Minggu itu berlalu dengan tenang dan penuh kehangatan. Marsha semakin terbiasa dengan ritme barunya sebagai ibu hamil lima bulan. Perutnya yang kian membesar membuat gerakannya terbatas, namun ia selalu berusaha tetap ceria dan aktif. Zean, seperti biasa, selalu berada di sisinya. Bahkan sesekali ia menolak pekerjaan luar kota demi bisa pulang lebih cepat dan memastikan istrinya tidak kekurangan perhatian.
Hari itu adalah hari Sabtu, dan mereka tidak memiliki jadwal khusus. Udara pagi terasa sejuk, dengan matahari yang malu-malu muncul dari balik awan. Marsha duduk di balkon rumah, mengenakan daster panjang bermotif bunga kecil dengan rambut yang diikat seadanya. Tangannya memegang cangkir teh hangat, sementara perutnya sesekali ia elus lembut.
Tak lama kemudian, Zean muncul dari dalam rumah, mengenakan kaos putih polos dan celana pendek santai. Ia membawa semangkuk kecil potongan buah yang sudah ia siapkan sendiri.
"Buah dulu ya sebelum sarapan berat," katanya sambil duduk di sebelah Marsha.
Marsha melirik dan tersenyum. "Pagi-pagi udah romantis aja. Emang dedek yang ngidam atau papanya sih?"
Zean tertawa kecil. "Papanya ngidam perhatian mamanya terus."
Marsha hanya menggeleng pelan. Ia tahu betul bahwa suaminya tidak akan berhenti menggoda, terutama sejak ia hamil. Sifat Zean yang kini lebih lembut dan perhatian membuat hati Marsha kerap meleleh, bahkan tanpa ia sadari.
Setelah menikmati buah bersama, mereka memutuskan untuk jalan pagi sebentar di sekitar kompleks perumahan. Zean menggenggam tangan Marsha erat, seakan takut istrinya lepas dari genggamannya. Sesekali mereka berhenti untuk menyapa tetangga atau melihat anak-anak kecil bermain sepeda.
Di tengah perjalanan, Marsha menunjuk ke sebuah toko bayi yang baru dibuka beberapa blok dari rumah mereka. Etalasenya dipenuhi baju bayi mungil berwarna pastel, mainan edukatif, dan perlengkapan bayi lainnya.
"Mas, itu toko bayi baru ya? Kok aku baru liat?" tanya Marsha.
"Iya, aku juga baru liat kemarin pas pulang dari minimarket. Mau mampir?" tawar Zean.
Marsha mengangguk pelan dengan mata yang berbinar.
Mereka masuk ke dalam toko, dan disambut harum lembut bedak bayi. Marsha langsung menuju ke rak pakaian bayi dan mengambil satu set romper warna putih dengan motif bintang kecil. Tangannya membelai lembut kain itu, seolah membayangkan tubuh mungil anak mereka mengenakannya.
"Gemes banget ya mas..." ucap Marsha, suaranya lirih.
Zean mendekat, lalu memeluknya dari belakang. "Beli aja, nanti dedek bisa pakai pas lahir nanti."
Mereka memilih beberapa pakaian bayi dan satu selimut kecil yang super lembut. Saat membayar di kasir, wajah Marsha terlihat sangat puas. Zean hanya tersenyum melihatnya bahagia.
Sesampainya di rumah, Marsha langsung mencuci baju bayi yang mereka beli. "Katanya harus dicuci dulu biar lembut dan bersih pas dipakai nanti," katanya sambil menjemur satu per satu di tali jemuran di halaman belakang.
Zean yang melihat istrinya terlalu aktif, langsung mendekat. "Sayang, istirahat dulu. Biar aku yang lanjutin," ujarnya sambil mengambil jemuran dari tangan Marsha.
"Gapapa mas, aku seneng kok," jawab Marsha.
"Tapi kamu juga harus jaga tenaga. Nanti malam kita ada tamu lho," kata Zean.
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (ZeeSha)
Romancega pandai buat deskripsi, jadi kalo kepo baca aja, bxg! Cerita ini hanya memfokuskan pada Zee Dan Marsha! Jangan lupa vote nya kalo kalian suka sama ceritanya 😊 Ini cerita wp pertama yang author buat, jadi mohon maaf kalo ceritanya agak berantakan...
