Happy Reading
Jangan lupa vote dan komen
*****
Hembusan napasnya berat saat langkah pertama keluar dari pesawat mendaratkan tubuh mungil itu kembali ke tanah kelahirannya. Korea menyambutnya dengan dingin yang menusuk tulang, seolah mengingatkan luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Ini musim akhir tahun, salju sudah mulai memenuhi perkarangan.
Setelah bertahun-tahun pertimbangan, di sinilah dia. Sendirian.
Jungkook berdiri diam di tengah keramaian Bandara Incheon, menatap orang-orang yang berlalu lalang dengan hati yang tak karuan. Tidak ada yang tahu kalau ia kembali. Bahkan ayahnya, Siwon, tak jadi ikut mengantarnya karena jadwal padat yang tak bisa ditinggal.
Bukan berarti Siwon melepaskan dengan mudah. Tidak. Sama sekali tidak.
Butuh waktu berminggu-minggu untuk menenangkan kepanikan ayahnya. Siwon masih trauma akan malam itu—malam saat suara tembakan merenggut anak satu-satunya. Malam saat ia pikir, Jungkook tak akan pernah bangun lagi.
"Dia sudah nggak ada, Appa... Apa lagi yang Appa khawatirkan?" ucap Jungkook waktu itu, lirih tapi tegas.
"Tapi, Nak... Semua kenangan buruk itu, semua rasa sakit, semuanya ada di sana. Kau yakin harus kembali sendiri?"
Jungkook menggenggam tangan ayahnya saat itu, menatapnya dengan mata yang sudah lebih dewasa—mata yang dulu kosong, tapi kini belajar menahan badai.
"Appa, bukankah Appa sendiri yang bilang, kita harus menyelesaikan yang kita mulai? Percaya sama Kookie, ya? Kookie akan baik-baik saja."
Dan saat ini, ia berdiri di sini. Membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih hidup. Masih berdiri, meski goyah.
Langkahnya meninggalkan bandara perlahan. Setiap hentakan di lantai terasa berat. Tapi juga terasa benar. Dia tidak lagi mencari keajaiban. Tidak menuntut jawaban. Ia hanya butuh pertemuan—meski bukan kebersamaan.
Ia tahu, rasa sakit itu belum hilang. Masih tinggal di dadanya, seperti duri yang enggan keluar. Tapi ia tidak akan kabur lagi. Sudah cukup ia lari. Sudah cukup bersembunyi.
Kali ini, Jungkook memilih untuk kembali. Bukan karena sudah sembuh—tapi karena ingin sembuh.
Ia menarik napas panjang, mencoba membungkus semua rasa takut, ragu, dan kecewa ke dalam satu tarikan dada.
"Aku akan ikhlas... Hyungie."
Satu kata itu meluncur dari bibirnya, hampir seperti doa. Lirih, tapi penuh keteguhan. Ia tak tahu apa yang akan menyambutnya nanti—penolakan, pengkhianatan, atau pelukan yang hangat.
Apa pun itu...
Ia siap.
-
Tujuh tahun.
Waktu yang panjang, cukup untuk membuat dunia berubah... dan mengubah seorang remaja menjadi pria dewasa. Tapi rasa sakit—tetap sama.
Tangan kecilnya menggenggam koper hitam dengan kuat, seakan itu satu-satunya pegangan yang ia punya. Hatinya kosong. Tak ada yang menyambut, tak ada yang menunggu. Hanya dia, sendirian.
Dan tujuan pertama saat kembali ke tanah ini... bukan rumah. Bukan tempat kenangan. Tapi makam Eomma-nya.
Perjalanan menuju pemakaman terasa seperti lorong waktu yang perlahan menusuk dadanya. Angin musim gugur yang tajam menyapa kulit pucatnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Tapi bukan itu yang membuat Jungkook menggigil.
KAMU SEDANG MEMBACA
For Taehyung (VKOOK)✅
Fiksi PenggemarWARMING (INI CERITA GANTI GENRE GS KE BL YAA, kalo ada typo mohon maaf, kalian bisa komentar) BOYS LOVE (END) Saat sebuah rahasia menjadi alasan untuk berjuang. Itulah yang Jungkook lakukan agar kembali pada 'dia'. Hidup yang tidak biasa dan dipenuh...
