Baiti terbangun dari pingsan nya dan melihat sekeliling.
"G-gue dimana?" Ucapnya sambil memegang kepalanya yg sakit.
"Bai!"
"Bai, kamu gak papa kan?" Tanya Gus Alvian.
"Gue gak papa, tapi lo siapa?" Tanya nya.
Gus Alvian menggigit bibir bawahnya, sekali lagi dia merasakan sakit di dadanya. Dia tidak menjawab pertanyaan itu, dia lebih memilih untuk bungkam.
"Ini minum dulu"
Baiti menerima segelas air itu lalu menghabiskan nya, dia sangat haus sekali.
"Bunda? Bunda mana? Bundaa...."
Gus Alvian tidak tau harus berbuat apa di saat Baiti nangis. Dia juga bingung kenapa Baiti nangis secara tiba-tiba.
"Cup cup, udah ya jangan nangis" Gus Alvian memeluk Baiti dan mengelus punggung nya agar tenang.
Bukannya tenang, malah makin kejer nangis nya. Tak berapa lama pintu ruangan terbuka dan terlihat bunda Aira dan keluarga Annisa datang.
Baiti langsung mengusap air matanya, dia menetralkan wajahnya.
"Loh udah bangun?" Bunda Aira mendekati Baiti dan memeriksa keadaan Baiti.
"Ini bunda bawakan bubur, kamu makan ya" bunda Aira memberikan sekotak bubur ayam. Dia tidak akan memberikan makanan rumah sakit ke Baiti karena dia tau Baiti tidak akan memakannya meskipun harus menahan lapar.
Baiti menggelengkan kepalanya, menolak makanan pemberian bunda nya.
"Huft...jadi kamu mau apa hm?" Tanya bunda Aira.
"Gak ada, aku mau peluk bunda aja" Baiti memeluk bunda nya dengan erat. Di saat seperti ini dia mengambil kesempatan untuk memeluk bunda nya yg jarang sekali dia peluk bahkan tidak pernah, terakhir kali dia memeluk bunda nya saat dia sakit waktu kecil.
"Bunda yg sabar ya" gumam Baiti yg hanya bisa di dengar oleh bunda aira.
Bunda Aira tertegun. Lalu dia tersenyum manis, dia tau maksud dari perkataan Baiti. Tapi dia bingung bagaimana dia bisa tau masalah itu.
Dia mengelus dengan lembut rambut Baiti yang tertutup oleh hijab instan.
"Bunda..." panggil Baiti, bunda Aira hanya berdehem saja.
"Mau martabak telor, jus alpukat sama bakso mercon" ucap Baiti sambil tersenyum lebar menampilkan gigi putih dan rapi nya.
"Nop! Bakso mercon gak boleh, nanti sakit perut kamu" bunda Aira melarang nya untuk memakan makanan yang pedas.
"Yaudah deh, ganti aja pake ayam geprek aja"
Bunda Aira menyetujui nya, toh percuma saja. Di larang pun dia akan meminta makanan pedas yg lainnya.
Belum sempat bunda Aira meminta tolong ke Annisa, Gus Alvian lebih dulu keluar dari ruangan membeli makanan yg di minta Baiti.
"Ayah mana? Abang sama adek juga kemana?" Tanya Baiti di saat bunda Aira datang dengan Fatimah dan Annisa bersama keluarga kecil nya.
"Ayah lagi kerja begitu juga abang kamu. Hani sedang pergi bersama temannya" jawab bunda aira, dia melihat ada guratan sedih di wajah anak nya.
"Owh"
"Bun, gimana bisa aku ada di sini?"
"Loh? Kamu gak ingat?"
"Enggak, terakhir kali aku ingat, aku masih di rumah Tiara sama yg lain habis pulang sekolah " jawab Baiti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Al Dan Bai
Teen FictionSeorang Gus yg dijodohkan dengan ketua geng motor. Tanpa Gus sadari bahwa geng motor itu bukanlah geng motor sembarangan. Seorang ketua geng motor yg duduk di bangku SMA hanya karena memiliki tugas dia dan sahabatnya harus kembali lagi duduk di ban...
