9. LUKA
MORA POV
Setelah selesai memakan martabak telor, aku bergegas untuk membersihkan badan sebelum tidur.
Rutinitasku sebelum tidur yaitu duduk di kursi balkon kamar yang mengarah ke jalanan. Suasana malam yang syahdu.
Brum!
Mendengar suara motor di nyalakan, mataku langsung tertuju pada motor KLX yang menurutku sangat tidak asing.
Iya, aku kenal dengan motor dan perawakan orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Hattala Arsen.
Aku melirik jam dinding yang berada di dalam kamar, ternyata sudah sangat larut sekali. Dan dia baru pulang dari rumah seorang perempuan yang tinggal seorang diri?
Huft!
Aku menghela nafas berat, daripada aku overthinking malam-malam, lebih baik aku tidur saja.
●
Sinar matahari mulai memasuki sela-sela tirai kamar seorang Hattala Arsen yang telah siap dengan seragam putih abu-abu yang melekat pada tubuhnya.
Dan pagi ini ia juga berjanji pada Dhea untuk berangkat bersama ke sekolah, siapa lagi yang memaksanya? Dasar sepupu yang menyusahkan.
Arsen mengacak pelan rambut yang telah ia olesi minyak rambut, lalu ia langsung menuruni anak tangga untuk menyapa penghuni rumah.
"Makan dulu, Sayang!" ucap Mama Gita dari arah dapur.
"Di sekolahan aja, Ma. Arsen jemput Dhea dulu," balas Arsen menghampiri Gita.
"Kemana sopirnya Dhea?" tanya Gita.
"Katanya lagi pulang kampung," jawab Arsen dan di angguki oleh Gita.
"Arsen berangkat, Ma!" pamit Arsen dan di angguki oleh Gita.
"Hati-hati!"
●
"Bunda! Ara berangkat dulu!" pamit Mora pada Bunda Sinta.
"Jangan buat ulah di sekolahan!" Sinta memperingati pada anak semata wayangnya.
"Nggak janji, hehe!" balas Mora menyengir tanpa dosa.
15 menit kedepan, gerbang sekolahan akan di tutup. Mora menyalakan motor kesayangannya.
Ketika akan keluar dari pekarangan rumah, ia menghentikan motornya. Pandangan Mora tertuju pada Arsen yang juga tengah memandang dirinya dengan cuek.
Diam. Itulah yang Mora lakukan sekarang ketika memandangi Dhea yang tengah duduk di jok motor Arsen, ditambah tangannya yang melingkar pada perut Arsen.
"Pagi, Mora!" sapa Dhea melambaikan tangan kanannya ketika menyadari kehadiran Mora.
"Pagi juga, Dhea," balas Mora menampilkan senyum manis pada Dhea.
"Udah?" tanya Arsen pada Dhea.
"Udah, ayo keburu telat nanti!" jawab Dhea sembari menepuk bahu Arsen.
"Pegangan!" peringat Arsen pada Dhea.
Itulah kira-kira percakapan Arsen dan Dhea yang Mora dengar. Jangan di tanya perasaan Mora sekarang, SAKIT CUY.
Sebelum mood nya tambah buruk, ia langsung menancap gas motornya dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata tanpa memperdulikan sekitar.
Sampai ia tak sadar ada anak kecil yang tegah menyebrang.
KAMU SEDANG MEMBACA
RHAQUELLA
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM MEMBACA, SEBAGIAN PART DIPRIVAT📌] Perempuan yang diam-diam menaruh rasa pada laki-laki satu ekstrakurikuler dengan dirinya. #1 uks (24/04/25)
