35 [S2]

748 58 2
                                        

Hujan rintik masih setia membasahi atap rumah saat pagi menjelang. Udara terasa dingin, namun suasana di rumah Zean dan Marsha tetap hangat. Marsha yang kini memasuki usia kehamilan sembilan bulan, berjalan perlahan dari kamar menuju kamar mandi. Perutnya yang besar membuat setiap gerakan menjadi lebih hati-hati. Tapi pagi itu, entah mengapa, langkahnya terasa sedikit goyah.

Zean masih tertidur lelap di kamar, menggenggam ponsel yang semalam ia pakai untuk mencari artikel tentang cara merawat bayi baru lahir. Sejak masuk bulan kesembilan, Zean jadi lebih rajin belajar, mulai dari video persalinan, menyendawakan bayi, sampai cara menggendong yang benar.

Namun ketenangan itu seketika hancur oleh suara dug! keras dari kamar mandi. Disusul dengan suara lirih, "Zean... Mas...!"

Zean langsung terbangun, jantungnya berdebar. Ia melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.

"Marsha?!"

Marsha terduduk di lantai, wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit gemetar. Di bawah tubuhnya, air ketuban sudah menggenang.

"Mas... Air ketubanku... pecah..." lirihnya dengan suara gemetar.

Zean langsung mendekat, mengangkat tubuh Marsha dengan hati-hati. "Kita ke rumah sakit sekarang! Bertahan, Sha. Nggak apa-apa... Nggak apa-apa..." ucapnya panik sambil meraih ponsel, tas persalinan yang sudah disiapkan sejak minggu lalu, dan segera membawa Marsha ke mobil.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Zean berusaha tetap tenang, meskipun keringat dingin membasahi pelipisnya. Sesekali ia menatap Marsha lewat kaca spion sambil terus mengemudi.

"Sha, kamu kuat, ya? Kita bentar lagi sampai. tarik napas pelan-pelan, jangan panik, okee."

Marsha mengangguk lemah, menahan rasa mulas yang mulai datang bergelombang. Tangan Zean terus menggenggam tangan Marsha di atas paha, mencoba mentransfer ketenangan yang bahkan ia sendiri tidak miliki.

Sesampainya di rumah sakit, petugas langsung membawa Marsha ke ruang bersalin. Zean hanya bisa menatap pintu ruang itu tertutup di depannya, lalu terduduk di bangku tunggu dengan napas berat.

Tangannya langsung merogoh saku, mengabari, kedua orangtuanya dan kedua orangtua Marsha.

> Mama, Papa... Marsha lagi di rumah sakit, tadi jatuh di kamar mandi, air ketubannya pecah, sekarang lagi di ruang salinan, lagi di tanganin sama dokter.

Beberapa menit terasa seperti jam. Zean mondar-mandir di depan ruang bersalin, mencoba mengatur napas, mencoba menenangkan diri, padahal pikirannya sudah penuh dengan bayangan-bayangan menakutkan.

"Gimana kalau terjadi sesuatu? Gimana kalau Marsha kenapa-kenapa? Gimana kalau aku nggak cukup kuat nemenin dia?"

Pintu lift terbuka. Gracio dan Shani datang tergesa-gesa, disusul oleh Oniel dan Indah beberapa menit kemudian. Wajah mereka semua tegang.

"Gimana kondisi Marsha, sekarang, zean?" tanya Indah sambil menggenggam tangan Zean.

"Masih di dalam, Ma, di tanganin dokter" jawab Zean pelan, nyaris kehilangan suara.

Shani mengusap punggung anaknya pelan, mencoba menenangkannya. "Doa, Nak. Semua akan baik-baik saja. Marsha itu perempuan kuat. Dia pasti bisa."

Detik demi detik berlalu. Tangis bayi dari ruang bersalin lain terdengar sayup-sayup, tapi belum ada tanda dari dokter yang menangani Marsha.

Zean duduk dengan kepala menunduk, menyatukan tangan dalam doa. Dalam hatinya ia mengulang-ulang satu permohonan, "Tolong jaga Marsha... jaga anak kami..."

