32 [S2]

410 42 1
                                        


Beberapa hari setelah kehamilan Marsha yang memasuki bulan ketujuh, suasana rumah mulai lebih stabil. Mood swing Marsha tidak seintens sebelumnya, meskipun tetap saja Zean harus ekstra sabar setiap harinya. Namun, sebuah hal kecil mulai mengusik ketenangan itu.

Hari itu, Zean baru saja pulang kerja. Wajahnya terlihat lelah, dasinya belum sempat ia lepas, dan ia membawa berkas-berkas di tangan. Ia masuk ke kamar dan langsung mencium kening Marsha seperti biasa.

"Hari ini melelahkan banget," gumam Zean sambil duduk di tepi ranjang.

Marsha mengusap perutnya yang makin besar. "Banyak kerjaan?"

"Banyak banget. Apalagi Aldo baru pindah divisi, jadi sekarang semua keperluan pribadi ditangani sama asistennya, Dira."

Marsha yang sedang membolak-balik majalah ibu hamil langsung mengangkat kepala. "Dira?"

Zean mengangguk sambil menaruh map di meja.

"Yang cewek tinggi itu?"

"Iya. Yang rambutnya agak panjang. Dulu di bagian event, tapi sekarang bantu aku langsung."

Marsha mendadak merasa tidak nyaman. Ia mengangguk pelan, tapi dalam hati ada rasa aneh yang mulai tumbuh. Ia pernah bertemu Dira sekali di kantor saat menjemput Zean. Gadis itu memang ramah dan cerdas, tapi juga tampil stylish dan enerjik dan entah kenapa hari itu, Marsha jadi sensitif akan hal itu.

"Mau teh hangat?" tanya Zean.

"Nggak usah," jawab Marsha datar.

Zean mengangkat alis. "Kamu kenapa?"

"Enggak kenapa-kenapa," jawab Marsha cepat.

---

Beberapa hari setelah itu, Marsha melihat Zean pulang agak malam. Saat ditanya, Zean menjelaskan bahwa ia harus rapat tambahan bersama tim dan asisten barunya yaitu Dira, untuk membantu mempersiapkan presentasi.

Marsha mulai menyimpan perasaan tak nyaman dalam diam. Mungkin ini cuma pikiran ibu hamil yang berlebihan. Tapi mungkin juga tidak.

Rasa cemburu bukan hal baru, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa cemas. Perutnya yang semakin besar membuatnya tak leluasa berdandan atau terlihat menarik seperti dulu. Ia merasa lelah, mudah berkeringat, bahkan kadang malas bercermin. Dan kini, mendengar nama Dira muncul berulang kali dari mulut suaminya, perasaan itu meledak perlahan.

---


Pagi itu, Marsha membuka laptop Zean yang tertinggal di meja makan. Ia hanya ingin membuka folder foto bayi yang mereka simpan bersama, tapi tanpa sengaja, ia melihat notifikasi email masuk dari "Dira S." dengan subjek: "Untuk rapat klien jam 10, ini rundown-nya pak!"

Tanpa membuka emailnya pun, isi kepalanya langsung berisik hal hal aneh.

Ketika Zean turun dari kamar setelah mandi, ia melihat ekspresi Marsha yang dingin. Kali ini bukan karena hormon, Zean bisa merasakannya.

"Kamu kenapa?" tanya Zean hati-hati.

"Kamu suka sama Dira?"

Pertanyaan itu membuat Zean diam sejenak. "Hah?"

"Dira. Asisten kamu. Dia cantik, pinter, stylish. Dan kamu akhir-akhir ini ngomongin dia terus. Jangan-jangan kamu lebih nyaman sama dia daripada sama aku yang sekarang kelihatan kayak bola jalan."

Zean langsung mendekat, duduk di sebelah Marsha. "Sha... kamu dengerin aku sebentar, ya."

