Pagi itu sunyi, tapi hatiku gaduh. Langit belum sepenuhnya terang, burung belum bersahutan. Namun, kepalaku… sudah riuh.
Aku pulang dengan langkah tergesa. Mata sembab. Rambutku tak sempat kusisir.
“Aku nggak bisa! Aku nggak bisa terus kayak gini!” teriakku di depan gerbang. Beberapa warga menoleh, tapi aku tak peduli. Aku lelah berpura-pura waras di dunia yang terus mengharuskanku tampak baik-baik saja.
Air mataku mengalir deras. Nafasku tersengal. Tubuhku gemetar hebat seperti hendak runtuh kapan saja.
Saat itu, dari arah berlawanan, Keisya baru datang. Ia mengenakan seragam putih-putih dan tas kecil yang biasa ia bawa saat pergantian shift PKL.
Langkahnya terhenti. Matanya melebar melihatku seperti itu.
“Zia?” panggilnya pelan, seolah tak percaya.
Aku menatapnya... sejenak saja—lalu kembali berteriak, “Kenapa aku harus terus diam?! Kenapa aku yang harus tahan semuanya sendirian?!”
Keisya langsung berlari menghampiri. Tangannya gemetar saat mencoba memegang bahuku, “Zia, ini aku, Keisya. Tolong tenang dulu… tarik napas, ya, bareng aku.”
Aku menepis tangannya. “Jangan sok tahu! Kamu nggak ngerti aku!” Tapi di balik amarah itu… ada sisi kecil dalam diriku yang ingin dipeluk, yang ingin dimengerti.
Keisya menahan napasnya sejenak. Lalu seperti mengambil keputusan besar, ia menatapku lekat-lekat.
“Zia, maaf. Tapi aku nggak bisa lihat kamu kayak gini terus. Aku bawa kamu ke RSJ lagi.”
Aku tak mengiyakan. Tapi juga tak menolak. Aku terlalu lelah untuk melawan.
🥀🥀🥀🥀🥀
Sesampainya di RSJ, Keisya langsung menghampiri suster Dewi. Suaranya pelan tapi tegas.
“Bu Dewi… saya bawa Zia lagi. Dia berteriak-teriak pagi ini. Sejak semalam dia sudah mulai berubah… kayak bukan Zia yang saya kenal dulu.”
Suster Dewi memandang ke arahku—duduk di kursi ruang tunggu, tubuhku membungkuk, tangan memeluk lutut.
“Zia teman PKL kamu, ‘kan?” tanyanya lembut.
Keisya mengangguk, lalu menambahkan lirih, “Dulu dia ceria, pintar, tenang. Tapi sejak malam itu… malam yang dia sebut 'hancur'… semuanya berubah. Dan hari ini, dia menangis dan berteriak seperti kemarin. Saya tahu ini keputusan sepihak. Saya bahkan belum bicara ke keluarganya, guru pembimbing pun belum tahu. Tapi… saya lebih takut kehilangan Zia karena kami semua terlalu lama menunggu izin.”
Suster Dewi terdiam sejenak. Lalu ia memegang bahu Keisya dan mengangguk pelan. “Kadang… cinta butuh keberanian untuk melangkahi prosedur. Terima kasih, ya.”
Tak lama, aku dipanggil masuk ke ruang psikolog. Ruangan yang dulu terasa asing, kini seperti satu-satunya tempat aman yang tersisa.
Psikolog itu menatapku... bukan seperti pasien, tapi seperti seseorang yang benar-benar ingin mendengar. “Selamat pagi, Zia. Kalau kamu belum siap bicara, tak apa. Tapi aku di sini, dan aku tidak akan pergi.”
Aku hanya mengangguk, pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu… aku merasa sedikit ringan. Bukan karena luka ini sembuh, tapi karena akhirnya, aku tidak sendirian menghadapinya.
Beberapa detik kami hanya diam. Tapi dalam diam itu, tubuhku mulai melemas. Mungkin karena untuk pertama kalinya... aku merasa tidak sedang dilawan.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” ucapku akhirnya.
“Kita mulai dari apa pun yang kamu ingat,” jawab Bu Maya.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Tanganku masih gemetar. Tapi aku ingin mencoba. Biar luka ini tidak membusuk sendirian di dalam kepala.
“Malam itu… setelah shift malam selesai, aku pulang sendiri. Aku nggak mau repotin siapa pun. Jadi aku naik angkot.”
Aku mulai bercerita. Tentang dua penumpang yang turun. Tentang sopir yang menyisakan tawa jijik dan tangan yang tak tahu batas. Tapi kali ini, aku tidak berhenti di situ.
“Waktu dia matiin mesin dan pindah ke belakang… aku tahu ada yang salah. Tapi aku nggak bisa gerak. Suara tubuhku kayak hilang. Otakku kayak beku. Aku cuma bisa bilang ‘tolong’ pelan-pelan, kayak gumaman.”
Aku menggenggam ujung jaketku. Suara mulai bergetar, tapi tak bisa kucegah.
“Dia buka resleting baju PKL-ku… Dia sentuh aku di tempat yang paling nggak boleh. Dia… dia maksa. Dan aku nggak bisa ngelawan. Rasanya kayak aku teriak dalam mimpi buruk—tapi nggak pernah ada suara keluar.”
Air mataku mengalir tanpa suara.
“Setelahnya, dia cuma bilang ‘jangan bilang siapa-siapa, nanti kamu malu sendiri’… dan aku percaya. Aku simpan semuanya sendiri. Aku tetap masuk PKL, tetap senyum, tetap pura-pura hidup. Tapi ternyata aku ga bisa, setiap malam bahkan setiap detik kejadian itu seolah ada di hadapanku. Aku sudah mencoba cara menghardik tapi tetap saja.”
Bu Maya menatapku dalam-dalam. Tidak dengan kasihan, tapi keberanian yang menular.
“Apa kamu masih menyalahkan dirimu sendiri atas malam itu?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk kecil.
“Aku merasa kotor. Rusak. Kayak nggak pantes lagi pakai seragam ini. Kayak… aku udah gagal sebelum lulus.”
Bu Maya menarik kursinya sedikit mendekat. “Zia… kamu bukan rusak. Kamu korban. Dan korban tidak pernah salah.”
Kalimat itu seperti palu yang menghancurkan belenggu tak terlihat di hatiku.
Aku menangis. Untuk pertama kalinya… bukan karena ingin mati. Tapi karena ingin hidup. Karena ternyata… masih ada tempat aman yang tersisa, di dunia yang penuh luka ini.
“Aku belum tahu gimana caranya sembuh. Tapi... aku ga bisa Bu, setiap kali mau mencoba kejadian itu terus muncul dalam otak ku. Bahkan setiap aku melihat seseorang yang menolong ku saat di tinggal supir angkot di tempat yang sepi, aku ga bisa berhenti menangis.”
Bu Maya tersenyum tipis.
“Pelan-pelan kamu pasti bisa sembuh. Dengan kamu berani cerita itu adalah awal dari keberanian yang sesungguhnya.”
🥀🥀🥀🥀🥀
....
See you next part
KAMU SEDANG MEMBACA
ANYELIR (END)
Fiksi Remaja"Psikopat" "Pria itu seorang psikopat" Zia terkejut mendengar teriakan anak kecil. Apa maksudnya psikopat, siapa yang psikopat? "Jangan mendekat, ruangan itu milik psikopat" "Pergi...!" Dia menyuruh Zia pergi dari ruangan ini? Orang yang berada dida...
