"Ck apa yang aku lakukan disini?"
Entahlah, siapapun tidak mengerti mengapa saat ini Jaemin masih berdiam di dalam mobil, yang terparkir tepat didepan cafe tempat Renjun bekerja. Setelah sebelumnya ia mendapat informasi dari bawahannya, segera rasa ingin tahu menerpa dan beranjak menuju ke lokasi.
'Aku ingin lihat bagaimana dia menderita setelah kehilangan pekerjaan'.
Hanya dengan dalih itu, maka sekarang tubuh kekar itu masih pada posisi yang sama sudah hampir satu jam. Menatap sosok didalam sana melalui kaca lebar yang memperlihatkan jelas isi didalamnya. Namun apa ini, Renjun tetap tidak kehilangan senyuman, menyapa satu per satu tamu yang datang. Bergerak kesana-sini dengan lincah, melakukan setiap pekerjaan dengan sangat baik tanpa merasa ada gangguan.
"Sebaiknya aku pergi, ck ternyata dia sama sekali tidak terganggu.." gumam Jaemin kesal. Sebaiknya Jaemin pergi dari tempat ini, buat apa ia berlama-lama disini. Bahkan ini masih jam kerja, waktu dimana seharusnya ia masih berkutat pada perputaran pekerjaannya. Jaemin ini pimpinan Nana Group, banyak hal yang perlu ia kerjakan dan pantau.
...
"Ice Americano, delapan shot, No sugar"
"Eh? Jaeminie?"
Renjun yang sedari tadi sibuk melayani pelanggan, tersentak kaget karena kedatangan sosok yang coba ia hindari ini.
"Apa tidak dengar? Dine In"
sanggah Jaemin dengan nada yang dibuat sedatar mungkin ciri khas dirinya. Berpura-pura seperti tidak mengenal siapa kasir dihadapannya, dan memesan minuman tanpa basa-basi. Tapi tunggu dulu, kenapa senyuman Renjun mendadak menghilang? dari tadi ia perhatikan semua pelanggan disapa dengan ramah penuh senyum manis, tapi kenapa berbeda pada saat dirinya datang.
"Ohh oke. ada lagi?"
"Ck. Itu saja."
Begitu menyelesaikan setiap pesanan dan pembayaran, Jaemin mencari meja kursi yang single, lalu duduk disana. Mengeluarkan tablet ponsel, untuk mengerjakan satu dua hal sambilan. Tak lama minuman datang, dengan Renjun sendiri yang mengantarkan. Jaemin berpura-pura sibuk mengerjakan sesuatu, padahal sedari tadi matanya tidak pernah berhenti melirik Renjun yang berada tak jauh dari mejanya.
Lihat, Renjun kembali tersenyum ketika ada pelanggan lain memesan, mendengarkan dengan baik setiap menu. Dan lihat di gelas mereka dituliskan pesan-pesan menyenangkan, ala-ala tulis tangan seperti 'have a nice day' 'great for you' dan lain sebagainya. Tapi saat melihat gelas miliknya tidak ada tulisan apapun disana, apa terhapus karena lelehan es?
Jaemin hanya mengulirkan mata kesal sendiri.
...
Hampir enam jam, Renjun memastikan jam pada komputer dan membandingkan saat Jaemin memesan pertama tadi. Pria itu masih duduk disana tak kunjung pergi, bahkan seperti tidak ada niat untuk pergi. Sebenarnya tidak masalah juga, karena seperti mengerti 'etika' saat berada di cafe, pria itu beberapa kali memesan minuman, kue, dan roti setelah itu. Melalui anak buahnya yang juga datang dan mengambil minuman serta makanan yang dia pesan, padahal jarak cafe ini dengan kantor Jaemin lumayan jauh. Masalahnya jam makan siang sudah lewat, dan Renjun tidak melihat ada makanan berat yang dimakan Jaemin, cafe merekapun tidak menyediakan makanan berat. Jadi dari tadi yang masuk ke perut Jaemin hanya tiga gelas americano. Sepertinya sangat tidak baik.
"Jaemin.. ini sudah lewat jam makan siang, apa kau tidak pergi.."
"Kau mengusirku??"
"Bukan, hanya saja apa kau tidak makan siang? dari tadi kau hanya minum kopi pahit tanpa ada makanan yang masuk"
"Apa peduli mu"
Astaga keras kepala sekali, maunya Renjun tidak perlu peduli dan tinggalkan saja pria ini dengan kegiatan sibuknya. Namun, sifat Renjun yang selalu peduli terhadap sekitar tidaklah seperti itu, apalagi Jaemin salah satu orang yang dikenalnya juga. Ia masuk ke ruangan khusus karyawan untuk mengambil beberapa hal disana.
"Ini makanlah"
Renjun kembali kemeja Jaemin, dan memberikan tas bekal makanannya.
"Tidak butuh."
Tolak Jaemin yang hanya melirik sebentar tas itu dan tidak mempedulikannya. Membuat Renjun geram, namun tetap membuka tas itu dan mengeluarkan kotak demi kotak isinya. Memang biasa bagi para Waiters disaat jam makan siang belum makan, karena memang itu jam sibuk bagi pengunjung yang sedang break. Dan akan makan setelah jam kerja orang dimulai kembali, disaat mulai agak sepi, selalu seperti itu. Jadi bekal makan yang sudah Renjun persiapkan masih lengkap tersimpan, dan tak masalah ia berikan kepada Jaemin. Nanti untuk dirinya, tinggal memasak ramen instant di microwave.
