Berlawanan

259 45 12
                                        

'AKH!'

Jaemin tidak akan membiarkan Renjun lari begitu saja. Segera ia tarik lengan yang lebih tua saat ingin melangkah pergi. Tak lama terdengar suara orang berjalan cepat kearah mereka, karena jeritan kecil Renjun tadi. Jaemin menarik Renjun untuk berlari kearah lain, menuju lorong kamar paling ujung. Dan masuk ke salah satu kamar. Kemudian Jaemin menutup pintunya.

"Lepas! Kenapa kau masuk kesini??"
Renjun mencoba mengoyangkan lengannya untuk terlepas dari pegangan Jaemin.

"Jika kau keluar maka mereka pasti akan menangkapmu", Jaemin memberi kode untuk Renjun mengintip dari lubang pintu. Benar saja beberapa penjaga sudah bolak-balik didepan pintu, sepertinya para pria bertubuh besar itu melihat kearah mana mereka tadi.

"Tapi ini kamar siapa?!"
Tidak mungkin juga mereka diam disini, bagaimana jika pemilik kamar melihat mereka, dan akan terlibat masalah lebih besar. Panik Renjun.

"Ini kamar ku."

"Ohh kamar mu.. kalo begitu aku menumpang ke toilet dulu ya..". Tolong ingatkan Renjun tidak bisa sesantai itu, ia harus menghadapi masalah lain dihadapannya sekarang. Tanpa menunggu izin Jaemin, tubuh mungil itu berjalan begitu saja mencari toilet, untuk menuntaskan urusannya, hampir ia terpipis karena dikejar-kejar tadi, sekarang ini lebih penting kan.

Selesai dengan urusan belakang, Renjun keluar dari toilet dan langsung dihadang Jaemin dengan wajah datar, membuat sedikit terkejut. "Mana ponsel dan kameranya?"

Walau dengan terpaksa Renjun menunjukan ponselnya, "Tapi percuma kau hapus disitu, temanku sudah membawa foto lain, berita kalian berkencan pasti akan dipublikasi"

"Kalian wartawan murahan memang suka menguntit dan mengarang cerita". Geram kesal Jaemin, namun tangannya tetap menekan setiap foto di ponsel itu dan menghapusnya.

"Tidak. kami buat berita sesuai fakta, jelas tadi kalian berdua punya hubungan kan? Dia kekasihmu?"
Buat apa mengelak lagi sih, tinggal nanti klarifikasi saja jika benar mereka berkencan, justru banyak orang yang akan setujukan. Anggapan orang tentang si Idol yang menjadi simpanan lelaki tua juga pasti sirna, pikir Renjun.

"Bukan. Aku tidak ada hubungan apapun"

"Tapi kalian ke kamar hotel.."

Jaemin melangkah semakin dekat, wajahnya hanya berada beberapa senti dari Renjun, membuat pria itu sedikit menunduk. Kedua mata mereka bertatapan. Kenapa juga ia harus susah menjelaskan pada Renjun perihal wanita tadi. "Dengar. Jika ada berita muncul mengenai aku dan Winnie, aku tak segan akan menyeretmu dan temanmu dan menghancurkan kalian".

Ancaman Jaemin membuat Renjun terdiam, mungkin pria ini tak akan segan melakukan itu. Sorot mata penuh kebencian jelas-jelas Jaemin lemparkan kearahnya, setiap kali bertemu. Wajah kecil yang selalu tersenyum lebar hingga gigi kelinci terlihat benar-benar sirna, digantikan wajah tegas nan dingin.

Setelah mengatakan itu Jaemin berbalik untuk melepaskan coat, jam tangan, dan barang lain di saku, kemudian ke kamar mandi, pria itu sibuk sendiri tanpa peduli. Meninggalkan Renjun yang mendudukan diri diatas sofa. Aneh sekali. Dengan cepat Renjun mengetikan pesan pada Xiaojun, jika ia tertangkap dan mendapat ancaman dari Jaemin. Namun sampai saat ini ia masih baik-baik saja, dan belum bisa keluar karena masih ada penjaga yang berkeliling.

Selang beberapa menit tak melakukan apapun, bingung mau melalukan apa, jika kabur dari Jaemin pasti kena juga diluar. Tapi disini pun ia kikuk tak tau berbuat apa, tiba-tiba rasa kantuk melanda, tanpa sadar tubuhnya perlahan memiring dan merebahkan kepala, dengan posisi meringkuk diatas sofa. Renjun dengab tidak tau malu lagi, tertidur.

Jaemin akhirnya keluar dari kamar mandiri, dan melihat tubuh kecil Renjun tidur tak nyaman di sofa ukuran kecil disana. Coba untuk tidak peduli ia mendudukan diri dikasur, untuk bermain ponsel dan membiarkan Renjun.. "Ck menyusahkan.."

HERE JAEMRENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang