Begitu pintu utama terbuka, hawa hangat rumah menyambut mereka. Cahaya temaram dari lampu gantung membuat foyer mansion tampak seperti lukisan—tenang, damai, dan... penuh harapan.
Shani menggenggam tangan Gracia erat. Bukan hanya sebagai penyambut, tapi sebagai tanda: _ini rumah kita sekarang._
Gracia memandang sekeliling, matanya berbinar. Walaupun sudah sering datang ke mansion ini, malam ini terasa berbeda. Setiap sudut kini bukan sekadar ruang—melainkan bagian dari awal kehidupan baru mereka bersama.
“Ge,” kata Shani, menarik koper kecil yang dibawa Gracia, “Kamu mau istirahat dulu, atau mau keliling rumah? Biar aku kasih tur resmi sebagai co-owner sekarang.”
Gracia terkikik. “Boleh. Tapi aku udah hafal tiap sudut rumah ini, Ci.”
Shani tersenyum licik. “Kalau begitu... aku tunjukin tempat-tempat rahasia yang belum pernah kamu lihat.”
Mereka berjalan berdampingan melewati ruang tamu luas yang penuh sofa empuk dan jendela kaca besar. Sampai akhirnya Shani membawa Gracia ke sebuah pintu kecil di balik rak buku.
“Apa ini?” tanya Gracia penasaran.
“Buka aja.”
Dengan hati-hati, Gracia mendorong pintunya—dan matanya langsung membelalak.
Di balik pintu itu, tersembunyi sebuah ruang mungil berisi piano putih mengilap, beberapa rak buku, dan kursi empuk yang menghadap ke jendela kecil.
“Ini... ruang rahasiamu?” tanya Gracia terharu.
Shani mengangguk. “Tempat aku ngilang kalau lagi overwhelmed. Cuma beberapa orang yang tahu. Dan mulai sekarang... ini juga ruangmu.”
Gracia melangkah masuk, jemarinya menyentuh tuts piano pelan.
“Mainin sesuatu,” bisik Shani.
Dengan senyum malu-malu, Gracia duduk di bangku piano, dan mulai memainkan melodi sederhana. Lagu itu lirih, manis, penuh ketidaksempurnaan yang justru membuatnya terasa nyata. Shani berdiri di belakangnya, tangan dilingkarkan di bahu Gracia.
Malam itu, dalam denting piano dan hembusan angin malam dari jendela kecil, mereka membangun kenangan pertama mereka sebagai pasangan yang tinggal bersama.
---
Hidup bersama ternyata bukan sekadar soal berbagi ranjang dan ruang tamu. Ada banyak hal kecil yang membuat mereka belajar lebih banyak tentang satu sama lain.
Seperti pagi pertama mereka.
Shani membuka matanya karena suara gaduh dari dapur. Dengan setengah sadar, ia melangkah turun, hanya untuk menemukan pemandangan absurd: Gracia, dengan celemek bertuliskan ‘Kiss the Chef’, sedang berjuang menyalakan kompor.
“Kamu mau bakar rumah kita di hari pertama?” goda Shani, sambil menyandarkan tubuh di pintu dapur.
Gracia berbalik, mukanya merah. “Aku mau bikin sarapan romantis... Tapi kenapa kompor ini kayak mesin alien sih?!”
Shani tertawa, lalu menghampiri. Ia dengan sigap menyalakan kompor, menunjukkan tombol-tombol rahasianya. “Ini mansion tua, Ge. Banyak alat yang kudu diakalin sedikit.”
“Kenapa kamu nggak kasih tahu dari kemarin?” keluh Gracia manja.
“Biar kamu tetep butuh aku.” Shani berkedip nakal.
Akhirnya, mereka membuat sarapan bareng—walau lebih banyak tertawa dan saling mengejek daripada memasak sungguhan. Telur ceplok gosong, roti panggang yang terlalu kering, dan jus jeruk yang terasa seperti air lemon—semuanya jadi bagian dari momen yang mereka tahu akan mereka kenang bertahun-tahun ke depan.
---
Seiring berjalannya waktu, tentu tak semuanya manis. Ada juga perbedaan kecil yang kadang membuat mereka kesal satu sama lain.
Seperti ketika Shani terlalu perfeksionis.
Suatu malam, Gracia baru saja selesai mendekorasi ruang tamu dengan beberapa pot tanaman kecil yang ia beli. Dengan bangga, ia memanggil Shani untuk melihat.
“Lucu kan? Biar rumah kita lebih hidup!” serunya.
Tapi reaksi Shani membuat semangat Gracia langsung turun.
Shani mengernyit, meneliti posisi pot, lalu mulai menggeser satu per satu. “Yang ini terlalu dekat ke jendela. Yang ini bakal menghalangi sirkulasi udara. Harusnya kamu diskusi dulu sama aku soal tata letak.”
Gracia terdiam. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia masuk ke kamar.
Butuh beberapa detik bagi Shani untuk sadar: ia baru saja menyakiti orang yang ia cintai, karena hal sepele.
Dengan cepat ia menyusul ke kamar.
Gracia duduk di tepi ranjang, memeluk lutut.
“Ge...” panggil Shani pelan.
“Sorry,” gumam Gracia, “Aku cuma pengen bikin rumah kita lebih hangat. Tapi kayaknya malah ganggu ya.”
Shani merasa dadanya diremas. Ia berlutut di depan Gracia, menatapnya dengan penuh penyesalan.
“Aku yang minta maaf,” kata Shani lembut. “Aku kebiasaan ngatur semua hal, karena... itu caraku bertahan selama ini. Tapi sekarang aku nggak sendiri lagi. Aku harus belajar... berbagi ruang. Bukan cuma ruang fisik. Tapi ruang di hati.”
Gracia perlahan menatap Shani.
“Aku suka semua tanaman itu,” lanjut Shani. “Aku suka apapun yang kamu bawa ke rumah ini. Karena itu bikin rumah ini... jadi rumah beneran. Rumah kita.”
Senyum perlahan kembali ke wajah Gracia. Ia menarik Shani ke pelukannya. Tak butuh kata-kata lagi. Dalam pelukan itu, semua perbedaan menjadi jembatan, bukan jurang.
---
Hari-hari berlalu, dan mereka menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Contohnya, makan malam impulsif yang dimana pada suatu malam hujan deras, mereka memutuskan masak mie instan pakai topping aneh-aneh. Sosis, keju, sampai nori yang sudah expired—semua masuk. Atau ketika mereka menggelar kasur lipat di ruang tamu, nonton film-film klasik sambil rebutan popcorn. Bahkan, Gracia mulai ikut membantu proyek-proyek desain interior di mansion, menata ruang-ruang yang sebelumnya dibiarkan kosong oleh Shani. Dan tiba-tiba musik lama diputar, dan Shani menarik Gracia menari di lantai dapur, di antara wajan dan panci.
Setiap pagi, salah satu dari mereka meninggalkan catatan kecil di meja makan. Kadang berisi pujian, kadang lelucon receh, kadang janji untuk pulang cepat malam itu. Semua momen kecil itu, meski tampak remeh, menenun benang-benang cinta yang kuat dan tak kasat mata di antara mereka.
---
Suatu sore, mereka duduk di teras belakang. Gracia bersandar di bahu Shani, menikmati matahari terbenam.
“Ci...” panggil Gracia.
“Hm?”
“Kamu pernah kepikiran punya anak?”
Shani terdiam beberapa saat, merenung. “Dulu... aku takut banget ngebayangin jadi orangtua. Takut ngulangin kesalahan orangtuaku.”
Gracia menggenggam tangan Shani erat.
“Tapi sekarang...” lanjut Shani pelan, “kalau sama kamu... aku rasa aku bisa belajar. Kita bisa belajar bareng.”
Gracia tersenyum lebar.
“Kamu mau?” tanya Shani.
Gracia mengangguk. “Mungkin nggak sekarang. Tapi nanti. Kita pelan-pelan aja.”
Shani menatap langit yang mulai berubah warna. Masa depan mereka masih penuh ketidakpastian, tapi satu hal pasti: bersama Gracia, ia siap menghadapi apapun.
---
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold But Sweet
Romance"Aku tidak menyangka aku bisa luluh begitu saja ketika melihat perempuan ini" -S "Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya meskipun terkadang dia sangat dingin kepada orang-orang" -G
