Teman Kecil

384 51 18
                                        

Kemarin Renjun menerima info dari Kun si pemilik café, bahwa mereka mendapat pesanan skala besar pada sebuah acara peresmian. Sudah biasa karena beberapa kali mereka juga melayani untuk acara seperti ulang tahun, pernikahan, acara sekolah dan lain-lain, tapi bagi Renjun yang baru bekerja sebagai pelayan café ini baru pertama kali dalam berapa bulan terakhir. Dari semalam ia dan beberapa pegawai lain sudah sibuk mempersiapkan semua bahan, dan ada juga yang mulai memasak, sedikit melelahkan tapi kata Kun,
“Nanti pasti akan lebih sibuk lagi, tapi keuntungan kita akan cukup banyak”
 
  
 
Launching New Product and Sub Branch of NA Group

Ingatkan Renjun untuk protes pada Kun setelah ini, karena seingat Renjun pria itu tahu huru-hara yang terjadi dengan Jaemin, tapi kenapa masih menyuruhnya untuk pergi. Tapi yasudahlah demi mendapat bonus sedikit itu, Renjun tetap fokus pada pekerjaan, semoga ia tidak berurusan dengan si Na itu. Toh dia seorang pimpinan tidak mungkin mengurusi hal sepele seperti stand makanan seperti mereka.
  
  
  
Gedung itu penuh ramai dengan dihadiri banyak tamu, semua orang juga berdecak kagum akan ranah bisnis baru yang digarap Jaemin. Perusahaan itu sudah bergerak dibeberapa sector, dan ini adalah sub branch mereka dibidang property. Dimana Na Jaemin berpikir bahwa sedang trend orang-orang yang memulai hidup sehat, sehingga ia mendirikan pusat kebugaran yang lengkap didalamnya seperti Gym, Pilates, Sport Dance Studio, Lapangan Golf dan banyak lagi. Mereka juga merilis produk perlengkapan olahraga nya juga.
Renjun yang sambil melayani para tamu undangan pun sedekit banyak mendengar, walau bagaimanapun otaknya masih berfungsi mengenai hal seperti ini.
 
  
Tak selang berapa lama Jaemin pun muncul, dengan begitu tampannya pria itu mengenakan setelan hitam dengan tatanan rambut yang diangkat keatas. Satu-persatu ia menyapa beberapa tamu penting, para petinggi, bahkan Mentri Olahraga pun hadir disana. Disebelah Jaemin, ada juga Winnie si aktris cantik yang popular datang bersama, mereka terlihat begitu serasi bersama. Semakin acara malam hari itu menjadi sorotan bagi banyak orang.
  
   
  
   
Disela-sela waktu santai, Winne yang sedang duduk cantik sambil tersenyum sebagai brand ambassador pun menerima beberapa pertanyaan dari wartawan. Dimulai dari rahasia sehat tubuh indahnya, bagaimana ia menjaga kesehatan saat sibuk dengan banyak aktifitas, pertanyaan formal untuk mempromosikan brand. Hingga mulai beberapa wartawan menceletukan pertanyaan lebih mendelik,
 
“Apa Winnie dan Jaemin memiliki hubungan khusus?”
   
“Hubungan khusus ya.. hmm” gumam wanita cantik itu sambil tertawa kecil seakan berpikir sebentar.
   
“Apa teman sedari kecil dan teman Gym bisa disebut khusus? Hihi”
   
    
Dengan nada manis aktris sekaligus model cantik itu melanjutkan ceritanya, bahwa ia dan Jaemin sudah berteman dari sekolah dasar, mereka tinggal di satu area perumahan yang sama dan satu sekolah. Dan sekarang mereka beberapa kali ‘nongkrong’ bersama bahkan pergi ke Gym. Karena Winnie yang mulai tertarik untuk melatih masa otot, selain dari latihan kardio. Dan Jaemin bersedia untuk menunjukan beberapa hal dasar mengenai Gym padanya, jika pria itu sedang diwaktu olahraga.
  
  
 
“Winnie tau dong siapa kekasih dari pimpinan Na, kan suka main bareng?”, pancing wartawan lainnya karena wanita didepan terlihat seperti mudah untuk membocorkan informasi.
  
  
“Hmm, Jaemin itu terlalu dingin ke orang baru hihi, jadi aku gak pernah lihat dia dekat dengan orang lain sih”. Melalui pernyataan ini semua orang bisa menarik kesimpulan bahwa hanya Winnie lah wanita yang dekat dengan Jaemin, dengan asumsi mereka tidak berkencan karena profesi si wanita sebagai aktris yang akan mendapat banyak sorotan jika berkencan, namun pada dasarnya mereka pasangan secara natural.
   
   
  
Renjun mendengar semua itu, bahkan dalam benaknya menggebu jika saja mereka tidak ketahuan kemarin, pasti berita mengenai kedua sejoli yang berkencan itu bisa ia buktikan dengan gambling.

“Hubungan khusus lah, mereka udah tidur satu hotel kok” gumam Renjun pelan.
   
  
  
  
“Heh Renjun!”

Ahh kesialan lagi, setelah wawancara dengan Winnie selesai dan wartawan mulai melakukan kegiatan masing-masing, Renjun harus dipertemukan dengan tiga orang rekannya di perusahaan dulu. Wajar saja karena acara besar pasti mereka juga akan meliput. Dulu memang Renjun menjadi wartawan muda yang gesit dan disukai banyak pimpinan redaksi, kemampuannya yang begitu apik juga mendapat banyak pujian. Namun tetap saja ada orang-orang yang iri dengki, menganggap dirinya lebih senior, dan banyak bergosip mengenai Renjun, wajar namanya juga ‘Rekan Kerja’. Dan mereka bertigalah orangnya.
  
 
“Jadi setelah dipecat kamu alih profesi jadi pelayan nih?”, ejek salah seorang sambil memandang rendah penampilan Renjun sambil tertawa sinis.
  
“Kasian deh, gak diterima di kantor redaksi lain ya? Hmm huhu kasian deehh”
Renjun hanya memilih diam dan menerima ejekan mereka karena tak mau membuat keributan, toh apa yang mereka katakan memang benar adanya. Saat hendak kembali ke belakang stand miliknya seorang lain mengingatkan kembali.
  
   
  
“Udah bikin berita palsu mengenai pimpinan Na Jaemin, kok masih berani muncul disini sih”, ucapnya sedikit keras mengundang banyak atensi yang lain, beberapa orang yang sudah tau mengenai artikel kemarin serta mengetahui itu Renjun pun mulai mentertawakan. Jelas-jelas tadi Winnie cerita mereka berteman sejak kecil dan tinggal di perumahan mewah, tapi beraninya si Reporter baru membuat berita nekat seperti kemarin, wajar jika dirinya hancur dan tidak diterima lagi di ranah profesi ini.
Renjun semakin berkecil hati. Ia ingin segera pergi dari sini.
   
  
   
  
“Ehh pelayan jangan pergi dulu doong, saya mau kopi nya dong satu, yang panas yaa”. Pinta mereka dengan sengaja agar Renjun tetap berada disana dan menerima semua ejekan. Melihat rekannya yang lain juga sedang sibuk, mau tak mau Renjun menuruti permintaan itu. Sambil menghembuskan nafas mencoba sabar, ia mulai meracik.
  
  
“Ini kopinya”
 
“Ouh panas banget sih!”
 
Salah seorang wartawan senior berpura-pura untuk mengambil, namun belum memegang seluruh gelas kertas itu, namun sudah mengeluh terlalu panas, hingga benda itu tertekan lalu tertumpah seluruh isinya ke tubuh Renjun. Kopi yang sangat panas sesuai permintaan tadi tersiram ke telapak hingga lengan Renjun, bahkan paha nya yang dilapisi celanapun terasa panas karena terkena guyur juga.
  
“Akh hsss”
  
  
  
  
Rekan Renjun yang lainpun mendekat untuk membantu, namun lebih dahulu Jaemin bertindak. Sedari tadi pria itu memang sudah memperhatikan keberadaan Renjun di stand makanan, tapi karena harus menyapa yang lain, ia belum sempat berkunjung. Padahal sudah ada katering hotel berbintang yang menyediakan banyak makanan disini, namun ia ingin Renjun juga hadir, maka cara yang terpikir adalah dengan memesan di caffe tempat Renjun bekerja.
 
  
Jaemin kecil dulu bermimpi jika sudah berada di tempat tinggi akan selalu bersama Renjun Hyung, maka untuk kali ini di satu langkah ia lebih maju lagi, muncul keinginan dalam benak agar Renjun ikut dimalam acara dan melihatnya. Bukan untuk pamer akan kesuksesan, tapi ia ingin hyungnya memperhatikan dirinya kini, itu saja.
  
  
Namun apa yang terjadi saat ini diluar perkiraan Jaemin, rupanya isu berapa bulan lalu belum menghilang, entah mengapa beberapa wartawan itu mengerumuni Renjun, hingga tiba-tiba terdengar suara teriak kesakitan.
   
   
  
  
Jaemin segera menarik tubuh Renjun menuju kamar mandi dan mengarahkan lengan yang sudah memerah pada aliran air, agar dibasuh terlebih dahulu. Kemudian menuju ruang istirahat khusus, disana Renjun hanya terduduk diam menatap lengannya pedih. Jaemin kemudian kembali dengan beberapa obat luka, lalu yang lebih muda berjongkok untuk bisa mengobati luka itu.
 
 

   

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

  

Namun Renjun masih memilih diam sambil menunduk saja, karena rasa sakit yang ada ditangan ini tidak lebih pedih daripada cacian dari orang-orang tadi, betapa mereka meneriakan dengan kencang bahwa masa depan dan cita-cita nya sudah hancur. Ucapan buruk mengenai dirinya seorang pembual berita. Renjun menangis dalam diam, hingga air matanya jatuh mengenai tangan yang sedang diobati Jaemin.

"Renjun.."

"Apa kau puas?"

Jaemin menyerngit heran akan pertanyaan Renjun, fokusnya teralih pada air mata yang sudah membanjiri wajah cantik itu, ia menangis tanpa suara.
  
  
  
"Apa kau senang sudah menghancurkan aku begini?! kau bukan Jaemin kecil ku yang dulu, kau manusia tak punya hati!"
  
 
"Kau yang membuat ku seperti ini!!!"
Jaemin bangkit dari posisi duduk dihadapan Renjun, emosinya kembali meledak.

"Kau yang meninggalkan aku sama seperti ibu! Bukankah kita berjanji selalu bersama-sama? Aku menolak banyak ajakan untuk adopsi, jika tidak bersamamu! Tapi kau begitu saja meninggalkanku, kalian sama saja!"
  
  
  
"Apa aku pernah memintamu menolak semua tawaran adopsi? Tidak...-
Aku justru turut senang untukmu. Karena yang aku tau, walau kita di adopsi masih ada waktu dan kesempatan lain untuk bertemu".

Benar, Renjun tidak pernah meminta Jaemin untuk tetap tinggal di Panti Asuhan itu, bahkan Renjun sering kali terheran mengapa Jaemin selalu kembali dengan wajah murung saat ia dipanggil untuk menemui calon orangtua asuh.
  
   
"Apa setelah diadopsi kau pernah sekali saja berkunjung? Tidak pernah...
Kau bahkan begitu jijik akan kenyataan kau berasal dari tempat itu"
Lanjut Renjun menyadarkan Jaemin kembali, seakan selama ini yang salah hanya dirinya saja. Renjun menekan betul kata 'Jijik' karena menurutnya amarah Jaemin meledak karena artikel mengenai sang CEO yang bukan merupakan anak kandung kekuarga Na, namun hanya seorang anak yang berasal dari Panti.
  
   
  
Jaemin hanya bisa terdiam.

Renjun yang merasa lengannya tidak sesakit tadi, walau masih terasa pedih pun segera berdiri dari duduknya. Ia tidak bisa berada lebih lama lagi disini, mendengar orang-orang yang hanya mencerca dan menyalahkannya. "Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi, baik nanti atau dimasa sebelumnya"
  
  
 
Artinya sama seperti yang Jaemin lakukan sekarang, yang dipanggil hyung itu pun benar-benar ingin mengubur fakta bahwa mereka sewaktu kecil dulu pernah berteman, makan, tidur dan tinggal bersama disebuah panti.



 
Tbc.

HERE JAEMRENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang