Terhitung sudah genap 4 bulan sejak Hera kembali dari pusat kota, itu berarti hampir setengah tahun berlalu dan Derry hingga kini belum ada kabar, entah kemana perginya pria itu.
Tak jarang Helena bertanya kabar calon ayahnya itu, bahkan ia pernah bertanya sangat lama pada pengantar paket bahan masakan kedai tentang calon ayahnya itu, walaupun hasilnya sia-sia.
Keseharian Hera dan putrinya kembali seperti sediakala, putrinya yang selalu keluar untuk bermain dan melukis, sedangkan Hera harus mengurus kedai yang semakin ramai tiap harinya.
Seperti saat ini, saking ramainya tak jarang Hera sampai turun tangan melayani para pembeli.
"Permisi, ini untuk pesanan yang dibawa pulangnya tuan."
"Wahhh nona cantik apa kau pemilik kedai ini?" Tanya salah satu pemuda.
Hera tersenyum. "Benar tuan, apa ada masalah dengan makanannya?"
"Apa kau bercanda nona, masakan mu ini sangat lezat." Ucap pria yang Hera taksir usianya 30an usai menikmati berbagai hidangan didepannya.
"Benar nona, kau sungguh berbakat." Saut pria muda tadi.
Hera tersenyum menanggapi 3 orang lelaki yang Hera duga sebagai pendatang di desa, kemungkinan mereka orang dari negara sebrang yang sedang berdagang.
"Kalian berlebihan, masakan ku tidak seenak itu. Tapi syukurlah jika kalian suka." Balas Hera.
"Kau terlalu merendah nona." Pria muda itu kemudian tersenyum menatap Hera.
"Berhubung kita akan menetap cukup lama di desa ini, jadi nantinya kami akan sering datang untuk makan disini nona."
"Kalian pendatang?"
"Benar nona, biasa urusan bisnis." Pria muda itu membenarkan rambutnya yang membuat pria disampingnya memutar bola matanya.
Sedang Hera hanya tersenyum saja dengan tingkah pria didepannya. "Kalau begitu silahkan datang, kedai buka setiap hari."
"Tentu aku akan datang setiap hari."
"Oh ya nona cantik, apa kau belum menikah?" Lanjut pria muda itu.
Sedang Hera justru menatap dia santai, sungguh sudah biasa dia menangani hal seperti ini, banyak orang mengiranya masih gadis sebab wajah dan tubuhnya tak mencerminkan wanita yang sudah ber-anak.
"Memangnya kenapa tuan?"
Pemuda itu tersenyum membenarkan kerah bajunya. "Ekhem...ya jika belum, nona bisa mempertimbangkan ku, aku kaya dan tampan, juga baik hati."
Hera berusaha menahan tawanya.
'Sungguh bocah tengil ini ingin melamarku? Astaga bahkan dia lebih cocok ku sebut anak.' ucap Hera dalam hati.
"Apa yang nona ingin kan akan ku berikan, rumah, perhiasan, gaun cantik bahkan-"
"Ekhem!" Pria dengan topeng yang sejak tadi melihat percakapan kedua bawahannya itu memandang mereka tajam.
"Eh, tu-tuan em aku hanya bergurau, hehe iya kan pak tua." Pria itu tertawa canggung menyenggol lengan pria disampingnya.
"Ck, berhenti memanggilku tua atau kepotong lidah mu Hans."
Pria bertopeng itu menoleh kearah Hera, sejenak terdiam memandang seakan sedang memikirkan sesuatu.
Pria itu tersenyum smirk. "Ini uangnya, terimakasih atas makanannya dan-"
"-sampai bertemu lagi, nyonya." Pria itu meninggalkan sekantung koin diatas meja makan dan pergi disusul kedua bawahannya.
"Tuan tunggu kami!''
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY HERANIA (SLOW UPDATE)
FantasiZefanya Halmahera wanita desa dengan segala kesengsaraan di hidupnya, wanita yang terlahir miskin hingga kini. Tertidur setelah membaca novel 'The empress of country X' dan setelah mensumpah serapahi sang authorlah ia mendapat karma yang membuatnya...
