8. MARTABAK TELOR

72 57 56
                                        


8. MARTABAK TELOR (SPESIAL)

Mengahabiskan waktu di rumah begitu menyenangkan. Seperti seorang Hattala Arsen yang menikmati hari liburnya dengan bermain game. Ia hanya berharap tidak ada yang mengganggu kegiatannya.

Drett!!

Drett!!

Suara getaran ponsel yang mengalihkan perhatian Arsen. Ia sengaja mengaktifkan mode getar agar tidak mengganggu permainannya.

Ia meletakkan headphone yang ia kenakan dan langsung beranjak mengambil ponsel yang berada di atas ranjang tidurnya.

Nama yang sangat ia kenal itu memenuhi layar ponselnya. Dengan segera ia menggulir tanda hijau ke arah atas.

"LAMA BANGET SIH LO NGANGKATNYA!" suara keras dari seberang sana yang membuat Arsen menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Ya! Kenapa, Dhe?" tanya Arsen dengan nada rendah, ia tidak mau memancing emosi Dhea sepupu tersayangnya itu.

"KE RUMAH GUE DONG, ARSEN YANG BAIK HATI SEDUNIAAA!" ucap Dhea masih dengan nada tingginya.

"Bisa nggak kecilin suara lo? Gue nggak mau tuli sekarang, Dhea," balas Arsen dengan nada rendah.

"Hehehe, sorry! Ke rumah gue ya, Sen!" bujuk Dhea berganti dengan nada rendah diiringi rayuan imutnya.

"Ogah! Gue lagi sibuk," balas Arsen, mana mungkin ia meninggalkan setengah permainannya. Tidak mungkin.

"Gue takut di rumah sendirian! Kok lo tega banget sih sama gue, Sen!" ujar Dhea menggunakan andalannya yaitu mendramatis.

"Lo pasti habis nonton film horor kan? Kebiasaan. Udah tau lo itu di rumah sendirian, Dhe!" jengah Arsen pada Dhea yang sulit sekali mendengarkan perkataannya.

Tut!

Lawan bicara Arsen mematikan telepon sepihak. Dengan berat hati ia mematikan komputernya, lalu ia bergegas ke kamar mandi.

Jam menunjukkan pukul 18:30 yang artinya hawa di luar dingin, jadi ia memutuskan memakai kaos dilapisi dengan hoodie hitam.

"Ma! Arsen ke rumah Dhea!" pamit Arsen pada Mama Gita.

"Hati-hati! Jangan ngebut!" ujar Mama Gita.

"Ra! Kamu beli makan malam di luar ya, Bunda sama Ayah mau keluar," ucap Bunda Sinta pada Zamora yang tengah bersantai di ruang tamu sembari memainkan tablet di tangannya.

"Berduaan aja terus! Sebenernya, Mora anak Ayah Bunda bukan sih?!" sindir Mora.

"Kamu di ajak nggak mau! Makanya cari cowok yang bener," balas Bunda Sinta.

"Kok jadi Mora yang salah!" seru Mora merasa tersindir dengan perkataan Bunda Sinta.

"Cantik-cantik, hobinya disakitin mulu," celetuk Bunda Sinta tersenyum puas melihat anak perempuan satu-satunya.

"Udah-udah, kalian ini kebiasaan! Ayah sama Bunda berangkat dulu, Ra. Kamu kalau keluar jangan pulang larut malam!" Ayah Deas melerai dengan nada lembut. Ia sangat tahu perempuan tersayangnya ini  tidak bisa di kerasin.

RHAQUELLATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang