27. Without Reply

84 9 0
                                        

Haiii all💋

Sorry banget baru sempat up sekarang ...

Happy reading 💋

Langkah lebar Alnair terdengar nyaring di lorong rumah luas itu, diikuti langkah Mahendra yang tegap di belakangnya. Sebuah amplop cokelat yang berisi bukti penting ia genggam erat. Kebenaran harus segera dibuka. Semuanya sudah terlalu melelahkan.

"Tunggu di sini dulu," perintah Alnair saat mereka sampai di depan pintu.

Mahendra mengangguk kecil, berdiri di sisi kiri pintu. Sementara Alnair melangkah masuk.

"Malam, Kakek," sapanya dengan nada sopan.

Renaldi yang tengah fokus menatap iPad langsung mengalihkan pandangan. Ia menaruh iPad itu ke meja dan memberi isyarat pada Alnair untuk duduk.

"Ada yang ingin saya sampaikan mengenai Raden."

Mendengar nama itu, Renaldi langsung menegakkan tubuhnya. Tatapannya tajam mengarah ke amplop di tangan cucunya.

"Jelas, dia bukan anak saya sejak lahir," ucap Renaldi dingin, seolah sudah tahu arah pembicaraan.

Alnair tetap tenang meski hawa di ruangan itu terasa menekan. Ia meletakkan amplop ke atas meja dengan sikap tenang.

"Semua itu telah dimanipulasi. Oleh seseorang... dari keluarga kita sendiri."

Pernyataan itu tak mengubah ekspresi Renaldi. Ia malah menyalakan cerutu, menghembuskan asap perlahan. Kacamata yang semula bertengger di wajahnya kini ia lepas, menatap cucunya dalam-dalam.

"Kalau benar dia darah daging saya," suaranya berat, "kenapa dia tidak datang sendiri ke sini?"

Pertanyaan itu menggantung. Alnair tahu tidak semua bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, ia hanya ingin masalah ini segera berakhir. Terutama demi Reya-agar hidup gadis itu tidak lagi dijadikan alat oleh keluarga Raden Dewantara.

"Setidaknya... lihat dulu isi amplop ini."

Asap cerutu makin memenuhi ruangan, membuat napas Alnair sedikit sesak. Sudah lama ia tidak mencium aroma itu-dan kini terasa memuakkan.

"Kalau dia ingin diakui, harusnya dia datang sendiri. Saya tidak mengakui keturunan seorang pecundang."

"Kek-"

Pintu tiba-tiba terbuka keras. Alnair dan Renaldi refleks menoleh bersamaan.

Mahendra berdiri di ambang pintu, kedua tangannya mengepal kuat. Tatapannya menukik langsung ke arah Renaldi, tanpa takut sedikit pun.

"AYAH SAYA BERJUANG SEJAK KECIL UNTUK MENDAPATKAN PENGAKUAN ANDA. TAPI ANDA? ANDA SELALU MENOLAKNYA DAN LEBIH MEMILIH PERCAYA PADA WANITA ITU!"

Nafasnya memburu, dadanya naik turun.

"Dan sekarang, sudah saatnya Anda tahu... siapa yang sebenarnya busuk."

Di luar ruangan, seorang wanita paruh baya berdiri kaku. Tubuhnya tegang, wajahnya pucat. Ia menahan diri untuk tidak masuk. Jantungnya berdetak keras-pertanda semuanya akan runtuh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Alnair: He's PerfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang