Sudah memasuki usia kehamilan delapan bulan, perut Marsha kini terlihat besar dan bulat sempurna. Setiap kali Zean melihat perut itu, hatinya seperti ditarik ke arah yang tak bisa dijelaskan campuran rasa kagum, sayang, dan takut. Ia masih sering terbangun di tengah malam hanya untuk memastikan Marsha dan bayi mereka baik-baik saja.
Malam itu, mereka sedang duduk santai di balkon rumah, angin pelan meniup rambut Marsha yang kini lebih panjang karena jarang ke salon. Zean menyelimuti kaki istrinya dengan selimut tipis.
“Bayinya gerak-gerak lagi?” tanya Zean sambil meletakkan tangannya di perut Marsha.
“Iya. Tadi pas kamu belum pulang, dia nendang-nendang terus. Kayak tahu kamu belum di rumah,” jawab Marsha sambil tersenyum.
Zean menunduk, mencium perut istrinya penuh sayang. “Papa pulang kok, Nak. Tenang aja, ya. Jangan bikin Mama capek.”
Marsha tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. Entah karena hormon atau karena hatinya benar-benar penuh.
“Aku takut nanti nggak bisa jadi ibu yang baik,” lirih Marsha.
Zean menoleh cepat, menatapnya dalam. “Kenapa ngomong gitu?”
“Karena aku ngerasa belum siap. Kadang aku masih mudah marah, belum sabaran. Apalagi kemarin aku sempat cemburu nggak jelas sama Dira. Kalau aku udah jadi ibu, aku nggak bisa sembarangan begini kan, Mas?”
Zean menggenggam tangan Marsha erat. “Sayang, semua ibu itu belajar. Nggak ada yang langsung ahli. Tapi kamu itu… kamu udah jadi ibu sejak hari kamu tahu kamu hamil. Kamu jaga dia, kamu tahan semua rasa nggak nyaman, kamu masih sempat senyum walau badanmu pegal-pegal tiap hari. Kamu luar biasa, Sha.”
Air mata Marsha mengalir pelan. Ia menatap mata Zean yang hangat, lalu mengangguk.
“Kamu capek nggak?” tanya Marsha pelan.
“Capek,” jawab Zean jujur. “Tapi capeknya hilang tiap lihat kamu sama dia.”
Marsha meletakkan kepalanya di pundak Zean. Suara jangkrik malam itu jadi latar bagi keheningan yang penuh rasa.
---
Suatu sore, Marsha sedang duduk sendirian di ruang tengah. Ia memegang album foto pernikahan mereka sambil sesekali mengusap perutnya. Pikirannya melayang-layang. Ia merindukan masa-masa mereka pacaran waktu masa sekolah dulu, obrolan larut malam, kejutan-kejutan kecil dari Zean yang kini semakin jarang.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Zean masuk dengan tergesa, membawa beberapa kantong belanja. Ia tampak berkeringat, tapi matanya berbinar.
“Kamu ngapain bawa banyak banget gitu?” tanya Marsha.
Zean meletakkan kantong-kantong itu di meja. “Ini boneka-boneka buat si bayi. Terus aku beliin kamu baju tidur yang lucu, terus ada cemilan yang kamu suka.”
Marsha mengerutkan dahi. “Kamu pulang cepat cuma buat ini?”
Zean tersenyum lebar. “Iya. Aku tahu kamu selalu bosan di rumah, jadi aku pikir kita bisa bikin suasana lebih menyenangkan. Malam ini kita nonton film bareng, pakai piyama baru, makan cemilan, terus main tebak-tebakan kayak dulu.”
Marsha menatapnya lama. Ia tak bisa menahan senyumnya yang merekah. “Kamu romantis banget.”
“Baru sadar?” Zean mengedip.
Malam itu, seperti yang dijanjikan, mereka duduk berdua di sofa dengan selimut besar. Marsha mengenakan piyama biru muda dengan motif bintang-bintang kecil. Zean memakaikan kaus oversized miliknya yang ia tahu disukai Marsha karena paling nyaman.
Mereka menonton film komedi romantis favorit Marsha sambil tertawa dan sesekali memakan popcorn.