Satu persatu ia buka tutup kotak makanan, mulai dari nasi, tumisan sayur, ayam goreng, dan telur gulung. Menyodorkannya lebih dekat kepada Jaemin, "Makan sianglah sedikit. Ini aku ada bekal"
Awalnya Jaemin menolak, dengan memasang wajah tidak suka. Tapi aroma makanan ini mulai tercium dan entah mengapa menggugah selera, padahal biasanya Jaemin tidak masalah jika menahan lapar. 'Grook~' apa-apaan ini bahkan suara perutnya berbunyi tak bisa dijaga.
"a. aku akan membayarnya."
Jaemin segera mengambil sumpit yang sudah diletakan Renjun didekatnya, lalu mulai makan, meskipun dengan gerakan canggung.
Lumayan, itu yang dirasakan Jaemin. Menu makanan rumahan sederhana, namun nyaman di perut, seperti masakan mama Na dirumah sewaktu dirinya kecil. Dan ayam goreng ketumbar, ini salah satu kesukaan Jaemin. Renjun hanya tersenyum melihatnya, kemudian lanjut melakukan pekerjaan yang lain, sambil menanti Jaemin selesai makan.
Selang berapa menit, Renjun melihat dari jauh kotak-kotak makanan didepan Jaemin sudah tandas. Ia mendekat untuk merapikan semua kembali kedalam tas, tak lupa juga membawa air mineral pada sebuah gelas. Namun ia melihat ada sebiji nasi tertinggal di dagu Jaemin dekat dengan bibir, yang sepertinya tidak disadari.
"Aigooo kau masih makan berantakan ya~"
Renjun mengambil tisu dimeja kemudian membersihkan bekas makanan pada wajah Jaemin, membuat yang lebih mudah kikuk ditempat akibat perlakuan ini. Ditambah lagi jarak mereka yang cukup dekat, karena Renjun masih berdiri sambil menunduk condongkan badan kearah Jaemin. Lalu merapihkan semua peralatan makan, menyusun kembali kedalam tas, setelahnya Renjun melangkah kembali ke kasir.
"Te-terima kasih.." ucap Jaemin dengan nada yang pelan dan terbata.
"Iyaa, kalau sudah kenyang bisa lanjut bekerja lagi" ucap Renjun tersenyum bangga. Ini persis seperti perkataan dari orang yang sama, namun versi kecilnya dulu. 'Jaeminie sudah kenyang kan? ayo lanjut belajar' membuat yang lebih muda teringat kembali, akan kenangan baik mereka dulu. Jaemin yang tak mau lama terlena dengan situasi inipun segera beranjak dari cafe itu.
"Pak saya sudah mendapat beberapa informasi terkait penulis novel yang anda cari"
Lapor bawahan Jaemin, saat ia sudah sampai dikantornya kembali. Ia hampir lupa memberi tugas tambahan ini, sangat butuh waktu, sepertinya penulis novel itu memang sengaja menyembunyikan identitasnya, dan hanya menggunakan nama pena.
"Lanjutkan"
"Saya sudah menemui pimpinan penerbit bahkan pemilik dari percetakan. Awalnya memang mereka tidak mau memberitahu, karena sudah etika nya seperti itu bagi penulis yang meminta 'nama pena'. Tapi akhirnya mereka hanya bisa memberitahu beberapa hal saja. Mereka tidak pernah bertemu langsung dengan penulis, semua proses diskusi dan editorial hanya melalui daring. Tapi yang penting, royalti dari novel tersebut dibayarkan ke sebuah yayasan. Dengan nama penerima rekening ibu pengasuh dari Panti Anugrah"
"Tunggu, Panti Anugrah yang di daerah sektor tujuh, dekat kantor polisi?"
"Betul pak"
Berarti itu pantinya sewaktu kecil dulu.
"ada dua kemungkinan. Penulisnya salah satu penghuni panti itu, atau memang ada sukarelawan yang menyumbangkan kesana. Saya akan coba selidiki lagi"
"Ok."
Walau sebenarnya Jaemin tidak mau mengungkit kembali asal-usul lamanya, namun ia tetap ingin mengetahui lebih lanjut siapa sosok dibalik nama pena 'Yellow'.
Apa perlu Jaemin sendiri yang mencari ke Panti itu?
Setelah diadopsi, Jaemin sama sekali tidak mau menginjakan kaki disana, bahkan mendengar informasi mengenai panti itupun ia tidak peduli.
Tbc.
Jaemin kepribadian ganda wkwk, gak suka tapi suka, marah tapi disamperin.
KAMU SEDANG MEMBACA
HERE JAEMREN
FanfictionJangan pergi... Tidak akan. Kau bohong... Lagi-lagi aku ditinggalkan. Warn! BxB (Boys Luv) Jaemin x Renjun (JaemRen) Bahasa Non Baku Be smart reader, tidak suka cerita BL SKIP! Cerita hanya karangan author saja, jgn bawa RL. DILARANG PLAGIAT CERITA...
