Catatan Sidang PKL

1.1K 111 13
                                        

Hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi Zia, tentu bukan hanya Zia yang lelah namun semua rekan PKL nya. Setelah lama berkeliling-keliling lorong, akhirnya Zia dan Rafly bertemu dengan teman-temannya.

Baru saja, keduanya sampai di sebuah ruangan. Tiba-tiba semua teman mereka berdiri sambil membawa makanan untuk pasien.

"Habis dari mana kalian berdua, bukannya makan dan istirahat malah keluyuran. Tanggung sendiri tuh akibatnya, harus menunda waktu makan," jelas Jenika.

Keduanya menghela napas lelah. Seperti inilah hari-hari yang akan mereka lalui. Zia meneguk ludah melihat berbagai macam jenis makanan dan minuman yang ada di atas meja. Zia meyakinkan dirinya, ia mengambil makanan lalu berjalan bersama teman-temannya.

Kali ini di sepanjang lorong tidak ada kendala. Meskipun masih berisik, namun tidak se ramai lorong yang tadi sempat Zia dan Rafly lewati.

Mereka masuk kedalam ruangan 006 rehabilitasi. Pemandangan pertama yang dilihat adalah seorang pria yang melukis dinding dengan sangat indah, meskipun lukisan yang pasien buat tidak seindah orang lain.

Niren mendekati pasien yang diketahui bernama Zaenal. Niren berjongkok sambil meletakkan nampan berisi makanan. Dia kagum dengan para petugas medis disini. Bagaimana bisa, satu persatu pasien ini sembuh.

"Indah sekali pohon yang kamu buat, kak"

Niren bangga bisa berada di sini. Melihat pasien seistimewa ini. Pandangan Niren beralih ke Zia. Ia cukup mengerti ketakutan yang Zia alami, terkait Rey.

"Kak, saya ingin memperkenalkan teman saya. Kakak bisa kan, bercerita dan makan bersama Zia, hari ini."

"Iya, mana temen kamu," ucapnya sambil terus melukis pohon.

Niren bernapas lega, untunglah pasien rehabilitasi mau berinteraksi dengan siapa saja. Dia pandang Zia, yang tentu saja masih berdiri sambil melihat ke arahnya.

"Zia, sini." Niren melambaikan tangan, menyuruh Zia datang kepadanya.

Zia mendekat, ia tersenyum semanis mungkin. Pandangannya beralih ke lukisan, indah sekali. Apakah Niren akan memulangkan pasien Minggu ini.

"Zia, kamu nggak perlu takut. Pasien disini orang baik."

"Bener, saya orang baik," ucap Zaenal tiba-tiba masuk kedalam percakapan.

"Sudah sekarang kamu, mengobrol saja dengan pasienku. Dia ini orang baik, namanya ka Zainal. Kamu bisa bertanya apapun yang ingin kamu tanyakan Zia," jelas Niren.

Zia mengangguk mengerti. Tunggu, bagiamana dengan Rey, dia juga harus makan siapa yang memberinya makan jika bukan Zia.

"Lalu Rey," ucap zia.

"Aku yang memberikan makanan untuk Rey," kata Niren sambil tersenyum.

'ini bukan akal-akalan Niren, agar bisa berinternet dengan semua pasien kan. Bukan ah, Niren orang yang baik, tidak mungkin dia seperti itu.'

"Tapi, dia tanggung jawab aku ren," cicit Zia.

Niren tersenyum sambil menghela napas berat. Bukan ini yang Niren inginkan. Mungkin Zia benar, Reyhan adalah tanggung jawab dan pasien Zia. Akan tetapi Niren juga butuh Reyhan untuk catatan sidang PKL nya nanti. Nggak mungkin Niren hanya mengamati satu pasien di rumah sakit jiwa ini. Apa lagi mereka tentu tidak akan sanggup tiga bulan berada disini. Satu bulan berada disini saja rasanya sudah sangat lama dan melelahkan.

"Aku paham maksud kamu zi. Tapi aku mohon kali ini aja, biarin aku yang mengantarkan makanan untuk Reyhan. Aku cuma mau melengkapi catatan aku zi. Tiga bulan praktek disini, aku rasa kita tidak akan sanggup," jelas Niren.

ANYELIR (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang