Langit di luar jendela mulai berubah warna—dari kelabu menuju oranye keemasan. Sinar matahari sore masuk melalui celah tirai, menari di atas lantai dan menyoroti dua sosok yang masih tenggelam dalam pelukan.
Shani duduk bersandar di sofa, rambutnya sedikit berantakan tapi matanya tenang, menatap Gracia yang kini bersandar di dadanya. Jari-jari mereka saling terkait, seolah tak ingin saling lepas.
Gracia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Tadi itu… agak gila ya,” gumamnya.
Shani tertawa pelan, membelai rambut Gracia yang sedikit kusut. “Tapi kamu nggak nyesel, kan?”
Gracia menggeleng pelan. “Nggak. Sama sekali nggak.”
Hening sesaat. Tapi bukan hening yang canggung—justru hening yang nyaman. Yang hanya terjadi saat dua hati bicara tanpa suara.
“Aku suka sisi kamu yang ini,” kata Gracia akhirnya. “Yang... spontan, tapi tetap penuh perhatian.”
Shani tersenyum miring. “Cuma kamu yang bisa bikin aku begini.”
Mereka saling pandang. Ada sesuatu di mata mereka yang dalam—lebih dari sekadar gairah, lebih dari sekadar cinta. Ada rasa syukur. Karena di tengah kesibukan, kesalahpahaman, dan keraguan, mereka masih bisa kembali ke satu titik: satu sama lain.
Shani menarik Gracia lebih dekat, membiarkan kepalanya bersandar di pundak. “Janji ya,” katanya pelan. “Kalau dunia ini makin gila... kita tetap waras bareng-bareng.”
Gracia tertawa kecil. “Janji. Tapi kalau kita ikut jadi gila juga... ya nggak apa-apa, asal gila bareng.”
Shani menutup mata, menikmati kehangatan Gracia di sisinya. “Aku nggak butuh dunia waras kok. Aku cuma butuh kamu.”
Dan di ruangan itu, di antara tumpukan berkas dan kopi yang sudah dingin, dua jiwa saling menemukan tempat pulang—bukan pada tempat, tapi pada satu sama lain.
---
Beberapa hari berlalu sejak sore itu di kantor. Momen itu terus membekas dalam pikiran mereka—bukan hanya karena keintiman fisiknya, tapi karena kedekatan emosional yang terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Pagi itu, Gracia bangun lebih dulu. Matahari baru saja merambat masuk ke sela-sela tirai kamar, membias lembut di dinding dan seprai putih. Shani masih terlelap di sampingnya, rambut berantakan menyentuh bantal, napasnya teratur. Gracia tersenyum sendiri sambil menatap wajah yang damai itu.
Ia menyentuh pipi Shani pelan, lalu berbisik, “Cantik banget kamu kalau lagi tidur.”
Shani bergumam setengah sadar, mengerutkan kening. “Jangan ganggu... lima menit lagi…”
Gracia terkikik kecil. “Kita ada meeting jam sembilan, ingat?”
Shani menggumam pelan, matanya mulai membuka perlahan. Begitu melihat Gracia, senyum malas muncul di wajahnya. “Aku rasa aku lebih pilih kamu daripada meeting.”
“Tapi kamu bosnya. Kalau kamu nggak datang, semua bakal panik.”
Shani menarik selimut, menyelimuti Gracia juga. “Biarkan mereka panik sebentar. Aku mau peluk kamu dulu.”
Gracia tertawa, tapi tak menolak saat Shani menariknya ke dalam pelukan, tubuh mereka menyatu di bawah selimut hangat.
“Kemarin itu… bikin aku mikir banyak,” kata Shani pelan.
Gracia mengangkat alis. “Tentang apa?”
Shani diam sejenak sebelum menjawab. “Tentang gimana aku selama ini suka nyimpen semuanya sendiri. Aku takut kelihatan lemah, bahkan sama kamu. Tapi ternyata... saat aku berani jujur, saat aku buka sisi paling rapuhku, kamu nggak pergi. Kamu justru makin deket.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold But Sweet
Romans"Aku tidak menyangka aku bisa luluh begitu saja ketika melihat perempuan ini" -S "Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya meskipun terkadang dia sangat dingin kepada orang-orang" -G
