Setelah sarapan yang sederhana namun penuh kehangatan, Zean dan Marsha bersiap-siap untuk pergi berbelanja. Zean membawakan tas belanja, sementara Marsha hanya membawa dompet kecil dan botol air minum. Dia tahu suaminya pasti akan melarangnya membawa barang berat.
Sepanjang perjalanan menuju supermarket, mereka tidak berhenti mengobrol, tertawa kecil, dan kadang hanya saling pandang lewat kaca spion mobil.
"Kamu udah mikirin nama buat anak kita nanti, ga sha?" tanya Zean tiba-tiba, memecah keheningan.
Marsha menoleh, matanya membulat pelan, "Belum sih... Tapi kamu udah?"
Zean tersenyum tipis, tangannya tetap memegang kemudi dengan tenang. "Ada sih beberapa nama tapi belum pasti juga, lihat nanti aja deh"
Marsha mengangguk-angguk pelan. "Kasih tau aku ya kalo udh pasti nanti"
"Iyaa sayang pasti ko, aku kan juga harus dengan persetujuan kamu juga"
Sesampainya di supermarket, Zean langsung mengambil keranjang belanja sambil menggandeng tangan Marsha. Sekali lagi, dia memastikan istrinya tidak membawa apa-apa selain tas kecilnya.
"Yang kamu pengen hari ini apa, Sha? Mau buah-buahan segar, es krim, atau snack?" tanya Zean sambil mendorong keranjang.
"Hmmm... pengen es krim sih," jawab Marsha sambil tersenyum malu. "Tapi yang low sugar ya, biar kamu ga ngomel."
Zean tertawa kecil. "Iya deh, yang penting kamu bahagia. Tapi tetap ya, cuma satu cup kecil."
Sambil berjalan menyusuri lorong demi lorong, mereka berbelanja bahan makanan dan keperluan rumah tangga. Tidak jarang Zean memasukkan barang-barang tambahan yang dia tahu disukai istrinya, seperti yoghurt favorit Marsha atau biskuit khusus ibu hamil.
Sesekali Marsha menyentuh perutnya pelan, dan Zean selalu memperhatikan setiap gerakan itu dengan penuh perhatian.
"Capek, Sha?" tanya Zean saat mereka hampir selesai berbelanja.
"Enggak kok, mas. Cuma si dedek lagi gerak-gerak lucu gitu," jawab Marsha sambil tersenyum.
Zean menghentikan kereta belanja, lalu jongkok sedikit dan menempelkan telinganya ke perut Marsha. Orang-orang yang lewat menoleh sebentar, tapi Zean tidak peduli.
"Halo, dedek. Papa di sini," bisiknya pelan. "Jangan nakal ya, jangan bikin mama capek."
Marsha hanya tertawa geli, tangannya membelai rambut Zean yang masih menempel di perutnya.
Setelah selesai berbelanja dan membayar, mereka kembali ke mobil. Di sepanjang perjalanan pulang, Marsha tertidur sebentar, mungkin karena kelelahan. Zean memperhatikan wajah istrinya dari samping, senyumnya tak pernah lepas, ketika memandangi wajah istrinya yang menurut itu salah satu ciptaan Tuhan yang sempurna.
Sesampainya di rumah, Zean membiarkan Marsha duduk di sofa sementara ia membereskan belanjaan ke dapur. Ia tak pernah membiarkan Marsha mengangkat barang-barang, apalagi sejak usia kandungannya makin besar.
Tak lama kemudian, Marsha bangun dari duduknya dan menghampiri Zean di dapur.
"Oh iya Mas, nanti sore temenin aku ke dokter ya. Kan jadwal kontrol bulanan," katanya pelan.
Zean langsung menoleh dan mengangguk. "Iya, Sha. Emang kamu kira aku bakal lupa? Aku udah atur jadwal dari minggu lalu kok."
Marsha tersenyum bahagia. Hatinya hangat, merasa sangat dicintai dan dijaga.
Sore itu, mereka berangkat ke rumah sakit untuk kontrol kandungan. Dokter menyambut mereka dengan ramah, seperti biasa.
Saat proses USG dimulai, Zean menggenggam tangan Marsha erat. Di layar terlihat sosok kecil yang tengah aktif bergerak.
"Bayinya sehat, perkembangannya sangat baik. Berat dan panjangnya juga sesuai usia," ujar dokter sambil tersenyum.
Marsha tersenyum lega, dan Zean menatap layar USG dengan mata berkaca-kaca. Ini bukan pertama kalinya mereka melihat bayinya, tapi entah kenapa setiap kali selalu terasa seperti pertama.
"Dia gerak-gerak terus ya, dok," komentar Zean.
Dokter tertawa kecil. "Iya, aktif banget. Tapi itu bagus, tandanya sehat."
Setelah selesai kontrol dan menerima vitamin tambahan, mereka kembali ke rumah dengan perasaan lega dan bahagia.
Malam harinya, mereka duduk berdua di kamar, di atas tempat tidur.
Malam itu ditutup dengan pelukan hangat di ranjang,dengan Zee yang setia memeluk perut buncit istrinya itu
---
Beberapa Hari Kemudian
Hari-hari berlalu dengan cepat. Kehamilan Marsha semakin terlihat jelas. Perutnya makin membesar dan kadang terasa berat, tapi Zean selalu ada di sisinya.
Suatu pagi, Marsha bangun lebih dulu dari biasanya. Ia turun pelan-pelan ke dapur dan berniat membuatkan sarapan untuk Zean. Walaupun Zean selalu melarangnya memasak sendirian, hari ini Marsha ingin memberikan kejutan kecil.
Saat Zean terbangun dan tidak menemukan Marsha di sampingnya, ia panik sejenak. Ia langsung turun ke bawah, dan benar saja, ia menemukan Marsha di dapur sedang mengaduk adonan pancake.
"Sha! Aduh, aku kira kamu kenapa," ucap Zean sambil menghampiri.
Marsha menoleh, tersenyum lebar. "Aku pengen bikin sarapan buat kamu hari ini."
Zean menghela napas, lalu memeluk Marsha dari belakang. "Sayang... aku senang kamu perhatian, tapi kamu juga harus jagain diri. Kamu tuh lagi bawa dua nyawa sekarang."
Marsha hanya mengangguk, lalu menoleh sedikit dan mencium pipi suaminya. "Iya, maaf ya. Tapi aku cuma mau kamu tahu kalau aku juga bisa bikin kamu bahagia dengan cara aku."
Zean tersenyum, lalu membantunya menyelesaikan sarapan.
Hari itu, mereka menikmati pancake buatan Marsha di balkon rumah, sambil menikmati matahari pagi dan secangkir teh hangat. Dunia terasa lambat, dan itu yang mereka suka. Waktu berjalan pelan, tapi penuh makna.
Zean menyentuh perut Marsha pelan. "Aku gak sabar lihat dedek lahir. Tapi di sisi lain... aku takut juga."
"Takut kenapa, mas?" tanya Marsha lembut.
"Takut aku gak jadi ayah yang cukup baik. Takut aku gak bisa bahagiain kalian berdua. Tapi tiap lihat kamu, dan lihat dedek di perut kamu... aku jadi yakin. Aku akan belajar terus."
Marsha menggenggam tangan Zean erat. "Kamu sudah jadi ayah terbaik sejak pertama tahu aku hamil. Kamu jagain aku setiap hari, kamu ngurangin kerjaan demi temenin aku... Aku gak minta apa-apa lagi. Cukup kamu ada."
Mata Zean memerah, tapi ia hanya menarik Marsha ke pelukannya. "Aku janji, aku bakal ada terus. Buat kamu... dan buat anak kita."
To Be Continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (ZeeSha)
Romancega pandai buat deskripsi, jadi kalo kepo baca aja, bxg! Cerita ini hanya memfokuskan pada Zee Dan Marsha! Jangan lupa vote nya kalo kalian suka sama ceritanya 😊 Ini cerita wp pertama yang author buat, jadi mohon maaf kalo ceritanya agak berantakan...