Di tengah film, Zean menatap perut Marsha. “Sha…”
“Hmm?”
“dedek diam aja ya, anteng dia.” ucapnya sambil mengelus lembut perut istrinya itu
Marsha tersenyum,"kalo ada papanya dia anteng, kalo ga ada papanya mah, gabisa diem, nendang-nendang terus"
Namun disaat mereka asik-asik menonton tiba-tiba saja
Marsha mendadak menangis. Zean yang panik langsung mengusap pipinya. “Kamu kenapa?”
“Karena aku bahagia banget, Mas… aku nggak nyangka pernikahan kita bakal sampai sejauh ini. Dulu kita bahkan saling dingin, sekarang kita duduk di sini, nungguin anak bareng…”
Zean memeluknya pelan. “Ini baru awal, Sayang. Masih banyak cerita kita nanti. Begitu dia lahir, aku janji aku akan bantu bangun tengah malam, bantu ganti popok, nyuapin bubur, semua. Kamu nggak sendirian.”
Marsha tertawa kecil sambil menyeka air matanya. “Jangan cuma janji.”
“Kalau aku bohong, kamu boleh coret alisku pakai spidol permanen.”
“Deal!”
---
Beberapa hari kemudian, Marsha mendapat kejutan kecil dari Zean yang membuatnya benar-benar meleleh. Saat ia bangun dari tidur siang, Marsha menemukan sebuah buku catatan kecil di nakas sebelah ranjang. Di halaman depan, tertulis:
Untuk Marsha, Istriku, Ibu dari anak kita.
Marsha membuka halaman pertama dan mendapati tulisan tangan Zean:
"Hari ini kamu marah karena aku lupa nyalain mesin cuci. Tapi setelah itu kamu tetap masakin aku sup ayam. Aku tahu kamu marah bukan karena cucian, tapi karena kamu lelah dan ingin dimengerti. Terima kasih sudah tetap memilih aku walau aku kadang nggak peka."
Ia membuka halaman lain:
"Hari ini kamu bilang kamu merasa jelek. Tapi aku lihat kamu cantik sekali waktu kamu mengikat rambutmu dan berbicara ke perutmu dengan lembut. Kamu cantik, Marsha. Kamu luar biasa."
Marsha menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ia tak tahu Zean menulis semua ini diam-diam selama mereka menikah.
Saat itu Zean masuk ke kamar sambil membawa segelas susu hangat.
“Baca ya?” tanyanya sambil duduk di tepi ranjang.
Marsha hanya mengangguk sambil memeluk buku itu erat. “Kamu tuh manusia langka, Mas Zean.”
“Aku cuma manusia yang beruntung nikah sama kamu.”
Marsha menepuk tempat di sebelahnya. Zean duduk, dan mereka berdua bersandar dalam keheningan yang penuh kasih.
---
Satu malam, ketika mereka sedang tidur, Marsha terbangun dengan napas tersengal. Zean yang refleks langsung bangun dan menyalakan lampu.
“Kamu kenapa?”
“Perutku keras banget. Tapi cuma sebentar, terus reda. Kayak kontraksi palsu…” Marsha berusaha duduk.
Zean langsung membantu mengatur posisi bantal. Ia menyentuh perut Marsha dengan hati-hati. “Masih sakit?”
“Udah mendingan.”
Zean duduk di sisi ranjang sambil memegangi tangan Marsha. “Kita makin dekat ke hari itu, ya?”
Marsha mengangguk. “Aku deg-degan.”
“Aku juga. Tapi apapun yang terjadi, kita hadapi sama-sama.”
Malam itu mereka tidur dengan saling berpegangan tangan. Mereka tahu, sebentar lagi hidup mereka akan berubah selamanya. Tapi mereka juga tahu, selama mereka berdua tetap saling menggenggam, semua akan baik-baik saja.
To Be Continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (ZeeSha)
Romansaga pandai buat deskripsi, jadi kalo kepo baca aja, bxg! Cerita ini hanya memfokuskan pada Zee Dan Marsha! Jangan lupa vote nya kalo kalian suka sama ceritanya 😊 Ini cerita wp pertama yang author buat, jadi mohon maaf kalo ceritanya agak berantakan...
