1. PANDANGAN PERTAMA

162 122 85
                                        

1. PANDANGAN PERTAMA


Perempuan cantik yang masih tertidur diatas ranjangnya, RHAQUELLA ZAMORA (Mora).

Kring~~

Suara alarm jam yang berada dimeja membangunkan Mora saat itu juga.

"Sialan! Gue telat bangun lagi," ujar Mora bergegas mengambil handuknya dan memasuki kamar mandi yang berada didalam kamarnya.

Kali ini Mora mandi begitu cepat, tidak membutuhkan waktu lama Mora siap dengan seragamnya.

Mora langsung bergegas menuju garasi rumahnya untuk mengambil motor vespa metic warna putih yang selalu ia pakai untuk pergi ke sekolah.

"Beneran telat gue, bangke!" lirih Mora memandangi jam tangan berwarna putih yang melingkar ditangan kirinya, menunjukan pukul 07:10 , Mora langsung menancap gas motornya menuju sekolah.

Tidak membutuhkan waktu lama, Mora sampai di parkiran kedua sekolahan, yang mana parkiran ini untuk siswa-siswi yang terlambat.

Sekolah elit dipusat kota yang bernama SMA ANGKASA yaitu sekolahan Rhaquella Zamora.

"Kamu lagi, kamu lagi Mora," ujar Bapak satpam menghampiri Mora yang baru saja turun dari motor.

"Bapak kok hafal sih sama saya, kan jadi terharu," balas Mora dengan cengiran tanpa dosa.

"Lagian nih ya, pak! Parkir disini itu enak, pulangnya juga cepet, nggak ribet lagi," ucap Mora.

"Terserah kamu, sekarang cepat masuk kelas!" titah Bapak satpam.

"Siap!" Mora menghormatkan tangannya lalu berjalan menuju kelasnya.

Mora bersenandung kecil sembari mengarahkan pandangan disekitar lingkungan sekolah.

Tiba-tiba Mora menghentikan langkah kakinya ketika melihat seorang laki-laki yang tengah memainkan ponselnya sembari berjalan melewati dirinya.

Anjing, cakep banget buset! batin Mora menggigit bibir bawahnya. Matanya seakan-akan terhipnotis dengan laki-laki tersebut.

"Jantung gue," lirih Mora menempelkan tangan pada dadanya merasakan detak jantung yang tidak normal.

"Apaan sih alay lo Mora, kayak nggak pernah liat cowok aja," kata Mora melanjutkan jalan menuju kelas.

"Hallo teman-teman Mora tercintah!" sapa Mora pada teman-temannya ketika memasuki ruang kelas yaitu XII MIPA 2.

"Hai kanjeng ratu!" balas salah satu dari mereka. Teman-teman Mora sudah biasa dengan kedatangannya yang selalu telat. Kalau ditanya pasti Mora selalu jawab random.

"Untung gurunya belum dateng," ujar Amara sahabat sekaligus sebangku Mora.

"Udah nebak sih gue," balas Mora dengan senyum remeh membuat siapapun ingin memukulnya.

"Nebak-nebak, dikira lo peramal apa?" sahut Zia juga sahabat Mora.

Mora mempunyai dua teman yang sudah ia anggap saudaranya sendiri yaitu Amara dan Zia.

"Tau nggak sih, gue tadi ketemu pangeran tampan tanpa kudanya," ucap Mora antusias sembari senyum lebar membayangkan kejadian tadi.

"Yang mana lagi?" tanya Zia jengah, masalahnya Mora selalu membicarakan laki-laki yang berbeda setiap harinya.

"Nggak tau gue, pokoknya ini beda," jawab Mora dengan muka serius.

"Terserah lo," ucap Amara kembali mengarahkan pandangan pada guru yang baru saja memasuki ruang kelas.

RHAQUELLATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang