Pagi itu, mansion terasa lebih sepi dari biasanya. Gracia yang baru saja bangun berjalan pelan ke dapur, mengenakan piyama abu-abu dengan rambut masih berantakan. Tapi, begitu ia menyadari meja makan kosong dan tak ada aroma kopi seperti biasa, dahi Gracia mengernyit.
“Shan?” panggilnya pelan, berjalan ke ruang tengah.
Tak ada jawaban. Ia memeriksa ruang kerja, ruang musik, bahkan taman belakang. Dan akhirnya—kamar Shani.
Saat pintu kamar terbuka, Gracia menemukan Shani meringkuk di ranjang, selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tapi dari nafasnya yang berat dan wajahnya yang memerah, Gracia langsung tahu: Shani sakit.
“Ci...” Gracia langsung menghampiri, menyentuh kening Shani. Panas.
Shani membuka mata sedikit. “Ge... jangan deket-deket. Nular nanti,” gumamnya lirih.
Gracia duduk di pinggir ranjang, mengusap pipi Shani lembut. “Kenapa nggak bilang semalam? Kamu paksain kerja lagi, ya?”
Shani hanya mengangguk pelan. Matanya setengah tertutup.
“Berapa suhu tubuhmu?” Gracia langsung berdiri, mengambil termometer dan menempelkan di bawah lengan Shani. Sambil menunggu, ia mengambil air putih dan menyodorkan ke Shani.
“Teguk dikit dulu,” ucapnya tegas.
Shani mengerucutkan bibir, “Nggak mau... pahit di lidah.”
Gracia menatapnya tajam. “Shani Indira, jangan mulai manja kayak anak lima tahun.”
Shani justru meringkuk lebih dalam ke selimut, suaranya seperti anak kecil, “Nggak mauuu...”
Gracia menahan senyum. Bahkan dalam kondisi demam, Shani tetap keras kepala. Tapi kali ini, ada sisi dirinya yang lebih manja dari biasanya.
Termometer berbunyi. Gracia mengecek: 38.6°C.
“Oke. Kamu harus minum obat.”
“Nggak suka obat,” jawab Shani, matanya masih tertutup.
Gracia memutar mata. Ia tahu, bujuk rayu biasa nggak akan mempan. Maka, ia beranjak ke dapur, membuatkan teh manis hangat dan menyelipkan satu tablet parasetamol di bawah bantal sambil menyiapkan serangan berikutnya.
Kembali ke kamar, ia duduk di samping Shani sambil mengusap rambutnya lembut.
“Ci...” bisiknya manis, “Kalau kamu minum obat sekarang... nanti malam aku peluk kamu semalaman penuh. Boleh manja sepuasnya.”
Shani membuka satu mata, ekspresinya curiga. “Bener?”
Gracia mengangguk. “Janji. Bahkan aku yang nyuapin kamu makan malam nanti.”
Shani masih diam.
“Aku juga bisa nyanyiin kamu lagu sebelum tidur,” tambah Gracia sambil tersenyum genit.
Shani mendesah panjang, lalu mengulurkan tangan ke bawah bantal, mengambil obat yang sudah Gracia siapkan. “Kamu tega banget ya, pakai kelemahanku buat nyuruh aku minum obat.”
“Aku cuma pakai taktik yang efektif,” sahut Gracia sambil menyodorkan teh.
Shani akhirnya meneguk, lalu menyenderkan kepala di pangkuan Gracia.
“Kamu harus istirahat penuh hari ini, oke? Nggak boleh buka laptop, nggak boleh mikirin proyek.”
Shani hanya mengangguk lemas, tapi senyum tipisnya muncul. “Kamu jadi galak banget kalau aku sakit.”
“Karena aku sayang,” jawab Gracia sambil mencium kening Shani pelan.
---
Siang harinya, mansion yang biasanya dipenuhi suara langkah Shani kini terasa tenang. Gracia mondar-mandir sambil membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil, sesekali mengecek suhu tubuh Shani yang masih tinggi. Sambil mengganti kompres di dahi kekasihnya, Gracia diam-diam mencuri pandang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold But Sweet
Romance"Aku tidak menyangka aku bisa luluh begitu saja ketika melihat perempuan ini" -S "Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya meskipun terkadang dia sangat dingin kepada orang-orang" -G