Tapi Marsha mengalihkan wajah, menahan air mata. "Aku tahu aku nggak secantik dulu. Aku tahu aku nggak semenarik dulu. Tapi aku istri kamu, dan aku lagi hamilin anak kamu. Harusnya kamu lebih banyak cerita ke aku, bukan ke dia!"

Zean terdiam sejenak. Ia menatap Marsha lama sebelum akhirnya menarik napas dalam.

"Kamu salah paham, sayang. Aku memang kerja bareng Dira karena dia asistenku. Tapi aku sama dia cuma urusan kerja. Dan aku cerita ke kamu tentang dia bukan karena aku suka, tapi karena aku nggak nyembunyiin apa-apa. Aku pikir justru kamu akan lebih tenang karena aku terbuka."

Marsha masih menunduk.

Zean melanjutkan, lebih lembut, "Aku nggak pernah sekalipun bandingin kamu sama siapapun. Kamu tetap perempuan paling cantik buat aku. Justru sekarang, aku jatuh cinta kamu berkali-kali lipat karena kamu kuat banget, bawa anak kita setiap hari, sakit, ngantuk, pegal, marah-marah, tapi kamu tetap bertahan."

Marsha mulai menangis.

Zean menggenggam tangannya. "Kalau aku bisa pilih, aku tetap mau kamu yang sekarang. Bahkan kalau kamu makin gemuk, makin sensitif, atau makin sering marah. Aku cinta kamu karena kamu Marsha, bukan karena kamu kurus atau nggak hamil."

Tangis Marsha pecah makin deras.

"Aku cemburu, Mas... aku takut kamu berubah... takut kamu bosan lihat aku begini..."

Zean memeluknya erat. "Aku nggak pernah bosan. Aku malah makin yakin, kamu satu-satunya perempuan yang aku mau seumur hidup."

---

Beberapa hari setelah insiden itu, Zean mengambil inisiatif. Ia mengatur pertemuan santai di luar kantor antara dirinya, Dira, dan Marsha. Mereka bertemu di sebuah café dekat rumah. Dira menyambut Marsha dengan hangat, dan langsung membantu memindahkan kursi agar Marsha bisa duduk dengan nyaman.

"Wah, Mbak Marsha makin glowing. Hamil tujuh bulan, tapi masih kelihatan segar banget!" puji Dira tulus.

Marsha sedikit canggung, tapi mulai merasa lebih tenang.

Selama obrolan, Zean juga tak segan-segan memuji istrinya di depan Dira.

"Kalau urusan mengatur waktu, aku belajar dari Marsha. Dia dulu paling jago ngatur rundown acara kampus. Aku aja kalah."

Dira hanya tersenyum. "Pantesan Mas Zean bisa kerja cepat, ternyata istrinya jago banget juga. Saya banyak belajar nih dari Mas, Mbak."

Setelah pertemuan itu, Marsha akhirnya merasa lega. Ia sadar bahwa semua kekhawatirannya selama ini adalah bayangan yang dibesarkan oleh rasa tidak aman dalam dirinya sendiri.

Di perjalanan pulang, Marsha menggenggam tangan Zean erat.

"Terima kasih ya, udah ngerti perasaanku. Maaf kalau aku sempat mikir aneh-aneh..."

Zean mencium punggung tangannya. "Nggak apa-apa. Kamu berhak merasa takut. Tapi kamu juga harus tahu, rasa cinta aku ke kamu gak akan pindah ke siapa-siapa."

Marsha tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak perutnya membesar, ia merasa sangat dicintai.

Dan malam itu, ketika Marsha menempelkan telinganya ke dada Zean, ia bisa mendengar detak jantung suaminya pelan tapi pasti, tetap untuknya, hanya untuknya.

To Be Continued...

Sejauh ini gimana kelanjutan dari cerita first love S2 ini, kalian suka gaa, maaf ya klo masih ga sesuai ekspektasi kalian.

JANGAN LUPA VOTENYA

First Love (ZeeSha)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang