkan wajahnya saja aku sudah lupa."

"Kalau wajahnya saja lupa bagaimana kau tau itu ayahmu atau bukan?"

"Helen, yang pernah bertemu ayah kan bukan hanya aku, ada ibuku juga."

"Bagaimana jika ibumu juga lupa?"

"Mana mungkin."

Helen mendengus dan menatap objek lain, tak lama ia kembali menatap Sean dan mulai berfikir.

'Hanya ada satu cara.'

Helen mengedipkan matanya beberapa kali bersiap mengeluarkan tatapan mautnya.

Satu...

Dua...

Takk

Sean menjentik pelan jarinya pada dahi Helen. "Jangan berfikir aku akan luluh dengan tatapan sedihmu itu gadis kecil."

"Awhhh sakit tau!" Helena mengusap dahinya dan mendengus kesal.

"Kau menyebalkan Kak!"
Sean tertawa pelan lalu mengacak gemas surai lembut gadis setinggi telinganya itu, yah umur mereka memang terpaut 3 tahun, tapi tinggi keduanya hanya berbeda beberapa senti, padahal Sean termasuk anak dengan tubuh tinggi di desanya.

Kadang Sean penasaran dengan orang tua gadis kecil ini, sebenarnya hanya dengan ayahnya, karena untuk ibu Hera dia sangat akrab, bahkan perlakuan ibu Hera pada dia dan Helena tampak sama.

Ibu? Ya, sudah lama sekali semenjak Hera meminta Sean untuk menggunakan panggilan yang sama dengan putrinya, begitupun sebaliknya.

"Sudahlah, bagaimana jika kita bermain di rumahku saja."

"Tapi kau bilang ingin menghabiskan waktu dengan ayahmu."

"Ayah akan sampai siang nanti, kita bisa bermain pagi ini."

"Tapi pagi ini aku ada kelas melukis."

"Ketinggalan satu hari tak masalah, lagipun lukisanmu sudah bagus."

Helena terdiam.

'Tapi aku juga harus bertemu kakek dan kakak-kakak di sanggar.'

"Bagaimana Helen?"

'Sudahlah bertemu mereka bisa siang nanti, tapi bersama kak Sean mungkin hanya bisa pagi ini.'

"Baiklah aku ikut dengan mu."

"Bagus, ayo ikuti aku."

Sean menggandeng tangan Helena, mereka berjalan bersama dan sesekali bercanda gurau.

"Oh ya Helen, apa ayahmu seorang pedagang?"

Helena menggeleng kan kepalanya.

"Nelayan?" Sean kembali menebak.

"Bukan."

"Wahh apa mungkin dia prajurit juga?"

"Tidak juga."

LADY HERANIA (SLOW UPDATE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang