Hujan rintik mengguyur kaca jendela saat Marsha menatap ke luar, membelai perutnya yang semakin berat. Usia kandungannya kini delapan bulan lebih dua minggu. Rasanya setiap langkah seperti menenteng dua ember penuh air di perut. Tapi setiap kali bayi di dalamnya menendang lembut, lelah itu seakan lenyap.
"Ayah lagi di kantor, Nak," gumam Marsha pelan, mengusap perutnya. "Tapi dia janji cepat pulang, kok. Kita tunggu sama-sama, ya."
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Zean.
> On the way home. Mau dibawain makanan apa?
Marsha tersenyum. Ia tak membalas dulu, hanya menikmati fakta bahwa suaminya selalu memastikan ia nyaman, bahkan di tengah kesibukan.
Namun, saat Zean pulang, ia langsung menemukan Marsha duduk termenung di ruang tengah, wajahnya sedikit pucat.
"Sha?" Zean langsung menghampiri, menaruh kantong makanan di meja. "Kamu kenapa? Bayinya?"
Marsha menoleh pelan. "Tadi sempat kencang banget. Mules kayak nyeri haid, terus reda."
Zean langsung panik. "Kita ke rumah sakit sekarang."
"Enggak, Mas. Kata Bu Bidan waktu kontrol, itu bisa kontraksi palsu. Kalau belum rutin dan belum keluar lendir darah, belum waktunya."
Zean menghela napas lega, tapi tetap duduk di sebelah Marsha sambil mengelus perutnya. "Kalau sekali lagi begitu, kita langsung cek, ya. Aku gak mau ambil risiko."
Marsha mengangguk. "Iya..."
Mereka makan malam berdua dengan tenang, tapi suasana hati Marsha sedang tak karuan. Ia mulai mudah menangis, mudah khawatir, dan mulai takut menghadapi persalinan. Ketakutan itu tumbuh diam-diam, walau ia berusaha menyembunyikannya dari Zean.
---
Beberapa hari kemudian, Marsha mulai sering mimpi buruk. Salah satunya, ia bermimpi melahirkan tapi tak sempat melihat bayinya. Ia terbangun dengan tubuh berkeringat dan mata sembab. Zean langsung terbangun juga.
"Kamu mimpi lagi?"
Marsha mengangguk sambil memeluk bantal.
"Sayang, denger aku. Gak ada yang akan terjadi ke kamu atau anak kita. Aku pastikan semua aman. Dokter bilang kondisi kamu kuat, bayinya juga aktif. Kamu gak sendiri, Sha."
Marsha menunduk, air matanya jatuh ke bantal. "Aku cuma takut... kalau nanti aku gagal jadi ibu. Atau aku gak cukup baik buat dia..."
Zean memeluk Marsha erat-erat dari belakang. "Aku tahu kamu baik. Bahkan sebelum dia lahir, kamu udah jadi ibu terbaik buat dia. Semua ketakutan itu wajar. Tapi kita bisa lewati sama-sama. Aku selalu di sini."
Tangis Marsha pun pecah. Tapi kali ini bukan karena takut. Karena akhirnya, di tengah ketakutan itu, ia merasa sangat dicintai.
---
Beberapa hari setelah itu, keluarga mulai berdatangan. Indah dan Oniel, orangtua Marsha, datang dari Bandung dan menetap di rumah mereka untuk membantu menjelang kelahiran. Shani dan Gracio, orangtua Zean, juga sering bolak-balik membawa makanan dan keperluan bayi.
Suatu siang, Marsha duduk di taman belakang rumah sambil menjemur baju-baju bayi mungil yang baru selesai dicuci. Zean baru selesai rapat daring dari rumah dan langsung menghampiri.
"Lucu-lucu ya bajunya," kata Zean sambil mengangkat satu bodysuit kecil bergambar singa.
"Ini yang kamu pilih waktu kita ke baby shop bulan lalu," kata Marsha.
Zean tersenyum, lalu duduk di sampingnya. "Sha... aku pengin minta maaf soal satu hal."
Marsha menoleh, bingung. "Tentang apa?"
"Soal Dira. Aku tahu kamu sempat cemburu, dan aku baru sadar aku mungkin nggak cukup menjelaskan semuanya."
Marsha diam sebentar, lalu mengangguk. "Aku tahu kalian profesional. Tapi waktu itu aku lagi sensitif banget. Dan aku ngerasa... aku bukan prioritas kamu lagi."
Zean langsung meraih tangan Marsha. "Kamu selalu prioritasku. Aku cuma nggak peka. Tapi aku janji, sekarang dan nanti, kamu dan anak kita yang paling utama."
Marsha tersenyum kecil. "Aku juga minta maaf. Kadang aku suka marah nggak jelas, atau terlalu drama..."
"Ya itu hormon. Tapi kamu tetap manis," goda Zean.
Marsha mendorong pelan bahunya, lalu tertawa. "Gombal."
"Kalo aku bohong, semoga besok aku disuruh bersihin pup bayi setiap hari," jawab Zean dramatis.
"Siap-siap aja!"
---
Malam itu, saat rumah sudah tenang, Marsha dan Zean duduk di kamar bayi yang sudah mereka siapkan. Dindingnya berwarna hijau mint, dengan wallpaper motif awan. Di sudut ruangan ada boks bayi yang sudah dihias rapi.
"Aku masih gak nyangka, kita bakal jadi orang tua," gumam Zean.
"Dulu kamu bahkan takut pegang bayi sepupumu yang baru lahir," kata Marsha geli.
Zean tertawa. "Sekarang aku siap gendong, meski tanganku bakal kaku."
Marsha menyandarkan kepalanya di bahu Zean. "Mas..."
"Ya?"
"Kalau nanti aku teriak-teriak di ruang bersalin, jangan panik, ya."
Zean menoleh cepat. "Aku udah siap diteriakin, digigit, bahkan dilempar kalau perlu."
Marsha tergelak. "Gak lebay juga, Mas..."
Mereka duduk lama dalam diam. Hanya suara jam dinding dan detak jantung yang terdengar. Malam itu, mereka tahu waktu mereka tinggal berdua hanya tinggal hitungan hari
To Be Continued...
Maaf bab kali ini cukup pendek, cuman 700 an kata, kemungkinan beberapa bab lagi cerita bakalan selesai.
Jangan pelit VOTENYA dong
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (ZeeSha)
Roman d'amourga pandai buat deskripsi, jadi kalo kepo baca aja, bxg! Cerita ini hanya memfokuskan pada Zee Dan Marsha! Jangan lupa vote nya kalo kalian suka sama ceritanya 😊 Ini cerita wp pertama yang author buat, jadi mohon maaf kalo ceritanya agak berantakan...
