Annisa datang ke rumah sakit untuk menjenguk adiknya. Ia membawa 4 es krim cup atas permintaan adik nya.
Dia datang bersama sang suami. Mereka masuk ke dalam setelah mengucapkan salam.
Annisa duduk di samping brangkar, dia memberikan Baiti es krim itu.
"Makasih kak"
"Iya sama-sama"
Baiti mengeluarkan satu es krim cup itu. "Hey sini" dia memanggil keponakan nya untuk mendekat.
"Ini untuk kamu" ucap Baiti, anak tersebut dengan senang hati menerima nya.
"Telima kasih onty"
"Iya"
Anak tersebut langsung menghampiri ayah nya.
"Bang bisa bawa dia keluar di taman. Aku sama kak Nisa mau bicara empat mata" ujar Baiti, Hakim membawa anaknya keluar menuju taman rumah sakit.
"Jadi...ada apa?" Tanya Annisa.
"Bunda dan ayah... bercerai" jawab Baiti pelan
"Hah? Ah bohong kamu kan"
"Aku serius kak" Baiti menatap bola mata kakak nya, dia memberikan tatapan serius tidak main-main.
"Gak mungkin kan dek?! Kamu bohong kan? " Bentak Annisa sambil meremas kedua lengan Baiti sedikit kuat.
"Gak mungkin aku bohong kak, semua nya terjadi karena aku" Baiti sedikit meringis merasakan tekanan kuat dari tangan kakak nya.
Baiti melepaskan perlahan tangan kakak nya dari lengannya.
"Semua nya gara-gara aku kak, mereka cerai gara-gara aku. Aku tau aku salah karena menyuruh mereka cerai. Tapi aku gak mau bunda makin sengsara sama si brengsek itu" ujarnya pelan, ada nada yang sedikit ragu, takut.
Annisa menghela nafas berat.
"Hah.... Sudah aku duga akan jadi seperti ini. Ternyata hari ini tiba juga ya. Hari dimana bunda dan ayah cerai."
"Aku gak masalah Bai...tapi yang jadi masalah nya kamu gak mau bilang-bilang kalau mau ambil tindakan. Seharusnya kamu bawa aku juga, biar ada saksi yang sah buat atur perceraian. Bagaimana jika kamu kenapa-kenapa disana sama bunda? Kalian melawan ayah Bai...dia bisa berbuat sesuka hatinya"
"Buktinya aku baik-baik aja kan? Dan juga hal itu bisa terjadi kalau kakak sama bunda yang ngelawan dia. Mana berani dia ngelawan aku kak, dia tahu kalau dia bentak aku maka aku bentak balik. Jika dia mukul aku atau nampar aku maka ku balas lagi. Walaupun tadi dia nampar aku, aku gak papa. Aku sudah lelah hanya untuk membalas perbuatan nya."
Annisa memeluk adiknya dengan erat.
"Maafkan kakak dek... seharusnya aku yang melindungi kamu bukan malah sebaliknya. Aku merasa gagal jadi kakak, selama ini kamu yang selalu ngelundungi kami"
"Sutt...kamu bukan kakak yang gagal, kakak hanya belum bisa lindungi aku dan adik-adik"
"Tapi dek...aku memang gagal kan jadi kakak? Aku gak pernah bantuin kamu dalam masalah apapun, malah kamu yang bantuin aku dek. Aku merasa kayak, 'bener gak sih aku ini udah jadi kakak yang baik?' Tapi malah sebaliknya dek. Aku selalu repotin kamu"
"Kak! Udah aku bilang kalau kakak gak pernah gagal ngelindungin aku, jaga aku. Kakak udah berikan semua nya tanpa kakak sadari!" Bentak Baiti.
"Jadi... kakak jangan pernah berpikir kalau udah jadi kakak yang gagal. Kakak gak pernah gagal, yang gagal di sini adalah... ayah dan abang"
"Dek..."
Annisa mengusap air mata adiknya.
"Maaf kak...aku benar-benar gak sanggup jika mengingat nya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Al Dan Bai
Fiksi RemajaSeorang Gus yg dijodohkan dengan ketua geng motor. Tanpa Gus sadari bahwa geng motor itu bukanlah geng motor sembarangan. Seorang ketua geng motor yg duduk di bangku SMA hanya karena memiliki tugas dia dan sahabatnya harus kembali lagi duduk di ban...
