DUA EKOR BURUNG MUNGIL

6 0 0
                                        

Dua ekor burung mungil secara rutin menghampiri jendela kamarku sewaktu pagi hadir membawa sinar matahari masuk ke lantai. Dengan tubuh mungilnya yang terlihat indah itu, suara kicauan yang mereka hasilkan ternyata begitu keras dan terkadang berisik, mengganggu tidurku yang begitu enggan membuka mata.

Dua ekor burung mungil dengan bulu berwarna hijau lembut pada dadanya dan paruh hitamnya yang runcing memanjang, tengah sibuk mendekati kaca jendela dari batang dan daun pohon jati yang hampir masuk ke dalam rumah. Kicauannya yang keras dan tingkahnya yang begitu kasar di depan cermin. Membuat aku cukup tertarik mengamatinya.

Burung mungil yang menarik perhatianku itu adalah olive-backed sunbird atau burung madu sriganti. Mereka sangatlah teritorial. Menjaga wilayahnya dari burung lainnya dan yang sejenis bahkan jika itu bayangan mereka sendiri yang ada pada kaca jendela.

Burung itu juga memiliki kepekaan yang begitu tinggi saat ada seseorang yang mencoba mendekatinya. Termasuk diriku, yang mencoba untuk mengambil gambar dari dekat tapi kedua burung itu begitu cepatnya berpindah pohon.

Selain burung itu, aku juga tak sengaja melihat belalang kayu atau woodhopper yang terbang tepat di depan mataku. Aku begitu senang setelah sekian lama tak melihat belalang yang memiliki warna yang begitu aku sukai itu. Mendadak saja, perasaan hambarku akan hidup sedikit teralihkan dengan berbagai suara burung yang terkadang bergantian masuk ke dalam kamar dengan jendela yang terbuka.

Dari tempat tidurku, aku bisa melihat langit tanpa awan dan angin sepoi dari dedaunan yang berayun dan sedikit terombang-ambing yang membuat kantuk dan rasa malas menjadi sekutu. Perasaan semacam ini, membuat aku teringat dengan buku-buku yang aku kumpulkan mengenai beragam burung, tetumbuhan, dan makhluk hidup lainnya.

Buku milik Mark Cocker yang berjudul Birders atau My Natural History dari Simon Barnes, mengingatkanku dengan diri yang lalu.

Dua burung mungil itu membuat aku sadar, bahwa aku telah kehilangan sisi lembutku akan sebuah dunia. Saat hidup tak hanya mengenai manusia dan hubungan yang ada di antaranya.  Saat segala yang muram terkadang sedikit teralihkan oleh alam yang sebenarnya begitu dekat dengan diri kita tapi terlupakan oleh hidup yang penuh tekanan atau dirasa tak lagi menghibur.

Rumah ini dan jendela lebar yang terbuka bahkan di malam hari. Seringkali memperlihatkan hal-hal yang menenangkanku. Kepak burung hantu dan suaranya yang khas. Raja udang yang lewat dengan suara kicaunya yang agak menakutkan. Atau terkadang, seekor kelelawar atau burung layang-layang tak sengaja masuk ke dalam rumah.

Suara hujan yang memantul di kaca atau kerlip bintang dan bulan yang begitu jelas terlihat saat aku sekadar terlentang di kasur dan mencoba menahan hawa panas di malam hari. Atau, sekali lagi, seekor burung madu yang datang dan pergi dengan begitu cepatnya dengan suaranya yang membuat aku sedikit tersenyum akan diri yang tak tahu lagi harus melakukan apa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 17, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SETAPAK: PERJALANAN KAKICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang