Pagi itu, langit mendung dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Di kamar apartemennya yang tenang, Shani terbangun dengan kepala yang berat dan tubuh menggigil. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan ia merasa dunia berputar setiap kali mencoba bangkit dari tempat tidur. Napasnya pendek, dan tubuhnya terasa panas—ia sadar, ia sedang demam.
Dengan lemah, ia meraih ponselnya di meja samping ranjang dan menatap layar sebentar, sebelum akhirnya mengirim pesan singkat kepada Gracia:
"Ge, aku kayaknya sakit..."
Tak butuh waktu lama, Gracia yang sedang bersiap untuk pergi bekerja langsung membatalkan semua agendanya. Ia tahu Shani bukan tipe orang yang akan mengeluh kalau tidak benar-benar merasa tidak enak badan. Tanpa pikir panjang, ia langsung melesat ke apartemen Shani dengan membawa beberapa obat, buah, dan bubur hangat yang ia beli di perjalanan.
Sesampainya di sana, Gracia membuka pintu dengan kunci cadangan yang memang pernah diberikan Shani padanya—untuk situasi seperti ini.
"Ci?" panggilnya pelan dari pintu masuk, sambil melepas sepatu dan menyusuri lorong menuju kamar. Tidak ada jawaban.
Saat Gracia masuk ke kamar, jantungnya sedikit mencelos. Shani terbaring gelisah, wajahnya pucat dan keningnya tampak berkeringat. Tubuhnya sedikit menggeliat, seolah sedang melawan sesuatu dalam mimpi. Gracia buru-buru mendekat dan menyentuh dahi Shani. Panasnya langsung terasa di telapak tangan.
"Ci... Shani, bangun..." Gracia menggoyangkan tubuh Shani perlahan.
Shani tiba-tiba mengerang pelan, wajahnya tampak tegang. "Jangan... jangan tinggalin aku..." gumamnya dalam tidur.
Gracia terdiam sejenak, hatinya terasa teriris mendengar kalimat itu. Ia tahu, meskipun Shani terlihat tenang di permukaan, masih ada banyak luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Gracia membelai rambut Shani dengan lembut, sambil terus membisikkan, "Aku di sini, Ci. Aku nggak akan ke mana-mana."
Pelan-pelan, napas Shani mulai tenang. Matanya terbuka setengah, pandangannya masih kabur, tapi ia bisa melihat siluet Gracia di sisi tempat tidurnya.
"Ge... kamu datang?" suara Shani serak.
Gracia tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Tentu aku datang. Kamu pikir aku bakal ninggalin kamu pas kamu sakit?"
Shani menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan tubuhnya yang lemah. "Aku mimpi buruk... kamu pergi, dan aku sendirian lagi..."
Gracia meraih tangan Shani dan menggenggamnya erat. "Aku nggak ke mana-mana, sayang. Aku di sini. Dan aku akan tetap di sini. Kamu nggak sendiri lagi."
Air mata Shani mengalir pelan di sudut matanya—bukan karena sakitnya, tapi karena rasa hangat yang tumbuh di dadanya. Untuk pertama kalinya, saat ia sedang paling rapuh, ada seseorang yang benar-benar hadir.
Gracia mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu mengusap pelan wajah Shani. Ia menyelimuti tubuh kekasihnya lebih rapat, lalu duduk di sampingnya, tak berniat pergi sedikit pun.
Hari itu, di tengah suhu tinggi dan tubuh yang lemah, Shani tahu satu hal pasti: ia benar-benar dicintai. Bukan hanya dalam keadaan cerah dan bahagia, tapi juga dalam sakit, ketakutan, dan kelemahannya.
Dan saat tubuhnya mulai tertidur kembali—kali ini dalam mimpi yang tenang—tangannya tetap menggenggam tangan Gracia. Erat. Karena ia tahu, cinta sejatinya sedang menjaganya, tepat di sisinya.
Beberapa jam berlalu, dan demam Shani mulai sedikit mereda. Meski tubuhnya masih terasa lemas, ia merasa jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya—terutama karena Gracia tak beranjak sedikit pun dari sisinya. Gracia bahkan sempat tertidur di kursi di samping ranjang, tangannya tetap menggenggam tangan Shani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold But Sweet
Romance"Aku tidak menyangka aku bisa luluh begitu saja ketika melihat perempuan ini" -S "Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya meskipun terkadang dia sangat dingin kepada orang-orang" -G
