"Terkadang orang akan menyadari kebaikan kita ketika kita telah pergi jauh dari hidupnya."
_Alnair Mahagra
12. Warning
Alnair yang biasanya terlihat selalu tenang kini justru terlihat begitu emosi. Rahang tegas miliknya terlihat mengeras saat berhadapan dengan Mahesa. Raut wajahnya pun terlihat begitu menahan amarah.
Mahesa berdiri dari kursi tempatnya bekerja.
"Selamat datang. Alnair Mahagra, " Mahesa nampak tersenyum tenang.
Alnair tidak suka basa-basi dan lebih memilih langsung pada intinya.
"Jangan sentuh Reya. " Alnair memberi peringatan dengan suara pelan namun penuh penekanan.
Mahesa tersenyum tipis sambil mendekat pada sepupunya itu.
"Gue ga bisa menjamin, " jawab Mahesa dengan santai seolah meremehkan peringatan Alnair.
Alnair langsung menarik kerah kemeja Mahesa. Tatapan tajam Alnair mampu membuat Mahesa sedikit terusik.
"Jangan libatkan dia. Ini masalah keluarga, " Alnair kemudian melepaskan cengkraman__ nya.
Mahesa merapikan kemejanya yang terlihat kusut karena ulah Alnair. Mahesa juga menatap Alnair tidak kalah sengit.
"Masih anggap kita keluarga? "
Alnair mengepalkan kedua tangannya berusaha agar tidak memukul lelaki di hadapannya ini.
"Saya percaya kita adalah keluarga. Tapi, setelah Ayah anda membunuh, kita bukan lagi keluarga. "
Mahesa langsung melayangkan satu pukulan keras pada Alnair. Dirinya sangat tidak terima jika Ayahnya dicap sebagai pembunuh.
"ITU SALAH RENALDI. DIA UDAH BUANG AYAH GUE."
Alnair mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"jika benar, bukan anak kandung Kakek gue?"
Mahesa diam tidak mampu menjawab.
"Mahesa. Setiap orang yang dikhianati, pasti merasa sakit dan kecewa. Begitu juga dengan Kakek Renal. "
Mahesa menunjukkan foto Renaldi sewaktu muda bersama Citra yang terlihat begitu harmonis. Orang yang berada dalam foto itu adalah orang tua dari sang Ayah. Raden Dewantara.
"Kalo benar, Ayah adalah anak kandung Renaldi? "
Alnair mulai geram dengan tingkah Mahesa yang tidak sadar diri.
"Tes DNA sudah membuktikan. "
Mahesa meremas ponselnya penuh emosi. Ia paling benci setiap kali harus sadar jika memang keluarganya tidak diakui.
"DNA itu palsu, " Mahesa masih tidak mau kalah.
Alnair berdiri dengan pembawaan tenang.
"Buktinya? "
Pertanyaan itu membuat Mahesa diam tidak bisa menjawab. Memang benar, kembalinya Alnair adalah penghalang.
"Lihat, keluarga lo pasti hancur."
Alnair maju dua langkah lebih dekat dengan Mahesa. Wajah tenang namun dengan sorot tajam. Alnair berkata begitu serius kepada sepupunya itu.
"Jangan usik gadis itu. Ibunya sudah terbunuh, oleh Ayah anda. "
Raden Dewantara pelaku penembakan sebelas tahun lalu. Pria yang mempunyai kuasa lebih itu sering disebut kebal hukum.
_______
KAMU SEDANG MEMBACA
Alnair: He's Perfect
Fiksi RemajaAlnair Mahagra. Seorang CEO muda yang memiliki banyak prestasi diusianya yang masih 26 tahun. Sejak kecil, hidupnya penuh tuntutan dari sang Kakek dan ayahnya. Didikan yang keras membentuknya menjadi pribadi yang tegas. Ketika masih duduk dibangku...