Hingga akhirnya, suara pintu terbuka.

"Pak Zean?"

Zean berdiri reflek. "Saya, Dok!"

Dokter perempuan itu tersenyum. "Selamat, istri Anda sudah melahirkan dengan selamat. Bayi perempuan. Mama dan anaknya dalam kondisi sehat."

Zean terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar, air matanya mengalir. "Alhamdulillah..." gumamnya lirih.

"Bolehkah saya lihat mereka?" tanyanya kemudian dengan suara bergetar.

Dokter mengangguk. "Kami sedang bersihkan bayi, sebentar lagi Anda bisa masuk ke ruang pemulihan. Istri Anda sedang istirahat, masih agak lemas, tapi dia sangat tenang saat proses persalinan. Dia hebat, Pak."

Zean mengangguk, air matanya tak berhenti mengalir meski ia tersenyum.

Beberapa menit kemudian, ia diperbolehkan masuk. Di dalam, Marsha sudah terbaring lemas dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya pucat, tapi tersenyum saat melihat Zean datang.

"Mas..."

Zean langsung menghampiri, menggenggam tangan istrinya. "Sayang... kamu hebat banget..."

Marsha menatap Zean dengan mata berkaca-kaca. "Mas mana anak kita..."

Zean mencium kening Marsha lama. "Lagi di bersihin dulu sama dokter, sabar yaa."

Tak lama, perawat datang membawa bungkusan mungil berbalut selimut putih. "Ini putri kalian," ucapnya lembut.

Zean menerima bayi itu dengan hati-hati. Matanya langsung membulat. Kulit bayi itu merah muda, dengan rambut hitam tipis, dan wajah yang begitu... mirip Marsha. Sangat mirip.

"Ya Allah... cantiknya... persis kamu, Sha," gumam Zean sambil duduk di samping ranjang.

Marsha tersenyum. "Namanya... Gracie, kan mas" tanya Marsha, mereka memberi nama itu sesuai kesepakatan mereka waktu itu

"Gracie..." Zean mengulang. "Gracie Octaviani."

Bayi mungil itu menggeliat pelan, lalu membuka sedikit matanya. Zean menunduk, menatap putrinya, dan hatinya luruh seketika. Ada cinta yang luar biasa mengalir di sana cinta pada gadis kecil yang baru saja lahir, dan pada perempuan kuat yang telah memberinya kehidupan baru.

"Aku janji akan jadi ayah terbaik buat kamu," bisiknya.

Zean mengangkat pandangannya ke arah Marsha. "Dan buat kamu juga, Sha. Terima kasih... udah berjuang."

Marsha hanya menjawab dengan senyuman lemah, lalu memejamkan matanya sejenak. Tangannya tetap menggenggam tangan Zean, hangat dan penuh cinta.

---

Beberapa jam kemudian, ruang rawat sudah dipenuhi oleh keluarga. Indah tak henti mengusap kepala Marsha sambil menahan tangis bahagia. Oniel tersenyum sambil menggendong cucu pertamanya dengan hati-hati, sementara Shani dan Gracio tak henti memuji wajah mungil si bayi yang sangat mirip Marsha kecil.

"Namanya Gracie?" tanya Shani.

Zean mengangguk. "Ya, dari kata grace. Karena dia anugerah terindah yang Tuhan beri ke kita."

Semua orang terdiam sesaat, menikmati momen itu. Momen sakral yang tak akan pernah mereka lupakan.

Dan di sudut ruangan, Zean memandangi Marsha yang tertidur sambil menggenggam jari kecil Gracie. Senyuman tipis menghiasi wajahnya.

Kini, hidup mereka tak lagi berdua. Ada cinta baru yang lahir hari ini. Dan bagi Zean, itu adalah awal dari perjalanan yang benar-benar baru sebagai suami, sebagai ayah, dan sebagai penjaga dua cinta terbesar dalam hidupnya.

To Be Continued...

Kalo masih mau lanjut jangan pelit sama vote nya  hehe

First Love (ZeeSha)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang