Chapter 24: Thanks and Goodbye, Paman Donghae

1.4K 75 3
                                        

Jangan lupa vote dulu
Belum baca, guys ... Biar author makin semangat buat up terus.


Happy reading 💜
***

Hujan turun tanpa henti, membasahi setiap sudut kota yang sunyi. Di bawah kolong jembatan yang sepi, tempat yang bahkan para pengemis enggan singgahi, Jungkook duduk diam dengan tubuh menggigil. Bukan karena takut—tidak, rasa takut sudah mati dalam dirinya sejak lama. Tapi dingin malam, dibalut luka dan kelelahan, mengiris lebih dalam dari sekadar pisau musuh.

Ia tidak bisa pulang. Bahkan tempat persembunyian sementaranya sudah bocor. Jejaknya terbaca.

Musuhnya—orang-orang itu—sudah terlalu dekat.

Tapi Jungkook belum siap mati. Belum sekarang. Tidak sebelum ia tahu siapa dalang di balik semua ini. Siapa yang telah merenggut hidupnya satu per satu, hingga yang tersisa hanyalah dendam dan kegelapan.

Dengan tangan gemetar, ia membuka tas kecil usangnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan botol alkohol dan beberapa alat medis yang seadanya. Tangan kanannya mulai melemah karena luka yang masih basah, tapi ia tak punya pilihan. Tak ada siapapun yang bisa merawatnya. Tak ada satu pun yang tahu di mana ia berada.

Dengan satu tarikan napas, ia menyuntikkan obat penahan sakit ke lengannya yang mulai membiru. Rasa dingin cairan itu menjalar pelan, menyentuh tulang-tulangnya yang nyeri. Ia menarik jarum, lalu meraih jarum jahit.

"Sekali tarik... tahan," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya lemah, hampir tak terdengar.

Jarum itu mulai menembus kulit yang robek. Darah mengalir lambat, membasahi ujung jarum dan benangnya. Wajahnya menegang, tapi tak satu pun teriakan keluar. Hanya desahan pelan. Tubuhnya bergetar.

Selesai menjahit luka di lengannya, Jungkook mengambil kapas, menyiramnya dengan alkohol, lalu mengusap wajahnya yang penuh memar.

"Aishhh..." desisnya, kali ini lebih keras. Luka di pipi, di pelipis, dan di bawah mata—semuanya menghitam. Tapi bukan itu yang paling menyakitkan.

Yang lebih sakit adalah kenyataan bahwa ia sendiri. Bahwa dalam kejar-kejaran hidup dan mati ini, tidak ada tangan yang menggenggamnya. Tidak ada suara yang memanggil namanya dengan cemas.

Setelah selesai, Jungkook menyandarkan punggungnya pada tiang beton penyangga jembatan. Hembusan angin malam menampar wajahnya yang basah oleh air hujan dan keringat. Matanya terpejam. Tapi pikirannya tidak tenang. Hari ini gagal lagi. Dua bulan pencarian dan... tetap nihil.

Tidak ada petunjuk. Tidak ada wajah yang jelas. Tidak ada arah.

Siapa? Siapa sebenarnya yang begitu membenci dirinya sampai harus menghabisi semua yang dekat dengannya?

Ia membuka mata, tiba-tiba. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Suara? Bayangan? Atau hanya firasat?

Tidak.

Perasaan. Sebuah kecemasan mendesak dadanya. Bukan sekadar takut—ini lebih dari itu. Lebih berat. Lebih gelap.

Ia tahu rasa ini.

Ia pernah merasakannya dulu, saat peluru yang seharusnya menghancurkan dirinya, justru merobek tubuh seseorang yang dia sayangi lebih dari hidupnya sendiri.

Busan. Tujuh tahun lalu. Malam yang dingin. Darah yang menghangatkan aspal.

"Hyungie..." bisiknya pelan.

Langkahnya seketika bangkit. Tubuhnya yang penuh luka memaksa untuk bergerak. Ia berlari. Meninggalkan kolong jembatan. Menembus hujan. Menabrak angin.

Karena firasat ini bukan sekadar ketakutan.

For Taehyung (VKOOK)✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang