Diam Yang Paling Ribut

12 1 0
                                        

Ruangan rehabilitasi jiwa sore itu sunyi, hanya terdengar suara detak jam dan deru napas pelan dari para pasien. Di sudut ruangan, Zia duduk membelakangi pintu. Rambutnya sedikit berantakan, dan tangan kurusnya menggenggam erat lengan bajunya sendiri, seakan itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berada di dunia nyata.

Jenika melangkah masuk perlahan, membawa nampan obat. Dia baru saja tiba untuk shift sore, dan tak menyangka kalau hari ini... akan melihat Zia seperti ini lagi.

"Zia..." panggilnya lirih.

Tak ada jawaban.

Jenika mendekat. Semakin dekat, semakin jelas matanya menangkap jemari Zia yang mencakar kulit lengannya sendiri hingga merah. Napasnya pendek-pendek. Matanya liar. Ada kegelisahan yang membara di sana.

"Zia... ini aku, Jenika. Kamu ingat aku, kan?"

Tiba-tiba Zia menjerit.

"JANGAN PEGANG AKU! JANGAN SIKSA AKU LAGI!"

Jeritan itu menggema. Pasien lain terkejut. Seorang suster buru-buru menghampiri.

Jenika terdiam sejenak. Tapi ia tak mundur. Ia tahu... ini bukan Zia yang ia kenal. Tapi juga tahu, Zia yang dulu masih ada, terkubur di balik trauma yang belum sempat sembuh.

"Zia... kamu nggak sendiri. Aku di sini, ya? Ini cuma episode gelap... tapi aku yakin, kamu akan sampai ke pagi yang tenang."

Zia perlahan berhenti berteriak. Nafasnya masih tersengal. Tapi tangisnya pecah.

Ia tak berkata apa-apa. Hanya diam... tapi matanya bertemu dengan mata Jenika, dan untuk sesaat, ada rasa tenang yang kembali singgah.

Suster menyentuh bahu Jenika, "Terima kasih ya, kamu cukup bantu kami hari ini."

Jenika mengangguk, masih menatap Zia.

Dalam hati, ia berbisik, "Maaf, Zia... kita semua terlambat menyadari. Tapi sekarang, aku nggak akan tinggal diam."

Langit sore mulai meredup di balik jendela rumah sakit, mewarnai dinding kusam ruangan itu dengan semburat jingga yang sendu. Di lantai, Zia masih duduk memeluk lutut, tubuhnya berguncang oleh isakan yang tersisa.

Jenika duduk di sampingnya, tak berkata apa-apa lagi. Hanya duduk. Menemani. Kadang, kehadiran adalah obat terbaik yang bisa diberikan.

Beberapa menit berlalu. Ketika tangis Zia mereda, ia bergumam hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Jenika menahan napas.

"Orang itu... terus datang dalam mimpi, Jenika. Aku nggak bisa tidur. Aku nggak bisa lari."

Jenika menoleh pelan, matanya berkaca.

"Zia... kamu nggak harus lari. Kamu cukup jalan. Pelan-pelan aja. Kita jalan bareng."

Zia menggeleng lemah. "Aku capek... aku takut kalau semuanya cuma bohong. Nggak ada yang peduli."

Jenika menggenggam tangan Zia, hati-hati—tak ingin membuatnya merasa terkekang.

"Aku peduli. Rafly juga. Al, almarhum Niren, Keisya... bahkan Reyhan. Kita semua peduli, Zia. Cuma mungkin... kita terlalu lambat untuk mengatakannya."

Untuk pertama kalinya, Zia tidak menarik tangannya. Ia hanya menatap Jenika, dengan mata yang mulai basah lagi.

"Kalau nanti aku hilang... jangan cari aku, ya."

"Kalau kamu hilang," jawab Jenika dengan suara pelan tapi pasti, "aku bakal nyari kamu sampai ketemu. Karena kamu penting. Karena kamu... Zia."

Matahari tenggelam sepenuhnya. Lampu ruangan dinyalakan. Keheningan kembali menyelimuti, tapi tidak terasa sesak seperti sebelumnya.

ANYELIR (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang