26|Janji Sean

267 18 2
                                        

Kini keduanya telah berada di kebun belakang milik keluarga Sean, tampak Helena yang tengah menekuk bibirnya kesal sebab teringat waktu mereka yang semakin singkat.

"Ada apa?"

Helena menghela nafas. "Rasanya aku tak siap meninggalkan desa ini. Aku masih ingin bermain bersama mu kak."

"Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi Helen."

"Suatu saat? Kapan? Aku bahkan tak yakin akan kembali kesini dalam waktu dekat."

Sean berhenti berjalan, membuat gadis disampingnya melakukan hal yang sama, kini keduanya saling berhadapan.

"Entah kapan kau akan kembali, aku pasti akan menunggumu disini." Sean menatap Helena seolah meyakinkan gadis itu.

"Janji?" Helen mengangkat jari kelingkingnya.

Ya, cara janji seperti ini memang diajarkan oleh ibunya, kemudian Helena menggunakan cara ini pada Sean.

Kini hanya dia, ibunya, dan Sean yang menggunakan janji kelingking dengan cara seperti ini.

Sean mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Helena.

"Tentu, aku janji."

Sean melepas kaitan jari mereka dan membawa Helena kembali berjalan.

"Lagipun kenapa kau mendadak ingin pindah, ada masalah?"

Helena menggeleng, dia memilin jemarinya dengan wajah murung.

"Huhh.. awalnya memang bukan masalah, tapi sekarang sepertinya ini menjadi masalah untukku."

Sean diam dan mengggenggam tangan gadis itu, membawanya duduk untuk berteduh dibawah pohon mangga yang rindang.

Sean menatap Helena.

"Mau bercerita? Aku siap mendengarkanmu."

Helen menghela nafas berat. "Kau tau kan ibuku ingin membuka kedai baru di tempat lain."

Sean mengangguk.

"Awalnya aku senang saja karena aku pikir akan memerlukan waktu empat hingga lima tahun lagi untuk ibu membangun kedai baru, sehingga aku masih ada banyak waktu untuk menikmati hari-hariku disini."

Sean terdiam membiarkan gadis di depannya itu bercerita. Netra yang sejernih lautan dengan hidung mungil dan bibir tipisnya menjadi perpaduan yang sayang untuk dilewatkan, ditambah surai lembut yang ikut berayun sebab angin sungguh perpaduan yang pas.

"Tapi ibu secara mendadak mengajakku pindah hari ini, bahkan ibu juga ingin menjual rumah. Bukankah artinya aku tak akan bisa kembali ke sini." Helena mencebikkan bibirnya.

Sean mengangguk dengan tatapan yang tetap terpaku pada satu objek.

"Aku tau ibu bekerja keras agar aku bisa hidup dengan nyaman dan tidak kekurangan, tapi sungguh kehidupan seperti ini sudah sangat nyaman, aku tak perlu lagi kuas dan pewarna mahal ataupun kanvas kualitas tinggi, semua yang ada saat ini sudah cukup bagi-"

"Cantik."

Satu kata itu tiba-tiba saja terucap oleh Sean membuat Helena reflek menoleh kearahnya.

"Apa kau mengatakan sesuatu kak?"

Sean menggeleng. "Ah tidak, kau lanjutkan saja ceritamu."

"Baiklah." Helena mengangguk, kembali pada posisi sebelumnya dan bercerita.

"Aku tau ini akan terdengar jahat tapi entah mengapa aku merasa ibu sedikit egois, di desa kami yang dulu ibu mengajakku pindah hanya dalam waktu semalam tanpa memberitahuku jauh-jauh hari. Saat itu memang ada beberapa masalah sehingga aku baik-baik saja saat kami akhirnya pindah."

LADY HERANIA (SLOW UPDATE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang