---
Suasana malam itu terasa hangat, tapi bukan karena cuaca. Di ruang tengah mansion yang biasanya ramai oleh tawa dan obrolan mereka, hanya terdengar suara film yang diputar setengah hati. Gracia duduk sendirian di sofa, memeluk bantal, tapi pikirannya tidak pada layar TV di depannya. Shani tak terlihat sejak beberapa menit lalu. Dan Gracia tahu—ia salah.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Mereka baru saja makan malam bersama, tertawa, saling suap, sesekali menggoda. Momen-momen kecil seperti itu selalu jadi favorit mereka. Tapi semua berubah saat Gracia menerima telepon dari temannya. Satu panggilan, lalu mengalir menjadi lima belas menit, dua puluh, lalu tiga puluh. Shani hanya menatapnya dari kejauhan, kemudian berdiri dan masuk ke kamar tanpa sepatah kata.
Gracia menghela napas pelan, lalu bangkit. Ia menatap pintu kamar Shani yang kini tertutup rapat, seperti hati yang juga sedang tertutup rapat. Ia tahu ia harus bicara.
Dengan hati-hati, ia ketuk pintu. “Ci...” panggilnya pelan. “Aku boleh masuk?”
Tak ada jawaban. Ia mencoba memutar kenop pelan-pelan. Tidak dikunci.
Shani duduk bersandar di ranjang, ponsel di tangan, wajahnya datar. Ia tak menoleh saat Gracia masuk dan duduk di pinggir kasur.
“Ci... aku tahu kamu kesel,” kata Gracia pelan.
“Enggak,” jawab Shani, masih menatap layar ponsel.
“Yakin?” Gracia mencoba senyum kecil. “Karena kamu nggak pernah segini cueknya kecuali kamu lagi kesel. Atau... cemburu?”
Shani menurunkan ponselnya, akhirnya menatap Gracia. “Aku cuma ngerasa nggak dihargai. Kita udah rencanain malam ini buat quality time. Tapi kamu malah sibuk sendiri. Sama orang lain.”
Gracia menunduk. “Aku minta maaf. Beneran. Aku nggak bermaksud ninggalin kamu kayak gitu. Temen aku panik soal kerjaan, aku cuma pengen bantu, tapi... aku salah karena nggak jelasin, nggak pamit.”
Shani menghela napas, ekspresinya melembut, tapi masih penuh kecewa. “Aku nggak suka harus bersaing buat dapet perhatian kamu. Apalagi di rumah ini. Di tempat yang kita bilang ‘rumah kita’.”
Gracia memegang tangan Shani. “Kamu nggak pernah harus bersaing. Kamu selalu jadi prioritas aku. Tapi aku sadar, prioritas itu bukan cuma tentang perasaan. Tapi soal waktu juga. Kehadiran. Dan aku janji, aku bakal lebih jaga itu.”
Shani mengalihkan pandangan, lalu perlahan bersandar ke pelukan Gracia yang mendekat.
“Aku diem bukan karena aku nggak peduli,” gumamnya. “Justru karena aku terlalu peduli.”
Gracia mengecup puncak kepala Shani. “Kamu boleh marah, boleh cemburu. Aku lebih milih kamu jujur daripada kamu nyimpan semuanya sendiri.”
Mereka diam sejenak, hanya pelukan yang berbicara.
“Aku sayang kamu, Ge,” ucap Shani akhirnya.
“Aku juga, Ci. Lebih dari apapun. Dan aku nggak akan biarin hal kecil bikin kita jauh.”
Malam itu, film di ruang tengah masih menyala, tapi tak seorang pun menontonnya. Karena yang mereka butuhkan bukan hiburan, tapi pelukan, pengertian, dan keberanian untuk terus saling memilih—meski tak selalu sempurna.
---
Hari itu langit mendung, tapi Shani tetap tenggelam dalam pekerjaannya di kantor. Deretan laporan, email, dan notulen rapat tak henti-hentinya mengisi layar laptopnya. Tangannya cekatan, tapi matanya mulai terasa perih, pundaknya kaku. Ia menghela napas panjang, menyandarkan tubuh sejenak ke kursi kantornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold But Sweet
Romance"Aku tidak menyangka aku bisa luluh begitu saja ketika melihat perempuan ini" -S "Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya meskipun terkadang dia sangat dingin kepada orang-orang" -G
