Rafly baru saja pamit, membawa serta tawa ringan yang ia tinggalkan bersama coretan sketsa. Zia mengira hari akan kembali sepi, tapi belum sempat ia memejamkan mata, pintu ruang rawat itu terbuka pelan.
Seorang laki-laki masuk, langkahnya hati-hati seperti takut mengganggu. Ia mengenakan jaket lusuh yang sudah sangat Zia kenal, tapi ia tak langsung menyadari siapa itu.
"Permisi... masih boleh jenguk pasien?" tanyanya lirih, menyembunyikan gugupnya di balik senyum sopan.
Zia tidak pernah menyangka Reyhan akan datang hari itu. Tapi ketika ia melihat sosok laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan mata teduh yang sama seperti malam itu—malam saat ia diselamatkan dari tempat gelap dan sepi—dadanya terasa bergetar.
Reyhan melangkah masuk pelan. Tidak ada senyum lebar, hanya ekspresi tenang yang selalu berhasil membuat Zia merasa... aman.
"Aku gak bawa apa-apa hari ini," ucap Reyhan sambil menarik kursi ke dekat ranjang. "Cuma bawa diri. Tapi kalau kamu mau, aku bisa dengerin."
Zia menatapnya. "Kenapa kamu selalu datang pas aku lagi... hancur?"
Reyhan tersenyum tipis. "Mungkin karena aku tahu rasanya waktu gak ada siapa-siapa."
Zia menggigit bibir bawahnya. "Aku gak lupa, Rey. Malam itu... kamu yang nolong aku."
Reyhan tidak menjawab. Hanya memandang Zia dengan cara yang membuat gadis itu ingin menangis.
"Aku cuma ngelakuin apa yang seharusnya dilakukan siapa pun kalau lihat seseorang butuh bantuan," katanya akhirnya. "Tapi jujur... sejak malam itu, aku gak pernah benar-benar bisa pergi dari situ. Dari kamu."
Zia menunduk, jari-jarinya meremas selimut. Ia ingat malam itu—dingin, sepi, tubuhnya gemetar bukan cuma karena takut, tapi karena rasa malu yang mengiris.
Tapi Reyhan tidak menghakiminya. Ia hanya memayungi Zia dengan jaketnya, lalu mengantar hingga ke rumah sakit tanpa sepatah kata pun yang menyakitkan.
"Aku kira kamu bakal ngilang," bisik Zia.
"Aku sempat ngilang. Tapi bukan karena aku lupa," jawab Reyhan. "Aku cuma... gak tahu apa aku cukup pantas buat tetap ada di sekitar kamu."
Zia terdiam.
Reyhan menarik napas dalam. "Dan sekarang, aku gak minta kamu balas apa pun. Aku cuma pengin kamu tahu... kamu bukan sendiri. Kamu gak pernah sendiri."
Dan kali ini, Zia tidak bisa lagi menahan air matanya. Tapi ia tidak sembunyi. Ia membiarkan dirinya menangis di hadapan Reyhan—seseorang yang melihat dirinya bukan sebagai korban, bukan sebagai siswi PKL, tapi sebagai Zia. Yang rapuh. Tapi tetap berharga.
Reyhan diam. Ia membiarkan tangis itu pecah, tidak mencoba menenangkan, tidak pula berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena ia tahu, tidak semua luka bisa ditambal dengan kalimat penghibur. Kadang, cukup dengan hadir. Menjadi tempat berpulang ketika dunia terasa terlalu bising.
Zia mengusap wajahnya, napasnya tersendat tapi matanya mulai berani menatap. "Aku gak tahu harus gimana mulai cerita. Rasanya semua berantakan."
"Kalau kamu mau, kita mulai dari hal kecil," Reyhan menyahut pelan. "Kayak... kamu pengin ngapain hari ini?"
Zia tersenyum samar, matanya masih basah. "Hari ini? Aku cuma pengin... tidur tanpa mimpi buruk."
Reyhan menunduk sedikit, menyandarkan kedua tangannya di lutut. "Kalau gitu, aku bakal duduk di sini sampai kamu tidur. Gak bakal pergi."
"Beneran?"
"Beneran. Asal kamu gak ngusir," jawab Reyhan sambil tersenyum kecil.
Zia tertawa lirih, lalu mengangguk pelan. "Oke. Tapi jangan nyalain lampu kalau kamu ngorok."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANYELIR (END)
Teen Fiction"Psikopat" "Pria itu seorang psikopat" Zia terkejut mendengar teriakan anak kecil. Apa maksudnya psikopat, siapa yang psikopat? "Jangan mendekat, ruangan itu milik psikopat" "Pergi...!" Dia menyuruh Zia pergi dari ruangan ini? Orang yang berada dida...
