Meow - 12

560 95 21
                                        

~●○●○●~
.
.
.

Pohon mangga di belakang rumah Renjun emang ada penunggunya dari dulu. Sebelum Renjun pindah, makhluk itu udah duluan tinggal di sana. Sosoknya sih nggak ganggu yang gimana-gimana, paling cuma sesekali nyerupain orang. Korban yang paling sering diganggu biasanya Jaehyun.

​Nah, kalau Renjun? Dia mah nggak percaya, malah skeptis sama hal-hal begituan. Selama ini dia juga ngerasa nggak pernah diganggu.

​Padahal, pernah sekali. Cuma Renjunnya aja yang nggak ngeh kayaknya. Waktu itu Jaehyun lagi liburan ke luar kota sama temen-temennya. Tengah malam, Renjun bangun ke dapur buat minum. Di sana dia ngelihat ada sosok Jaehyun berdiri di dekat kompor dengan muka pucat. Dengan santainya, Renjun nanya, "Kapan pulang?" Tanpa nunggu jawaban, dia cuek aja pergi bawa air minum. Saking cueknya, dia nggak sadar kalau besoknya Jaehyun masih belum pulang ke rumah.

​Abis ngelihat penampakan tadi, Renjun nggak demam atau sawan. Dia cuma lemas dan akhirnya tumbang. Sekarang dia lagi rebahan di ruang tamu sama para "dayangnya". Posisinya di sofa, kepala Renjun di paha Jaemin, kakinya di pangkuan Jisung yang lagi makan ciki. Mark lagi kupasin buah sambil nyuapin Renjun. Di sofa tunggal, Chenle lagi makan anggur. Ternyata dia ada di rumah, lagi tidur di atas atap dalam wujud kucingnya. Haechan sama Jeno masih nggak nampak lubang hidungnya.

Para kucing di rumah itu tentu tahu soal penghuni pohon mangga. Soalnya, dalam wujud kucing, mereka bisa melihat hal-hal gaib. Tapi mereka cuma cuek, udah biasa sama hal mistis.

​"Ini rumah ada AC, lu ngapain ngipas-ngipasin Renjun?" ujar Mark, melirik Jaemin yang lagi kipasin muka Renjun pakai buku.

​"Sewot amat jadi laki," balas Jaemin.

Mark mendengus sebagai balasan, ia beralih ke Renjun.​"Setannya usir aja, Ren. Ganggu gitu bahaya," kata Mark. Renjun enggak merespon, dia lagi asyik ngunyah apel.

​"Kenapa harus diusir? Dia duluan yang tinggal di sini. Lagian dia ganggu juga ada sebabnya, kok," celetuk Chenle.

​"Kok tahu?" tanya Renjun.

​"Kan temen gue," jawab Chenle. Dia buang biji anggur, terus dilempar ke Jisung. Bikin Jisung melotot lucu ke arahnya.

​"Kok bisa temenan sama setan?" Mark heran. Walau bisa lihat, dia tetap takut. Trauma pernah digodain kuntilanak.

​"Yoi. Sering ngopi bareng, tapi gue sendiri sih ngopinya, soalnya dia enggak bisa minum," kata Chenle polos.

​Omongan Chenle bikin mereka melongo.

​"Terus, dari sekian lama, kenapa dia ganggu gue? Emang gue ngapain sampai dia marah?" tanya Renjun.

​"Dia tuh suka sama elu. Tahu enggak? Dia setiap malam duduk di pohon sambil natap jendela kamar lu. Mana senyum-senyum pula, ngeri banget," terang Chenle.

​Renjun langsung terduduk. Dia jadi merinding, masa tiap malam dia dipantau setan?

​"Jangan bercanda, lu bikin gue takut sama rumah sendiri."

​"Serius, anjir! Ngapain takut? Dia enggak bakal ganggu lagi, kok. Udah gue bilangin tadi."

​"Kalau suka kenapa ganggu?" celetuk Jaemin.

​Chenle berdehem, dia makan anggur lagi. Bikin yang lain kesal karena cowok itu ngunyahnya lama banget.

​Renjun nyodorin mangkuk ke Chenle. "Lepehin cepet! Lama amat lu ngunyah," ucapnya sewot, udah penasaran banget sama alasannya.

​Chenle pasang ekspresi mengejek sambil ngunyah cepat-cepat abis nelen dia minum bentar. "Dia ganggu Renjun karena cemburu."

​"Hah? Cemburu sama siapa?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MeowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang