Memasuki usia tujuh bulan kehamilan, tubuh Marsha semakin berubah. Perutnya membesar signifikan, membuat tidurnya tak pernah benar-benar nyaman. Kadang ia harus duduk setengah rebah di tengah malam, sambil memeluk guling besar yang dibelikan Zean khusus agar ia bisa sedikit lebih tenang saat tidur.
Namun bukan hanya fisik yang berubah. Emosinya juga naik turun seperti ombak pantai. Kadang ia menangis tanpa sebab, kadang tertawa geli sendiri, dan yang paling sering-marah-marah tidak jelas.
"Mas! Ini sendok taruhnya sembarangan lagi!" bentak Marsha pagi itu, padahal Zean baru saja menaruh sendok bersih di atas meja makan.
Zean yang masih setengah mengantuk hanya mengangkat alis, bingung. "Itu kan bersih, Sha. Aku cuma-"
"Ya tapi bukan tempatnya di situ! Kan aku udah bilang, sendok yang udah dicuci langsung masuk ke laci, jangan ditaruh sembarangan!"
Zean menelan ludah. "Iya, iya. Maaf. Aku salah."
Marsha menghela napas panjang lalu berjalan ke dapur sambil menggerutu. "Kalau kayak gini terus, aku bisa gila sendiri di rumah..."
Zean menatap punggung istrinya sambil mengusap wajah. Ia tahu ini bukan Marsha yang biasanya. Ini bukan karena Marsha marah pada dirinya, tapi karena hormon kehamilan yang sedang mengacaukan suasana hati istrinya.
Beberapa hari terakhir, memang semuanya terasa seperti 'zona rawan'. Salah angkat suara sedikit, Marsha bisa menangis. Terlalu banyak diam, ia merasa diabaikan. Dan Zean, sebisa mungkin menyesuaikan diri-walaupun kadang pikirannya sendiri sudah nyaris meledak karena menahan kesabaran.
Namun, meski lelah, Zean tahu satu hal pasti: ini hanya fase. Dan Marsha butuh dia lebih dari kapan pun.
---
Suatu sore, sepulang kerja, Zean membawa pulang donat kesukaan Marsha. Ia sengaja membelinya karena tahu akhir-akhir ini istrinya sering ngidam manis-manis.
"Sayang, lihat deh. Aku bawain donat rasa matcha yang kamu suka," ucap Zean sambil menunjukkan kotak berisi donat dari toko favorit mereka.
Namun, reaksi Marsha tidak seperti yang ia harapkan.
"Kenapa beli yang matcha sih?" keluh Marsha sambil menatap donat itu.
"Lho? Kamu kan suka banget yang matcha..."
"Itu kemarin! Sekarang aku pengen yang coklat, bukan matcha," balas Marsha, suaranya meninggi.
Zean hanya bisa diam. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan. Tapi tiba-tiba, Marsha duduk di sofa dan mulai menangis.
"Aku jadi merasa gak dimengerti... Kamu gak peduli aku maunya apa..."
Zean langsung duduk di sebelahnya, memeluk bahu Marsha dengan lembut.
"Aku peduli, sayang. Aku cuma... gak tahu kalau seleramu berubah. Maaf ya. Besok aku beli yang coklat. Dua kotak sekalian."
Marsha tak menjawab, tapi ia membiarkan dirinya dipeluk. Air matanya masih mengalir, tapi detak jantungnya mulai tenang seiring tangan Zean yang mengusap punggungnya dengan lembut.
Zean membelai rambut Marsha dan membisikkan kata-kata yang ia tahu bisa meredakan emosi istrinya.
"Kamu kuat. Kamu hebat. Aku bangga banget sama kamu..."
---
Satu minggu kemudian, giliran orangtua Marsha yang datang berkunjung. Indah dan Oniel datang membawa oleh-oleh dari kampung, termasuk daun katuk dan ikan segar yang katanya bagus untuk ibu hamil.
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (ZeeSha)
Romancega pandai buat deskripsi, jadi kalo kepo baca aja, bxg! Cerita ini hanya memfokuskan pada Zee Dan Marsha! Jangan lupa vote nya kalo kalian suka sama ceritanya 😊 Ini cerita wp pertama yang author buat, jadi mohon maaf kalo ceritanya agak berantakan...
