Malam yang begitu indah dihiasi bintang. Sesekali suara jangkrik terdengar nyaring, di selimuti dengan angin yang berhembus. Aku duduk di sebuah teras, depan sebuah kamar pasien kejiwaan. Bersama dengan sebuah buku yang sudah ku tulis 'Help Me.'
Buku yang menceritakan kisah sedih yang aku alami. Menerjang ombak yang tinggi, angin kencang yang membawa duka serta sakit yang aku rasa. Inilah aku, gadis beruntung dengan keluarga cemara katanya!
"Cemara, hahahah!" Cemara yang membuat seorang ibu diam-diam menangis. Cemara yang membuat aku sulit bersosialisasi. Cemara yang penuh dengan peraturan adalah keluarga yang aku sayangi. Namun, akankah kenyataan ini mengubah situasi? Bagaimana jika aku tak sanggup untuk mengungkap malam yang gelap pada hari suram itu?
"Gadis beruntung kebanggaan kalian sedang tidak menerima keberuntungan sekarang," ucapan ku dengan air mata yang mengalir.
Angin kembali berembus pelan, seperti membisikkan namaku dengan getir. Di balik dinding kamar itu, suara tangis kadang terdengar lirih, patah, menyayat. Seolah jiwaku dan mereka yang di dalam sana saling bersahutan dalam diam yang panjang.
Aku menarik napas, mencoba menenangkan gemuruh di dada.Tapi kenangan itu datang lagi. Malam itu. Saat semuanya berubah. Saat aku kehilangan suara. Saat pikiran ku tak lagi di penuhi oleh kenangan indah.
Aku ingin marah, tapi tak tahu harus pada siapa. Ingin melapor, tapi takut tak dipercaya. Ingin bicara, tapi semua terasa lumpuh.
"Aku baik-baik saja," kataku setiap hari, kebohongan paling mahir yang kupelajari sejak itu. Karena kenyataannya, aku tak baik. Aku hancur. Dan hancurnya bukan hanya di tubuh, tapi jauh lebih dalam… di tempat yang bahkan aku tak bisa jangkau sendiri.
Mereka bilang aku diam, padahal aku sedang berteriak di dalam kepala. Mereka bilang aku kuat, padahal aku hanya terbiasa menahan sakit.
Aku menatap buku itu lagi, Help Me.
Tulisan-tulisanku, tangis-tangis yang tak terdengar oleh siapa pun. Jika suatu hari aku tak ada, setidaknya biarkan dunia tahu: aku pernah mencoba bicara.
Bintang di langit masih bersinar, tak peduli pada lukaku. Tapi aku masih di sini. Masih bernapas. Masih berusaha. Meski dunia terasa buta dan bisu terhadap penderitaan sepertiku.
Aku memeluk lututku erat-erat. Berpura-pura dinginlah yang membuat tubuhku menggigil, padahal yang sebenarnya mengguncangku adalah bayangan pada malam itu. Bayangan yang tak pernah pergi meski matahari datang berkali-kali.
Aku benci malam, karena malam mengingatkanku pada detik ketika semuanya runtuh. Dan aku juga benci pagi, karena pagi memaksaku berpura-pura kuat di hadapan dunia.
Terkadang aku bertanya, apa salahku hingga harus menanggung luka sebesar ini? Mengapa aku, bukan orang lain? Kenapa dunia begitu kejam pada gadis yang bahkan belum selesai tumbuh?
Aku ingin tidur panjang, bukan karena lelah… tapi karena aku tak sanggup lagi membuka mata dan berpura-pura dunia ini bisa kupahami.
Aku masih di sini. Di teras ini.
Dengan mata sembab, dengan dada sesak, dengan satu harapan yang terus kutulis meski tanganku gemetar, tolong… pahami aku. Jangan selamatkan aku—cukup dengarkan aku.
Tapi semua sibuk jadi pahlawan, tak ada yang mau duduk bersamaku sebagai sesama manusia yang hancur.
Mereka ingin memperbaiki, padahal aku cuma ingin dimengerti.
Buku ini bukan kisah bahagia. Ini adalah potongan jiwaku yang tercecer. Lembaran luka yang kubiarkan terbuka, karena menyembunyikannya lebih menyakitkan dari mengakuinya.
Dan malam ini… aku tidak akan bilang aku baik-baik saja.
Karena kenyataannya, aku tidak baik.
Aku remuk, berkeping, nyaris hilang.
Tapi di balik semua kehancuran ini, aku menunggu—bukan penyelamat, tapi pelukan bukan hanya dari dia, tapi dari orang yang aku percayai. Bukan jawaban, tapi ruang untuk menangis tanpa takut dianggap lemah.
Dan mungkin, hanya mungkin, lewat tulisan ini… aku bisa menyelamatkan satu versi diriku yang kemarin sempat ingin menyerah. Entah bertahan sampai kapan jiwa dalam buku ini? Apakah selamanya atau esok akan kembali menyerah
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Hai, Sinta is back....
Gimana part ini? Kabar kalian?
Terimakasih sudah mau nunggu dan baca cerita gjls ini, walaupun part ini lebih gjls lagi. Tapi terimakasih
KAMU SEDANG MEMBACA
ANYELIR (END)
Fiksi Remaja"Psikopat" "Pria itu seorang psikopat" Zia terkejut mendengar teriakan anak kecil. Apa maksudnya psikopat, siapa yang psikopat? "Jangan mendekat, ruangan itu milik psikopat" "Pergi...!" Dia menyuruh Zia pergi dari ruangan ini? Orang yang berada dida...
