Hari itu langit mendung. Seperti tahu apa yang akan terjadi. Bukan hujan deras, hanya abu-abu yang menggantung. Tapi cukup membuat dada sesak hanya dengan menatap ke atas.
Zia duduk di bangku taman kecil rumah sakit jiwa, bersandar di belakang pohon cemara yang sudah lama meranggas. Rambutnya tergerai, kusut. Matanya sembab, dan tangannya menggenggam syal tipis yang dulu diberikan Niren sebelum...
Ah, Niren.
Senyumnya yang cerah selalu berhasil menghibur satu ruangan. Tapi kini, yang tersisa hanya nama yang tak berani disebut. Setelah malam itu, Niren memilih jalan sunyi. Tanpa pamit. Tanpa tanda. Hanya satu surat kecil dengan tulisan yang masih Zia hafal sampai sekarang: "Aku udah capek banget... tapi kalian jangan ikut nyusul, ya."
Lalu ada Al. Teman paling keras kepala, tapi juga paling ceria. Dikeluarkan mendadak dari sekolah karena kasus yang bahkan sampai detik ini masih tak dipercaya. Sejak itu, tak ada lagi kabar. Hanya sunyi, yang semakin membuat Zia merasa ditinggalkan satu demi satu.
Dan sekarang, yang tersisa tinggal tiga: Keisya, Jenika, dan Rafly.
Mereka berdiri beberapa meter dari Zia, saling menatap, saling menguatkan, sebelum akhirnya berjalan mendekat dengan langkah pelan.
"Zia..." Keisya membuka suara. Suaranya pelan, seperti takut memecah dinding rapuh yang mengurung Zia.
Zia menoleh perlahan. Tidak tersenyum. Tidak juga marah. Hanya... hampa.
"Kita... kita udah selesai PKL-nya. Hari ini, kita pamit pulang duluan," lanjut Jenika, berusaha tetap tenang walau suaranya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Zia tidak menjawab. Pandangannya kembali lurus ke depan. Menatap rerumputan yang tertiup angin. Seolah-olah rumput itu lebih bisa diajak bicara daripada orang-orang di depannya.
Rafly yang sejak tadi diam, akhirnya maju. Ia berjongkok di depan Zia, menyentuh lututnya pelan. "Zia... kuat-kuat terus ya. Aku yakin kamu pasti bisa lewatin itu semua."
Zia masih tak bereaksi.
Rafly mendekatkan wajahnya. Suaranya berubah jadi bisikan, nyaris hanya terdengar oleh Zia. Tapi kata-katanya menghantam keras ke dalam hati.
"Jangan benci obatnya... benci sama orang yang bikin kamu minum obat sialan itu. Kamu nggak gila, Zia. Kamu cuma pernah disakiti terlalu dalam."
Tiba-tiba, air mata Zia mengalir. Bukan isak. Tapi deras. Diam-diam. Air mata yang sudah terlalu lama ia tahan sejak malam itu.
Keisya ikut duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. "Zia, kamu nggak sendiri. Mungkin sekarang kita harus pulang, tapi bukan berarti kita ninggalin kamu. Kita cuma... ngasih kamu ruang buat sembuh, buat kuat lagi."
Zia akhirnya buka suara, pelan. "Tapi aku takut... begitu kalian pergi, aku benar-benar sendirian... seperti malam itu."
Keheningan menyelimuti mereka.
Rafly akhirnya berdiri. Ia menunduk, lalu berkata, "Zia, kalau kamu bisa bertahan sejauh ini... itu bukti kamu lebih kuat dari yang kamu pikir. Jangan lupakan itu."
Lalu... dari kejauhan, langkah seseorang mendekat. Reihan.
Mantan pasien kejiwaan yang dulu sempat Zia rawat. Sejak insiden pelecehan yang menimpa Zia—malam ketika teman-temannya sulit dihubungi dan ia ditinggal di tempat sepi—Reihan-lah yang datang lebih dulu. Tanpa banyak tanya, tanpa penghakiman. Ia hanya diam, dan menjaga.
Kini, Reihan menatap Zia dengan mata yang sama—mata yang menyimpan perasaan diam-diam yang belum pernah ia ungkapkan.
"Zia..." ucapnya pelan. "Aku nggak pergi. Aku di sini. Kamu boleh benci siapa pun, marah sama apa pun. Tapi tolong... jangan bunuh harapan yang masih hidup di dalam dirimu."
Zia menatap Reihan. Dan untuk pertama kalinya, ia mengangguk.
Bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi karena ia tahu, setidaknya masih ada yang akan diam-diam berdiri untuknya saat semua orang menyerah.
Keisya, Jenika, dan Rafly akhirnya pamit. Mereka melangkah mundur sambil melambaikan tangan.
"Cepat sembuh, ya Zia. Kalau udah sembuh, kita ngobrol lagi," ucap Jenika dengan senyum getir.
"Jangan lama-lama jadi pasiennya, nanti kamu ketinggalan banyak cerita," tambah Keisya.
Zia tersenyum kecil. Mungkin senyum paling tulus yang bisa ia keluarkan selama berbulan-bulan ini.
Dan saat mereka menghilang di tikungan rumah sakit, Zia tahu...
Hari ini bukan akhir. Ini adalah bab baru yang harus ia jalani sendirian.
Tapi tidak sepi. Tidak sepenuhnya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Langit masih menggantung kelabu, tapi di dada Zia mulai terasa sesuatu yang berbeda. Bukan sesak. Tapi semacam... ruang. Kecil, nyaris tak terlihat. Tapi ada.
Reihan duduk di sampingnya, tak bicara apa-apa. Ia hanya membuka termos kecil dari dalam jaketnya, menuangkan teh hangat ke dalam tutupnya yang biasa dijadikan gelas, lalu menyodorkannya pelan ke Zia.
"Teh melati," katanya singkat. "Dulu kamu pernah bilang ini bisa bikin kamu tenang."
Zia menerimanya dengan dua tangan. Aromanya familiar. Hangatnya merambat sampai ke ujung jari. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa... tidak harus kuat sepanjang waktu. Ia hanya harus ada. Hari ini. Sekarang.
Reihan menatap lurus ke depan. Tak menuntut cerita. Tak bertanya apa pun. Hanya ada di sana. Menemani.
"Kamu tahu," ucap Zia tiba-tiba, suaranya nyaris seperti bisikan. "Waktu pertama kali masuk sini, aku pikir... semuanya selesai. Aku rusak. Aku gagal."
Reihan melirik, tapi tak menyela.
"Tapi sekarang... aku mulai sadar. Mungkin ini bukan soal kalah atau menang. Tapi soal bertahan. Satu hari, satu langkah, satu napas... sampai aku bisa jalan lagi."
Reihan mengangguk pelan. "Dan kamu lagi jalan sekarang, Zia. Meski pelan, tapi kamu masih maju."
Zia menarik napas panjang. Menatap rerumputan yang masih menari pelan ditiup angin. Entah mengapa, hari ini, warna hijaunya terasa lebih hidup dari biasanya.
"Setelah semua ini, aku harus apa?" tanya Zia, lebih kepada dirinya sendiri.
Reihan menjawab tanpa menoleh, "Kamu hidup, Zia. Lanjutkan itu. Meski pelan. Meski belum tahu arah. Tapi lanjutkan."
Zia memejamkan mata. Menggenggam syal tipis di tangannya lebih erat. Lalu membuka mata perlahan, seolah dunia di sekitarnya berubah sedikit—hanya sedikit—lebih bisa diterima.
Hari itu, ia tidak pulang. Ia belum sembuh. Tapi ia mulai menata ulang hatinya. Menyulam yang robek. Mencoba memaafkan, meski belum lupa. Mencoba percaya lagi, meski takut kecewa.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, Zia menulis di buku hariannya:
"Aku masih di sini. Aku belum selesai."
🥀🥀🥀🥀🥀
Hai...
Terimakasih sudah membaca, menunggu dan menemani cerita ini sampai ga terasa udh ada di akhir cerita aja hehe....
Btw, aku udh mempersiapkan ending ini dari pas 2023....
Walaupun ending nya ga sesuai sama yang kalian mau tapi inilah yang aku siapkan.
Guys aku bingung ngasih ekstra part yang seperti apa? Komen aja ya.
Eksta part
1. Apakah Zia hrs sembuh dan balik ke kota asal nya
2. Keluarga Zia jenguk di RSJ
3. Zia kumat lagi
4. Reyhan nyatain cinta nya
5. Al balik dan notice Zia
6. Zia bundir
7. Lanjutan ketiga anak PKL yg balik ke kota asalnya?
8. Gada ektra part?
Aku sih pilih no 8
KAMU SEDANG MEMBACA
ANYELIR (END)
Ficción General"Psikopat" "Pria itu seorang psikopat" Zia terkejut mendengar teriakan anak kecil. Apa maksudnya psikopat, siapa yang psikopat? "Jangan mendekat, ruangan itu milik psikopat" "Pergi...!" Dia menyuruh Zia pergi dari ruangan ini? Orang yang berada dida...
